Kala Pelita Diri Berakhir

Iqbal berkata, "Kala pelita diri berakhir, apalah gunanya meneliti langit dalam imajinasi."

Hasrat yang terlampau besar; ia pangkal sebab yang memadamkannya.

Dalam tradisi, kita mewujud. Dalam kebiasaan, kita berwatak. Untuk memberi sifat dan arti dari tiap laku. Karenanya kita kerapkali menemukan tentang perbuatan yang tanpa makna adalah akibat tradisi dan kebiasaan tanpa nilai maknawi.

Mereduplah dan padamlah cahaya kedirian. Apalah gunanya semua ucap dan laku jadinya.

Maka dari itu, berdamai dengan diri sendiri adalah jawabannya. Ketika muncul tanya,

"Mengapa apa pun yang kulakukan tiada arti?"

"Sedangkan malam yang dingin menjatuhkan butiran embun yang dinanti kelopak bunga dan dedaunan."

Jika ingin meraih makna, ada baiknya berbenah.Jika ingin dirundung sia-sia, tetaplah menjadi anak dari kebiasaan dan tradisi tanpa makna.

Dan, malam kini telah menyampaikan tiap keluh kesah yang terdengar hingga ke 'Arsyi. Tentu bila ada upaya pada yang berjarak, berubah menjadi sangat dekat.

Tidakkah kedekatan mampu meluluskan semua permintaan?