Kesadaran dan Pertimbangan Nilai




Sore lembab masih mengalirkan udara dingin ketika teman kita Harpin tampak asyik bercakap-cakap bersama seorang lelaki yang menjadi lawan bicara. Tampaknya ada hal menarik yang sedang dibicarakan.

“Mengapa kau tak pernah merasa bersalah padahal semua orang menyalahkan perbuatanmu?” teman kita Harpin ditanya seketika.

“Ah, pertanyaan macam apa itu?” tampiknya cepat. Ia merasa sedang diajukan sebuah pertanyaan yang tak beralasan bagus untuk dijawab.

”Aku kira ini pertanyaan yang lazim. Ketika kau salah, maka kau harus mengakuinya,” ujar lelaki lawan bicaranya.

Ia diam sejenak. Kemudian, seakan-akan seorang yang ahli mengurai fenomena misterius, teman kita Harpin berkata dengan nada serius.

” Dengar baik-baik olehmu..”

”Aku hidup dalam sebuah dunia yang selalu ingin kuakrabi. Kau tahu maksudku? Itu berarti aku tak hidup dalam dunia pendapat orang lain di sekelilingku.”

Lalu setelah menarik napas dan menghelanya, ia melanjutkan:

”Kalau mereka menyalahkan perbuatanku berarti mereka sedang memaksakan padaku standard prilaku karya cipta mereka sendiri. Apa mereka yang menyalahkanku sadar bahwa mereka melakukan pemaksaan tanpa pertimbangan sama sekali?”

Lelaki lawan bicara mengernyitkan dahi. Sepasang alis matanya tampak hampir bertaut.

”Kau mau mengalihkan topik pembicaraan, bukan?” tanya lelaki lawan bicaranya kebingungan, “Aku tak mengerti apa maksudmu?”

”Baiklah, akan aku ulang dan terangkan sekali lagi. Biar kau paham,” ujar teman kita Harpin pula.

”Karena aku hidup dalam dunia yang kuakrabi, maka ke sanalah tujuanku. Paham?! Mudahnya begini saja... Ketika  aku diminta mengakui kesalahanku padahal aku tak pernah merasa bersalah, ketidakbersalahan itulah kesadaranku. Bila aku membelakanginya, itu berarti aku menghancurkan duniaku sendiri dan hidup dalam dunia yang dibangun oleh suasana pendapat orang-orang menyalahkanku. Kau tahu apa sebabnya?”

”Boleh aku tahu apa sebabnya?” tanya lelaki lawan bicaranya tambah bingung.

”Hahaha.. Ayolah, kau pasti tahu sebabnya... ” meledak gelak tawa absurd dari teman kita Harpin tiba-tiba.

”Sungguh aku tak tahu apa sebabnya.. Katakanlah padaku...”

”Ini disebabkan pertimbangan nilai. Dengarlah..” lagi ia berlagak mau menerangkan.

”Sewaktu mereka menyalahkan perbuatanku; mereka sedang menilai. Sama halnya ketika aku menyangkal semua tuduhan kesalahan padaku; itu berarti aku sedang mengevaluasi. Ketahuilah... Setiap orang di sekitar kita akan membuat penilaian berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Inilah yang kusebut kesadaran akan dunia sendiri! Tak lain dan tak bukan, yaitu kesadaran akan sebuah pertimbangan nilai.”

Tiba-tiba lelaki lawan bicaranya merasa tiap helai rambutnya yang semula lurus kini mengeriting seluruhnya. Lalu, ia mengusap dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. 

”Hmm... Suatu kesadaran yang timbul dari orang aneh sepertimu, tampaknya sulit untuk kupahami.”

Teman kita Harpin pun ia tinggalkan dengan dunia pertimbangan nilainya. Demikianlah kiranya bahwa yang lain dari biasa akan selalu dianggap aneh, walaupun yang biasa pun sebenarnya juga absurd ketika dipaksakan untuk dijadikan standard pedoman.


"Hidup adalah menghayati absurditas." ── Albert Camus