Interpretasi Empat Komponen Komunikasi Susastra M.H Abrams


Sastra biasanya dipahami secara umum sebagai seni berbahasa indah, mengolah pikir dan rasa melalui daya kreatif imajinasi intellektual menjadi sebuah karya yang dihidangkan kepada penikmat sastra sebagai makanan ruhani yang menghibur dan mendidik. Dalam karya sastra, maka terjadi perpindahan rasa dan pikiran yang awalnya ada di dalam diri pengarang karya sastra kepada sidang pembacanya. Terjadi sebuah dialog yang intens, tercipta suatu komunikasi yang menyampaikan pesan, kesan-kesan tertentu dan pengalaman tersendiri yang dialami diri penulis langsung ke dalam diri pembaca karya sastra. Berdasarkan hal inilah timbul pula asumsi bahwa sastra dan karya sastra adalah jembatan penghubung antara dunia pengarang menuju dunia pembacanya yang bersifat komunikatif. 

Dalam konteks ini, M.H Abrams (1976) sebagai seorang ahli semiotika mengemukakan tentang empat komponen khusus yang menandai sebuah karya sastra yang bersifat komunikatif tadi.

1. Karya ─ Komponen pertama model komunikasi susastra ini menimbulkan watak tipikal sebuah karya sastra yang dipandang sebagai "dunia otonom". Dalam artian, sebuah karya sastra bisa terlepas dari pengaruh penulisnya, latar belakang sosial-budaya yang menghidupkannya. Karya sastra dipandang sebagai objek yang mandiri. Kemandiriannya ini ditandai dengan hadirnya struktur verbal otonom (penggunaan perangkat bahasa yang diorganisasikan secara khusus untuk menyajikan realitas kebenaran fiksinya baik secara sintaksis mau pun semantik). Maka, karya sastra terjalin dalam koherensi intern yang menegaskan eksistensi realitas fiksional setelah melewati aktivitas imajiner kreatif penulis yang menciptakannya. Karya sastra yang bersifat otonom ini akhirnya menimbulkan ancangan objektif, yakni karya sastra adalah objek tersendiri dengan sifat komunikatifnya yang ingin menyampaikan realitas kedua hasil olah imajinasi intelektual penulis.

2. Penulis ─ Komponen kedua adalah penulis dengan seluruh sikap, kesadaran psikologisnya saat mencipta, wawasan budaya, tanggapan pribadinya atas persoalan-persoalan mendasar kehidupan. Bila ingin mengkaji bagaimana sebuah karya sastra ditinjau dari kedirian penulis, maka arah penelitiannya tentu pada aspek cara pengungkapan. Dalam pada itu, tentu ini akan menyentuh pembahasan ancangan ekspresif, yaitu bagaimana dunia transformasi penulis sebagai pribadi yang mengarang / menerjemahkan kembali dalam karyanya tentang apa yang telah ia alami, apa motif pribadinya sehubungan dengan latar penciptaan karya yang ia tulis.

3. Semesta ─ Komponen ini merujuk pada aspek referensial, dan menimbulkan ancangan mimetik (peniruan kembali keadaan sebenarnya di kehidupan nyata yang digambarkan melalui penyajian realitas fiksional karya sastra). Ketika ingin menelaah sebuah karya sastra mengkomunikasikan kepada pembaca / penikmat sastra tentang pengalaman tersendiri, yang dituangkan melalui "komponen semesta" berarti hal ini berbicara tentang hubungan karya sastra yang memiliki dunia rekaan dengan kenyataan fiksionalnya dengan dunia nyata sebagai sumur ilham penciptaan karya sastra itu sendiri.

4. Pembaca ─ Komponen ini menentukan eksistensi sebuah karya sastra. Pembaca dipandang sebagai unsur penting yang menyambut, mengapresiasi, menghayati dan memaknai sebuah karya sastra. Dalam model komunikasi susastra ini, pembaca berperan sebagai reseptor /penerima pesan-pesan yang disampaikan penulis melalui karyanya. Tentu saja sebuah karya mendapat pengakuan keberadaannya setelah sampai kepada sidang pembaca. Lalu, kita boleh mengatakan bahwa tanpa keterlibatan pembaca, karya sastra hanyalah "artefak" (benda seni) yang terabaikan dan beku dalam selimut keindahan estetikanya sendiri. Pembaca yang mendapat peran penting yakni sebagai penafsir. Artinya, keberadaan pembaca lah yang menciptakan pertalian antara teks (karya sastra), penulis sastra dan interteks (perpindahan pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis melalui penafsiran khalayak sastranya).

Demikian ulasan awal yang teramat singkat dari saya sehubungan dengan model komunikasi susastra dari M.H Abrams. Harapan saya semoga ini memberikan manfaat, dan membuka wacana yang lebih luas lagi kepada Anda semua sehubungan dengan kajian cara penyampaian gagasan yang komunikatif dari sastra itu sendiri.


Referensi: Abrams, M.H. 1976. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. London - Oxford New York: Oxford University Press.