Racau Desember

Kalau berpikir seperti merangkai kata-kata di dalam kepala, aku sering berpikir apa ada tujuan dalam rangkaian kata yang kupikirkan. Kemudian secara tak sengaja, aku mulai bertanya-tanya apa ide utama dalam rangkaian kata yang kuketik, muncul di layar monitor benakku. Apa yang paling aku pikirkan?

Kalau orang bilang bahwa berpikir sebenarnya dasar yang melandasi suatu tindakan, menindak-lanjuti persepsi yang ada di dalam benak kita ── itu kurang lebih sebagai sikap responsif terhadap kenyataan yang berhasil menyita perhatian. Lantas, mengapa aku memperhatikan pikiranku sendiri? Apakah karena pikiran itu cermin yang mengeluarkan cahaya? Bagaimana bila cermin itu retak yang mengakibatkan gambaran persepsi seperti sebentang padang lapang yang kering bergelung debu?

Nah, sekarang tiba saatnya bagiku untuk menjawab pertanyaan apa yang paling aku pikirkan.  Masa depan ── mungkinkah ini yang paling aku pikirkan? Atau, benarkah ini hal yang paling menyita energi mentalku? Akhirnya, bila ini kuanggap sesuatu yang paling kupikirkan, secara simultan muncul pula pertanyaan: apa masa depan itu sesungguhnya? Dan, benarkah masa depan itu sebuah peristiwa yang beda tipis dengan saat ini? Kemudian, apa perbedaan tipis itu sendiri yang memisahkan masa depan dengan masa kini agar bisa didefinisikan sebagai masa depan. Baiklah, kiranya masa depan menyangkut suatu hal yang sedikit berbeda dengan masa kini, agaknya tak perlu berlama-lama aku memikirkannya lagi. Karena, bagiku sendiri ─ dalam pandanganku ─ masa depan itu tidaklah ada ketika wujudnya mirip sekali dengan rencana. Berarti selama ini aku disibukkan oleh kegiatan berencana. Banyak orang bilang: ketika kau berencana, maka kau bermain-main dengan keputusan. Keputusan siapa kiranya? Benarkah manusia hanya boleh berencana dan keputusan ada di tangan-Nya? Bagaimana kalau dibalik saja? Bolehkah manusia memutuskan dan Tuhan hanya berencana? Wah, sepertinya ini berbicara tentang otoritas. Jadi, apa yang paling aku pikirkan? Adakah suatu peralihan gagasan pokok yang menyebabkan aku sibuk berpikir? Sebab, ketika suatu hal sudah terlalu lama bermain-main dalam kepala, mungkin tampak membosankan hingga benak mulai mencari hal lain untuk dipikirkannya.

Baiklah kalau begitu ini pasti tentang realisasi semua yang telah dipikirkan. Tindak lanjut dari yang sudah direncanakan dengan gerak dinamis. Ups.. Tunggu dulu! Gerak dinamis? Tak ada henti walaupun barang sejenak? Yang benar saja, ini seperti dekadensi humanistik akibat perubahan wujud kemanusiawian menjadi sistem mekanistik. Aku tak mau jadi mesin! Aku mahluk tubuh! Rutinitas dan monoton seperti gir mesin yang berputar-putar karena perpindahan energi gerak dari satu gir yang lain dan tetap saja menghasilkan jumlah energi gerak yang sama.

Hahh?!? Bicara apa aku kini? Baiklah jangan dipikirkan lagi. Bertindak instingtif saja! Ups.. Tunggu dulu! Sepertinya ada pengabaian peran akal-budi. Bagaimana bisa? Insting berarti dorongan hewani untuk sekedar memenuhi kebutuhan secara langsung dengan mengendus-endus dimana makanan dan tempat aman untuk menyantapnya. Aku mahluk tubuh dan berakal-budi! Aku harus menghindari tiap tindak-tanduk yang hanya menegaskan sifat hewani diri sendiri. Makan, tumbuh, berkembang-biak, menghindari bahaya atau menyerang yang mengalihkan keadaan bahaya menjadi kekuatan bertahan secara agresif. Ah, mana mau aku seperti itu sebab terkesan buas ── menunggu, memangsa saat itu juga hanya saat itu saja. Ini kan lagi trend!

Oh, tidak, tidak..! Aku tak mau! Kalau begitu sudah saatnya aku tak mengagungkan pikiranku lagi. Sebab, kulihat banyak sekali yang diberikan pikiran berkontradiksi dengan keinginan hatiku sendiri. Sepertinya kini sudah jelas semuanya ── apa yang tidak sejalan dengan hati nurani setelah dipikirkan, ada baiknya ditinggalkan karena mengerdilkan jiwa.