Kabar dari Angin

Ketika malam makin mengental
seolah semua keheningan dan warna hitam berpadu hingga menebal
Angin membawa kabar dari bumi.
Ia bercerita tentang kesenangan
para penduduk bumi yang meluap dalam rahmat-Nya.

"Mereka menari dan bernyanyi riang.
Seakan tak ada apa pun lagi yang patut ditimbang!"

Gemuruh angin berkata dengan lantang.

Aduhai, mari berlupa dan biarkan keringat mengalir
sampai tiap milimeter tubuh kita kuyup dalam suka.

Para penduduk bumi larut dalam euforia!

Bulan yang tampak serupa lubang di dinding malam
heran mendengar, karena takjub ia hanya berdiam.
Namun ada beberapa kerut terlukis juga;
ia tak mampu menyembunyikan resah.

Bintang-bintang seperti jerawat batu pada pipi pualam gadis belia
mereka terpukau mendengar kisah yang dibawakan angin tadi.
Tetapi, ada beberapa kerlipnya yang menjadi pertanda
mereka ingin melempar tanya.

Angin melanjutkan kepingan ceritanya lagi.

"Wahai bulan dan bintang-gemintang, ketahuilah
Aku tahu kalian semua ingin penjelasanku.
Demikian itu watak biasa manusia.
Mereka sering lupa saat kesenangan mengurungnya."

Lalu, angin mengambil jeda sejenaknya.

"Manusia, para penduduk bumi suka berpesta
ketika kelapangan rahmat Tuhannya menerpa.
Bahkan sering juga berkata:

"Kami patut bergembira atas segala jerih payah
yang telah sekian lama kami upayakan!"

Tetapi, bila mereka disempitkan-Nya,
manusia akan sesunggukkan bersedih
mereka tumpahkan semua pedih
suara isaknya begitu lirih.

Manusia, para penduduk bumi itu,
memohon-mohon penuh sesalan.
Tiap kata-katanya, kalimatnya adalah do'a:

"Yaa, Tuhan kami..
Pedihnya kemiskinan, kesempitan ini.
Jangan dera kami dengan derita.
Lalai telah kukuh merantai.
Tiada ingat betapa besar karunia-Mu"

Tiba-tiba tiap permukaan bumi
dilapisi sajadah-sajadah basah.