Jangan Kira Aku Mau Berbalik Arah

misal saja jalan kutempuh
berbatu-batu sebesar gajah bengkak melenguh
atau ada gunung-gunung saling berebutan mencapai langit
hingga cahaya matahari terhalang
kelam coba-coba menumpulkan tajam mataku memandang
siapa bilang aku mau berbalik arah?

bebatuan bertubuh gajah bengkak
gunung-gunung angkuh menjulang
lebih baik kubelah-belah ── semoga jiwaku tetap meradang
sudah kuputuskan
sebelum senja yang tampil cantik
dengan semburat indah ronanya coba-coba memantik
agar diri terpaku dalam angan ── oh, tidak, aku takkan tertawan!

makanya aku melawan,
merangkak-rangkak
mencapai puncak
siapa bilang dadaku tak sesak?

aku pengelana
berjiwa liar
berguru pada alam luar
di luar diriku yang setia mengajar
aku yang memilih jalan kelana!

ah, kemarau
sudah berlalu
mana bisa menenggelamkanku
dalam galau
diam terpaku.

ah, pisau-pisau dingin
hujan yang menguliti
mana bisa meredam ingin
menahan langkahku hingga terhenti.

ah, malam
pekatnya yang terlalu hitam
siapa bilang hasratku dibuatnya padam
pasrah dan tinggal dalam diam?
oh, aku masih tegak biarpun sekujur tubuhku lebam.

maju aku menerjang
selalu dalam azam meradang
sebab diriku pengelana penantang.