Kumpulan Cerpenku

1. Foto Bernapas


Siang itu Lia baru saja tiba di rumah. Ia melempar tas sekolahnya ke atas spring bed, lalu merebahkan diri.

”Leganya… Tak kusangka sama sekali, aku bisa menjalankan tugas yang dipercayakan padaku dengan baik,” gumamnya sambil memandang langit-langit kamar.

Ingatan kemudian melayang pada peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu ketika ia ditanyai wali kelasnya, Bu Sri.

”Angelia Kesuma..” panggil guru muda yang penuh perhatian itu padanya, ”Kemari sebentar..” Lia bangkit dari duduknya. Maju ke depan kelas, menuju meja Bu Sri di pojok kanan. Suasana yang dari tadi ramai dengan celotehan teman-teman sekelasnya, tiba-tiba menjadi hening untuk beberapa saat. Semua mata memandang searah menuju ke diri seorang dara cantik yang kini terlihat agak kurusan itu.

”Kamu sanggup, nak, jadi petugas pembaca naskah untuk upacara peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober?” begitu ia ditanya saat berhadap-hadapan di depan wali kelasnya. Teman-temannya tampak saling berbisik-bisik. Suara Bu Sri cukup kuat tertangkap telinga-telinga yang memasati di ruangan itu.

”Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugas….”

Belum sempat ia melanjutkan, Bu Sri langsung menanggapinya, ”Tapi, kan, kamu baru sembuh setelah sakit hampir sebulan lamanya. Apa lagi kamu pulih baru semingguan ini. Terus terang Ibu juga bingung mau mempercayakan kepada siapa lagi di antara kalian untuk tugas pembacaan teks Sumpah Pemuda ini. Di dalam kelas yang Ibu pimpin ini, hanya kamu yang bisa membacakan teks yang berisi ikrar para pahlawan dengan penghayatan dan bersuara jernih. Tapi, Ibu cemas juga seandainya kamu nanti pingsan dalam upacara yang waktunya agak lama.” Panjang lebar Ibu Sri memaparkan alasan kekhawatirannya.

Lia terdiam. Ia menunduk. Pandangan matanya mengarah pada keramik lantai kelasnya. Entah datang darimana tiba-tiba ada satu perasaan berani untuk menanggung segala resiko akibat beban tugas yang dipercayakan padanya.

”Ibu…” ujarnya mantap, ”Para pahlawan dulu mau mengorbankan semua yang dimilikinya. Bahkan nyawa pun mereka pertaruhkan demi kemerdekaan dan kejayaan bangsa kita. Saya juga ingin memberikan yang terbaik dalam diri saya untuk bangsa ini, Bu..”

Kini giliran wali kelasnya yang kelu. Ibu guru muda yang penuh perhatian itu terharu mendengar anak didiknya memiliki tekad kuat untuk berbakti pada bangsanya. Mata Bu Sri tampak berkaca-kaca. Namun, ia cepat menguasai diri. Ia tak mau terlihat cengeng di hadapan muridnya yang berhati mulia di hadapannya kini.

”Ibu percaya dengan kamu, Lia… Ibu yakin bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan untuk hambanya yang tulus ikhlas seperti dirimu,” Bu Sri meraih tangan muridnya itu. Ia genggam hangat seolah tengah mengalirkan semangat luar biasa besar untuk menguatkan tekad muridnya. “Silakan kamu kembali ke tempat dudukmu…” Lia berjalan ke bangkunya. Ada tambahan kekuatan tersendiri kini dalam dirinya. Di dalam hati ia bertekad untuk berusaha sekuat mungkin tahan mengikuti upacara Sumpah Pemuda yang biasanya bisa berlangsung selama hampir satu jam-an lebih itu.

”Ah, sakitku, kau takkan mampu menghalangiku untuk sanggup mengemban tugas mulia ini,” bathinnya menguatkan diri.

Dua bulir bening mengumpul di kedua sudut mata Lia. Ia hanyut akan kenangan peristiwa manis saat Ibu Sri memotivasinya di depan kelas. Seorang wanita muda cantik yang berpengetahuan luas, bercahaya kelembutan hati yang mampu menerangi dan meneduhi jiwa para muridnya. Sebenarnya bisa saja Ibu Sri kerja dengan gaji lebih tinggi dari pendapatannya saat ini. Ia lulusan Sarjana Pendidikan Jurusan MIPA dari Universitas terkemuka pula. Pernah mendapat penghargaan dari lembaga ilmu pengetahuan atas penelitiannya yang dirangkum dalam tugas akhir kesarjanaan, yang jelas ini membuktikan ketekunannya dalam bidang yang tengah ditekuni. Bukan sarjana pabrikan yang skripsi saja mesti ditulis oleh orang lain, entah itu dengan cara mengupah atau lebih buruk lagi dengan membeli buah pikiran orang lain. Lia menitikkan air mata haru karena bersyukur Tuhan telah begitu baik padanya menganugerahi seorang guru yang berilmu dan juga berhati mulia. Bu Sri seorang guru berdedikasi tinggi. Seorang murid tentunya akan mengambil teladan dari gurunya. Bila guru yang ia ikuti bisa tulus ikhlas mendermakan ilmunya, maka si murid pasti pula akan mengikuti sikap mulia dengan ikhlas memberikan yang terbaik bagi bangsanya. Inilah yang membakar semangat seorang tunas bangsa Angelia Kesuma berani bercita-cita menjadi sebagai intellektual yang mau mengabdikan semua kelebihan dalam dirinya demi kemajuan Indonesia, bumi tempatnya dilahirkan ini. Ia telah terbakar patriotisme sang guru, dan ia juga sebenarnya membiarkan saja jiwa mudanya tersulut nyala api suci pengabdian Bu Sri, suri tauladannya itu.

”Hmm.. Aku harus mengabadikan kenangan indah ini,” seketika Lia bangkit dari pembaringannya. Berjalan ke meja belajar. Ia terlihat membuka laci meja, mengeluarkan sebuah buku diary yang merekam semua peristiwa berkesan sepanjang hidupnya.

Ketika baru saja buku catatan pribadi berornamen gambar bunga-bunga Tulip indah itu mau diambil dari dalam kotak laci, sudut mata Lia menangkap selembar foto usang yang separuh menyembul dari bagian tengah diary.

”Kapan aku menyimpan selembar foto,” agak ragu-ragu ia membuka hard cover diary, ”Foto siapa, ya, ini?”

Ia penasaran. Rasa ingin tahu menggerakkan jemari putih tangan kanannya. Lia mengambilnya. Tapi, ia mendorong pelan selembar kertas foto yang terselip di dalam bagian lembar tengah. Kadang-kadang rasa penasaran memang lebih indah bila telah menemui tempat yang sesuai untuk menyibaknya. Lia kini menahan diri. Ia melangkah menuju tempat tidurnya. Kembali lagi ke meja belajar dan memungut pulpen dari dalam laci yang terlupa dibawa.

Jantungnya berdebar-debar ingin tahu foto siapa gerangan yang telah ia simpan dalam buku diary pribadinya. Seingatnya tak pernah ia menyelipkan foto siapa pun di buku khusus yang selalu menjadi tempat curahan hatinya. Ia letakkan buku diary di atas bantal. Memandangi lama dengan kedua alis matanya yang rapi nyaris bertemu. Ia berpikir keras berusaha mengingat-ingat. Hasrat ingin tahunya menggerakkan tangan untuk meraih, tapi sebentar kemudian ia urungkan niatnya.

”Hahh.. Kenapa aku mempermainkan diriku sendiri dengan rasa penasaran ini?!?!”

Tangannya cepat meraih buku diary pribadinya. Lia tersadar bahwa rasa penasaran hanya bisa terpuaskan dengan melakukan pembuktian langsung.

”Curiosity is the brightest path to trace the truth. It has suggested that we must involve ourselves in it right away.” Demikian wejangan Bu Sri yang mengabadi dalam poster tulisan dinding ruangan kelasnya. Lia yang juga sebagai muridnya tentu saja sangat memahami nasehat tersebut.

Ia buang keraguan yang sejenak telah mempermainkannya tadi. Dengan berani ia raih buku diary yang tergeletak di atas bantal bersarung lembut. Ia buka lembar demi lembar perlahan. Sebelum sampai pada tempat foto misterius itu bersemayam di bagian tengah. Lia ingin sedikit terhibur mengenang apa saja yang telah ia tuliskan di dalam diary. Setidaknya untuk mempersiapkan mental menemui kejutan yang menantinya. Pandangan matanya kini terfokus pada sederetan aksara: Ujung Oktober Nan Indah. Judul yang ia berikan untuk catatan tentang kenangan indah sewaktu Mama memberinya sebuah boneka Singa Betina yang lucu sebagai hadiah ulang tahunnya ke 15. Saat yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Mama memberi catatan kecil di atas kertas merah muda berbentuk hati bersama hadiah yang ia berikan.

To: Buah hatiku…

Singa Betina cantik yang tak pernah menyerah meraih impian. Seluruh cintaku telah ada di kalbumu, sayang.. Tegarlah untuk menghadapi rintangan dalam meraih masa depanmu.

Selamat Ulang Tahun, wahai Singa Betinaku yang cantik..

Lia tersenyum penuh arti mengenang kata-kata sang bunda. Mama memanggilnya ’Singa Betina’. Alasan Mama karena anak gadisnya punya kekuatan bertahan merawat anak-anak impiannya walaupun dalam kondisi tubuh yang sering sakit-sakitan.

”Oh, Mama… Lia akan cium Mama sepulangnya dari kantor nanti. Lia sayang Mama..” janjinya untuk sang bunda.

Sejenak kelembutan romansa kasih sayang ibunda melenakan dirinya. Lia sedikit terhanyut ke dalam aliran tenang cinta tulus seorang wanita yang telah melahirkannya. Walaupun demikian, rasa penasaran untuk menyibak misteri foto yang terselip di bagian tengah buku diary masih berteriak-teriak lantang: Ayolah, lihat siapa sebenarnya aku dalam lembar kertas foto itu.

Kini jemari tangannya cepat membuka lembar demi lembar buku diary. Ia terdorong untuk merobek jaring-jaring yang menjadi selubung bingkai kemisteriusan gambar di bagian lembar tengah buku rekaman pribadinya. Beberapa saat berselang, ia terhenyak, memandangi potret diri lusuh yang menantang ingatannya kembali.

Gambar seorang lelaki berpeci dengan pin bendera merah-putih jelas terlihat di sana. Lelaki itu tak lain Mbah Surip. Suripto Joyonegoro, demikian nama lengkapnya seperti yang Mama beritahukan padanya dulu. Lelaki itu begitu dekat dengan dirinya. Seorang lelaki yang memiliki tempat khusus dalam ruang kalbunya yang senantiasa merindui kehadirannya kembali. Mbah Surip adalah kakeknya yang sangat ia sayangi. Sang kakek pun rupanya ingin pula menumpahkan semua kebahagian di dunia, dipersembahkan kepada cucu perempuan semata wayangnya itu.

Air mata Lia jatuh berderai. Ia raih potret diri sang kakek. Ia benamkan ingatannya pada masa-masa indah saat sang kakek masih hidup. Tak sadar ia mengusap-usap seraut wajah sederhana itu.

”Nduk… ” begitulah panggilan sayang kakeknya, ”Mbah kemarin ngambil duit pensiun, nih…” seraya mengipas-ngipas lembaran uang si Mbah menggoda seperti biasa. ”Ntar, pas kamu pulang sekolah, biar Mbah aja yang jemput.. Kita jalan-jalan ke pasar, yuk, sayang?! Mbah beliin kamu apa saja yang kamu mau.. Tapi, bilang dulu sama Mamamu, yaa, Nduk? Nanti dia kehilangan..”

Biasanya setelah ia membuat kesepakatan dengan sang kakek, Lia masih teringat pasti ia akan mendesak Mama supaya tak menjemputnya sepulang sekolah. Mama hanya mengangguk sambil tersenyum. Paling Mama nanti Cuma bilang:

”Bapak sama Lia nanti makan dulu sebelum acara jalan-jalannya, yaa? Kalau nggak mau capek, pulang-pergi biar aku antar pake mobilku, boleh ya, pak?”

”Woalaahh… Itu namanya merusak suasana aja… Emooh, ah, aku nanti mau pake dokar sewaan aja sama cucuku. Kamu nggak usah repot-repot jemput kami..”

Mamanya hanya menelan ludah. Lalu, Lia akan cekikikan melihatnya. Mbah Suripnya, yang mantan pejuang itu berwatak keras. Sekali ia bilang tak mau diganggu acaranya, jangan coba-coba untuk membuktikan keseriusan ucapannya. Pernah dulu sewaktu sang kakek sehabis pulang mengambil uang pensiun, ia terpleset, kaki sebelah kanannya terkilir. Hari kemarin sebelumnya, putrinya sudah bilang akan mengantar bapak kandungnya yang keras hati itu kalau mengambil gaji pensiun. Tapi, si bapak malah mencak-mencak merasa kalau putrinya telah menyangka dirinya tak berguna lagi. Seminggu penuh putrinya tak ia tegur. Sang anak pun kelimpungan dibuatnya. Bapaknya tak mau menyenggol hidangan apa pun yang disediakan di meja. Ia lebih memilih ke Warteg yang tak jauh dari kompleks rumah mereka. Itulah yang membuat Mama kapok berdebat sama Mbah Surip yang Lia sayangi.

Ketika bel pulang berdering nyaring, Lia pun buru-buru keluar kelas. Hampir saja ia lupa mencium tangan gurunya. Bayangan jalan-jalan sama sang kakek begitu menggoda. Malah suaranya yang memanggil-manggil lebih lantang terdengar daripada raungan bel pulang. Di gerbang sekolah biasanya mobil-mobil para wali murid memarkir kendaraannya agak jauh dari sebuah kereta kuda yang gagah-berani melintangi. Mbah Surip mencegah mereka menghalangi cucu kesayangannya untuk langsung naik ke dokar sewaan. Biasanya pak Kusir akan senyum-senyum menahan geli akan kelakuan lelaki tua veteran pejuang itu.

”Tuan Putriku sudah pulang… Silakan Tuan Putri naik ke atas Kereta Kencana ini…” begitulah gaya teatrikal Mbah Surip ketika melihat Lia telah muncul di Plaza Sekolah. Lia akan tertawa lepas melihat gayanya ini. Lalu, tak lama kemudian setelah ia duduk berhadapan dengan si cucu kesayangan, acara jalan-jalan mereka pun dimulai. Pak Kusir pun mulai melecut kudanya.

”Kenapa pin bendera merah-putih itu selalu nempel di peci Mbah?” lugu Lia bertanya. Membuka jalan kisah indah perjalanan mereka. Siang terik dengan sinar matahari yang garang tak terasa saja. Dokar berjalan santai. Seakan tak ingin memendekkan keping demi keping mosaik lukisan cerita yang menanti untuk dibuka.

”Ada kisahnya ini, Nduk…” jari telunjuk Mbah Surip menempel pada benda kecil di pecinya.

”Ceritain, dong, Mbah…”

”Hmm, darimana, yaa, Mbah mesti mulainya?”

”Dari paling seru aja, Mbah…” saran Lia manja, tapi setengah menuntut.

”Iya, ya,” sahut si kakek manut, ”Mbah akan mulai cerita pas saat-saat yang serunya aja.”

Berhenti sejenak si kakek seperti memanggil ulang memori-memori pilihannya yang terpendam. Lalu, iya memandangi wajah imut cucunya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu.

”Beneran kamu mau dengerin Mbah cerita, Nduk?”

”Aku udah nungguin dari tadi, kok..” rajuk Lia merasa diragukan keseriusannya untuk menyimak kisah lama sang kakek.

”Ya, sudah.. Mbah akan mulai cerita.. Kamu dengerin baek-baek..”

Wajah Lia sumringah seketika. Ia tahu Mbah Surip kesayangannya ini tak mungkin menolak apa pun yang ia minta.

”Waktu itu Mbah masih gagah, lho, Nduk..”

”Wuihhh… Gaya Mbah…”

”Beneran toh.. Lihat nih, masih ganteng, kan?” sambil mengusap rambutnya lelaki yang tanggal 28 Oktober 2000 nanti genap berusia 72 tahun, memamerkan penampilannya. Pak Kusir dokar melempar senyumnya pada tiang listrik yang berpapasan di pinggir jalan.

”Umur Mbah waktu itu 18 tahun.. Mbah diundang para pemuda dari Perkumpulan Pemuda Jawa untuk ikut mengikrarkan janji menggalang persatuan demi memperkuat perjuangan meraih kemerdekaan.”

Rona wajah cucunya berubah serius kini.

”Terus, terus…, Mbah…”

”Yo, wiss.. Mbah ikut… Pergi dari Jogja numpang kereta api ke Jakarta. Kami waktu itu dibagi dalam dua rombongan. Kelompok pertama yang pergi termasuk Mbah Suripmu ini..”

”Siiihhh… Jadi Mbah termasuk orang pilihan dari para semua pemuda Jawa untuk ikut ke Jakarta, ya, Mbah?” Lia pindah duduknya. Ia sekarang menempel dengan lelaki uzur yang rupanya pejuang itu.

”Ya, pastilah… Kalo nggak, mana bisa diutus ke Jakarta…” Mbah Surip menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia hembuskan kuat-kuat seolah-olah ingin melepas sesak menghimpit dalam dadanya.

”Saat di perjalanan itu, Nduk… Woalaahhh…. Kamu untung kamu nggak ngalaminya…”

”Ya, pastilah, Mbah… Aku kan nggak lahir zaman itu…”

”Anak pinter…” Mbah Surip tersenyum, ”Kami diberondongi tentara Belanda yang sengaja menghalangi perjalanan para pemuda Jong Java untuk bersatu dengan semua pemuda dari daerah-daerah lain.”

”Mbah, nggak takut waktu itu?”

”Waktu itu, Nduk… Nyawa pun rela para pemuda Jawa korbankan demi persatuan bangsa Indonesia… Kenapa mesti takut? Toh, semua orang kan pasti mati juga.. Tapi, mati dalam berjuang untuk membela tanah air, itu kan lebih mulia, bener toh?”

Lia masih belum paham dengan betapa peliknya arti patriotisme yang sedang sang kakek sampaikan padanya. Siswa kelas 3 SD itu tampak bengong. Namun, ruh semangat perjuangan dan rela berkorban demi nusa bangsa, rupanya terselip tak sengaja mengendap dalam ruang jiwanya yang polos.

”Dulu itu, Nduk…” lanjut Mbah Surip lagi, ”Nyawa boleh melayang demi tanah tumpah darah yang satu. Semua pemuda punya semangat itu. Selembar nyawa bukan hal yang berarti kalo hidup masih dalam penjajahan. Nggak kayak sekarang ini, orang malah saling gontok-gontokan, korupsi, bikin susah rakyat kecil demi menyelamatkan selembar nyawa busuknya, toh?”

Tambah dalam dan berbelat-belit si kakek bercerita.

”Semua pemuda di seluruh pelosok Nusantara sadar, mereka dulu sadar kalo berjuang masih sendiri-sendiri, penjajah akan mudah mematahkannya. Makanya, Mbah sama pemuda Jong Java bertekad melawan dan bersatu dalam perjuangan. Desingan peluru kami tantang. Banyak juga temen Mbah yang gugur…”

Kalimat terakhir yang Mbah Surip ucapkan itu terdengar agak tersendat. Suatu kenangan pahit kehilangan rekan-rekan seperjuangan yang telah mendahului, rupanya telah menyumbat suaranya berkisah. Mata Lia tampak berkaca-kaca. Kakeknya menunduk, menatapi lantai kayu dokar.

”Terus, Mbah sampe nggak ke Jakarta?”

”Ya, sampe, Nduk.. Tapi, Mbah nggak bisa hadir ikut mengikrarkan Sumpah Pemuda.. Mbah dilarikan ke Posko Kesehatan Para Pejuang… Paha kanan Mbah ditembus peluru Belanda. Mbah pingsan selama perjalanan. Tahu-tahu sudah terbaring dengan luka tembak di kaki Mbah..”

”Terus.. Mbah tahu nggak kabar teman-teman Mbah yang lainnya lagi?”

”Ada beberapa teman seperjuangan Mbah yang ikut membaca janji persatuan para pemuda itu, toh.. Nduk…”

”Mbah seneng dengernya?”

”Woaaalaahh, Nduk…. Mbah Suripmu ini mendadak sehat pas denger Sumpah Pemuda itu jadi dicetuskan.. Bangganya Mbahmu ini saat itu…”

”Sumpah Pemuda…” tiba-tiba Mbah Surip berkata lantang.

”Kami Putra-Putri Indonesia…
Mengaku… Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Air Indonesia…

Kami Putra-Putri Indonesia…
Mengaku… Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia…

Kami Putra-Putri Indonesia…
Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”

Bulir air mata Mbah Surip tampak mengumpul di ujung kedua matanya. Setelah ia mengucapkan janji persatuan para pemuda itu. Ya, ini bukan sekedar janji yang tak terbukti. Seperti kebanyakan janji yang diucapkan para pemimpin dan wakil rakyat sebelum mereka terpilih. Janji kosong yang membuai rakyatnya sendiri dalam kenelangsaan.

Lia sesunggukkan di kamarnya. Potret diri Mbah Surip yang telah berpulang ke pangkuan-Nya itu menembus ruang benaknya untuk mengenang betapa tulus pengorbanan sang kakek untuk nusa dan bangsa. Dalam keharuannya yang begitu mendalam, Lia yang kini adalah gadis remaja yang cantik hati itu berjanji akan tetap berjuang untuk kemajuan dan meninggikan harkat martabat bangsanya, Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.



2. Angin Pilu Berkisah


Suatu senja dedaunan kuning Beringin tua bingung menanti kedatangan angin. Mereka heran mengapa Angin tak menggugurkannya. Ini tak seperti biasanya. Angin diam tanpa hasrat sama sekali - melepaskan energi geraknya meluruhkan dedaunan kuning itu ke Bumi. Biasanya dengan senang hati ia tanpa diminta akan menggoyangkan mahkota pohon Beringin penuh janggut itu, melayangkan tiap lembar daun rapuh, terombang-ambing di ruang hampa sebelum ditarik gravitasi. Maka ini menimbulkan tanya yang makin lama terasa menyesak bagi daun-daun tua terhadap Angin. Bahkan sebagian dari mereka malah berprasangka bahwa angin telah hilang daya dan kemampuan hanya untuk melepaskan petiolenya yang rapuh, terjatuh meluncur ke tanah.

”Angin telah lemah tak berdaya kini,” ujar satu dari mereka, ”Ia sudah tak punya kekuatan sama sekali hanya untuk melepaskan kita dari tangkai yang melapuk.”

Selembar Daun lainnya lalu menimpali, ”Itu lah akibatnya bila Angin terlalu bangga dengan anugrah besar yang tersimpan dalam tenaganya. Tuhan murka karena ia telah berlaku sombong dan pongah! Dicabut semua kekuatan Angin kembali pada-Nya.”

Angin hanya diam terpaku mendengarkan. Sama sekali ia tak berhasrat menanggapi. Dedaunan kuning makin menjadi-jadi membicarakannya dengan sarkastis.

”Lihatlah! Sekarang gravitasi Bumi pun juga memandang angin sinis. Biasanya mereka saling berlomba menunjukkan kehebatannya mengombang-ambingkan kita yang malang. Angin menjungkalkan kita, gravitasi Bumi menyeret kita agar terhempas di atas tanah.”

Angin hanya menoleh sebentar. Ia tak terusik percakapan yang menurunkan kewibawaannya sebagai energi potensial yang dahsyat. Namun, tengoklah sebentar di wajah Angin. Ada duka besar sepertinya tengah ia tanggung. Matanya sayu merefleksikan kesedihan mendalam yang dipendam. Ia hanya membathin demi meringankan lara yang mengurungnya.

”Kalian semua memang bagian dari dunia yang apatis ini,” gumamnya resah, ”Kalian hanya peduli pada kepentingan kalian sendiri. Tidakkah kalian menyaksikan jiwa seorang bocah tak berdosa telah melayang ke surga, dicampakkan masyarakatnya yang individualis, kumpulan orang-orang berjiwa kerdil tanpa cinta terhadap sesama.” Kata-katanya yang terakhir ini begitu kuat menyeretnya terlarut dalam nestapa. Angin menitikkan air mata. Awalnya hanya dua bulir bening yang bergulir di kulit pipinya yang pasi. Lama-lama bulir-bulir itu makin banyak mengalir seperti menyembur dari lubuk hatinya yang terluka.

”Huh!!” cemooh Dedaunan mengejek, ”Dasar cengeng! Sekarang baru ia menyesal kekuatannya telah sirna.” Dedaunan kuning lapuk pada salah sangka. Mereka dihasut pikiran bahwa Angin sedang mendayu-dayu larut dalam penyesalannya kehilangan kekuatan andalan.

Lentisel, Floem dan Xylem hanya menyimak apa yang sedang diributkan Dedaunan kuning Beringin tua. Mereka tak berminat sama sekali dalam hal ini. Memang mereka tak pernah dirugikan Angin dengan energi geraknya yang dahsyat itu. Lagi pula di badan Ficus Benjamina.L yang merupakan famili Moraceae ini, mereka terlindung dengan fungsinya yang tersendiri.

“Tahukah engkau, Xylem? Apa yang membuat Dedaunan kuning begitu membenci Angin?” merasa penasaran Lentisel bertanya.

“Sungguh, Lentisel, aku tak mengerti penyebab mereka menunjukkan kebencian pada sang Bayu yang perkasa itu. Bila mereka merasa sakit hati karena telah terombang-ambing setiap kali gugur ke tanah, apakah mereka lupa Angin sebenarnya hanya menjalankan fungsi eksistensinya untuk menegaskan takdir Tuhan pada tiap lembar Dedaunan?” penjelasan Xylem ini menambah rasa penasaran bagi lubang-lubang kecil kulit batang itu.

Ia menoleh pada Floem. Berharap mendapat jawaban yang dapat memuaskan keingintahuannya yang besar ini. Namun, Floem sendiri masih belum selesai menyebarkan hara yang dibutuhkan tiap jaringan induk semangnya. Ia tak mau lalai. Tapi, ia tak sampai hati memandang rendah keberadaan Lentisel sahabatnya. Floem hanya menggeleng sebelum karibnya menyudahi tatapan mata penasarannya.

“Begini saja…” seru Kapilaritas ikut nimbrung obrolan, “Baiknya kita tanyakan langsung pada Angin.”

“Ah, aku tak berani menanyakannya. Aku takut Angin yang tampaknya sedang bersedih itu berubah marah.” ujar Xylem dan Floem hampir berbarengan, “Bagaimana dengan Lentisel? Ia agak dekat dengan Angin. Sesekali mereka sering bercanda bersama.

“Aku juga tak berani melakukannya. Lebih baik kita minta bantuan pada induk semang kita saja, pohon Beringin tua.”

“Setuju…” seru mereka bermufakat dan segera melaksanakan rencananya.

Mereka pun mengungkapkan keinginannya pada Beringin tua. Memohon bantuan mencari tahu gerangan sebab Angin yang merajuk itu.

Beberapa saat berselang, Beringin yang penuh dengan janggut akar udaranya mulai membujuk Angin untuk bercerita.

“Sahabatku, Angin yang perkasa.. Maukah engkau menceritakan pada kami apa yang membuat hatimu dirundung kesedihan mendalam? Sehingga tak sudi melepaskan daun-daun kuningku yang sudah waktunya gugur, sudilah engkau menerangkannya.

“Ah, dasar Angin itu cengeng!!”

“Diam kalian semua!!” hardik Beringin tua pada Dedaunan kuning yang berniat mengeruhkan suasana lagi.

Sambil menyeka air matanya yang belum berhenti itu, Angin menguatkan diri, meredam isaknya dan mulai berkisah:

“Sungguh, aku enggan menceritakan tragedi ini, karena seperti memanggil kembali peristiwa pedih yang tak sanggup kusaksikan kejadiannya.” Angin sejenak mengatur napas, memberi jeda bagi jiwanya untuk tegar.

“Manusia saat ini saling membunuh dengan keacuhannya yang dingin.. Tiap dari mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Cinta sesama telah terkikis dalam hatinya yang gersang. Jiwa tiap manusia telah diracuni dengan hasrat mengejar benda-benda; walaupun nantinya pasti mereka tinggalkan juga. Cinta yang dapat menemaninya di alam yang hakiki telah mereka abaikan.”

“Bagaimana engkau bisa bilang begitu, wahai Angin?” heran Lentisel bertanya.

“Sahabatku, Lentisel yang lugu.. Aku kemarin ke Negeri China yang permai mengunjungi karib lamaku, Awan Pegunungan. Sebelum tiba di tempatnya, di perjalanan aku menyaksikan seorang anak terlindas mobil dua kali tanpa ada seorang pun di sekitar berniat menolongnya.”

“Oh..” semua Dedaunan kuning terhenyak, mereka baru menyadari penyebab kesedihan Angin yang sebenarnya.

Xylem, Floem, Kapilaritas dan Lentisel membeku karena keterkejutan yang bukan kepalang melandanya.

“Sang Bunda dari anak itu meratap pilu menyaksikan betapa kejinya individualisme telah berurat akar dalam hati orang-orang di sana,” lanjut Angin kembali, “Hanya seorang pemulung yang pertama kali digerakkan Tuhan untuk menolong bocah malang itu.”

“Orang-orang berjiwa kerdil itu hanya menoleh acuh saat kepala sang bocah rengkah terlindas. Dalam hati mereka yang kejam sedikit pun tak ada rasa iba. Seolah-olah telah sirna kasih-sayang dari dalam jiwanya. Dan, bagi mereka rasa iba adalah hal paling memuakkan, cukup menghabiskan waktu untuk diterjemahkan dalam bentuk tindakan memberi pertolongan.”

“Wang Yue telah tercampakkan dari cinta yang dingin di dunia ini. Aku melihat dengan jelas sekali bagaimana para Malaikat menuntunnya ke surga dimana cinta sesungguhnya adalah pilar-pilar yang menopang Istana Langit tempatnya yang abadi.”

“Tak ada cinta lagi di Bumi ini. Semua sudah berganti nafsu dan ambisi untuk hidup demi diri sendiri.”

Dedaunan kuning, Xylem, Floem, Lentisel, bahkan Calypta bersama Klorofil pada tiap lembar daun hijau, mereka semua terisak dan bercucuran air mata. Kemudian, entah siapa yang memulai, serempak mereka berkata:

“Selamat jalan, malaikat kecil Wang Yue. Tinggallah selamanya di Istana Langit yang pasti penuh kasih sayang merawatmu. Lupakan dunia yang gersang dengan kematian humanismenya ini.”


3. Hasrat Terpendam


Memang telah lama terdengar kabar tentang nasib yang membuat perbedaan kesejahteraan hidup antar orang per orang. Bila seseorang ketiban nasib baik, ia bisa hidup dalam kelapangan. Segala usahanya lancar, apa pun yang dilakukannya meraih kesuksesan. Lain cerita ketika seseorang telah ditakdirkan mengalami penderitaan nan tak tertanggungkan akibat ketiban nasib sial. Ia dililit kesulitan, mesti menahan selera, bahkan apa pun yang dikerjakannya malah tak mampu melepaskan dirinya dari keterpurukan. Itulah domain nasib, wilayah permainannya yang berdampak pada cara tiap orang menafsirkan kehidupan pribadinya sendiri.

Namun, jangan salah sangka bahwa ‘nasib’ juga punya kekuasaan tanpa batas. Nasib tak berwenang mengendalikan kehidupan jiwa seseorang. Jangankan kehidupan jiwa, merubah kebiasaan pribadi pun tak punya kompetensi melaksanakannya.

Demikian terjadi pada dua orang bersaudara: Bambang dan Ontet. Seorang dari mereka, Bambang, memiliki hati mulia yang suka membantu siapa pun yang lagi terjepit kesulitan. Ia bernasib baik. Usaha yang dirintisnya dari berdagang pete di lapak pasar becek, kini mendudukkan dirinya sebagai ‘Juragan Pete’. Buah pete yang mampu menebarkan semerbak aroma ’parfum alami’ setelah memakannya, kini bak mutiara-mutiara hijau: penghasil uang bagi Bambang. Ia kaya-raya berkat kedahsyatan aroma pete! Itulah yang menyebabkannya mudah saja mengeluarkan sejumlah uang untuk membantu adiknya, Ontet nan merana dan tersuruk-suruk dalam kurungan nasib sial. Tapi, ini telah disalahgunakan oleh sang adik. Seperti yang ia tunjukkan kini:

“Ah, aku sudah lama tak makan siang dengan lauk-pauk super lezat dan lengkap,” hasrat Ontet menghasut dirinya.

“Tapi dengan siapa lagi aku bisa meminjam uang. Kak Bambang kemarin marah besar sehabis kutipu mentah-mentah. Uang dua juta yang kupinjam dengan dalih mendaftarkan Dini masuk SMP, sebenarnya kupakai untuk judi sabung Ayam Bangkok.”

Ia gelisah, cemas sekali niatnya mau makan enak siang hari ini tak kesampaian. Berjalan mondar-mandir mirip setrika arang kayu dari kuningan, dahinya mengernyit. Ia tampak berpikir keras. Benarlah kata orang bijak bahwa semua yang dipikirkan dengan seksama pasti menemukan jalan keluar terbaik. Tak sia-sialah upaya pantang menyerah yang dilakukan Ontet.

“Ting…ting..ting..ting…” Ilham terang-benderang datang.

“He..he..he.. OK, deh..” Ia manggut-manggut, ”Aku akan minjam uang lagi dengan Kak Bambang. Kali ini dia pasti tersentuh dengan cerita kepedihan yang akan kusampaikan padanya.”

Melangkah pasti ke pintu keluar rumah kontrakan setengah permanen, berjalan mengarah gang keluar menuju jalan besar, ia lalu berdiri menunggu angkot. Tak lama berselang, ia terlihat naik dan menumpang mikrolet warna kuning ke jurusan rumah kakaknya.

Kira-kira 30 menit lamanya ia dalam angkot yang berpenumpang lima orang termasuk sopir. Ontet duduk bersebelahan dengan seorang perempuan yang sepuh. Ia tampak memperhatikannya. Wajah keriput nenek tua memancing imajinasi liarnya.

“Nenek keriput ini pasti puas menderita..” gumamnya sendiri, “Sedikit pun tak ada bekas kecantikan dan kebahagiaan hidup dialami pada masa mudanya. Mungkinkah dulunya dia pernah ikut Romusha jaman Jepang? Aku yakin dia pasti puas kena cambuk prajurit Jepang yang kejam!”

“Kamu lihat apa, sih, nak?” tanya Nenek itu. Ontet tersentak. Ia ketangkap basah menyelidiki si Nenek.

“A..a..anu, Nek.. Ah, tak ada apa-apa, Nek!” jawabnya gugup.

Berupaya mengalihkan pembicaraan, lalu ia berpura-pura ramah, “Mau kemana, Nek?”

“Mau pulang, Nak.. Habis dari dagang di Pasar..”
“Sendirian aja, Nek?”

“Iya, emang kamu mau nemenin Nenek pulang barengan?!?” tawar si Nenek iseng, sembari tersenyum lebar memamerkan satu gigi seri palsu timah putihnya. Menggeser duduk lebih rapat lagi. Ia berniat meningkatkan intensitas aksinya. Sungguh setiap aksi akan menghasilkan reaksi yang sama, seimbang, atau pun berlawanan. Itulah keyakinan kuat sang Nenek akan petuah Newton yang telah berurat akar dalam sanubarinya. Ia begitu meyakini apa yang diketahui berdasarkan pengalaman langsung berpuluh tahun lamanya, dan teori tentu saja berguna setelah dipraktekkan!

“Tringgg… Tringgg…”

Ontet terkesima. Ia menahan napas. Tak disangkanya si Nenek masih peduli dengan urusan pencitraan diri, dan tampak sedemikian aktif menebar pesona agar menuai simpati lawan jenisnya. Ia tak kuasa menahan aggresivitas perempuan sepuh itu. Bergeser ke samping, ia menjauh.

“Ah, Nenek kan masih kuat pulang sendirian..” sahutnya kemudian, tapi terdengar agak tersendat akibat anxietas pada perangai aggresif si Nenek.

Nenek sepuh dan bergaya itu hanya tersipu. Tapi, ia belum menyerah kalah, berupaya menempel lekat kembali ke tubuh pemuda idaman seperti sediakala. Tentang teori perangko, janganlah ditanya lagi. Si Nenek paham sekali! Perangko memang ditakdirkan menempel erat pada amplop surat. Maka dari itu, genit yang aggresif mesti menjadi lem perekatnya. Ia tak mau gagal! Namun, malang tak dapat ditolak; harapan tak selalu menggandeng mesra kenyataan yang diangankan. Ontet membatasi ruang geraknya. Bakul milik si Nenek telah berpindah di atas kursi penumpang. Nenek genit pun cemberut! Bibir lisutnya membentuk sudut lancip 35°. Hatinya remuk!

Untuk sementara Ontet aman dari invasi romansa asmara dadakan pubertas sepuh si Nenek. Maka, kini ia mengalihkan pandangan pada penumpang lainnya lagi. Seorang bapak separuh baya tepat berhadap-hadapan. Berpenampilan ’cowboy’, dengan kemeja planel bermotif kotak-kotak warna merah dan biru langit. Si Bapak memadukannya dengan jeans belel biru tua dan membungkus kedua kakinya dengan sepatu jingle lancip di ujung. Aduhai, si Bapak mirip sekali Christian Slater: Billy the Kid! Dalam kedua rongga matanya, bola-bola mata si Bapak liar bergerak. Sedetik melirik ke samping, fokusnya pada pesona seorang karyawati Mall yang harum dan semlohay. Sedetik kemudian beralih lagi pada fokus yang lain. Saat tatapan liar matanya beradu dengan tatapan mata Ontet; mereka seperti tersentak satu sama lain. Entah apa yang tersiratkan dari peristiwa ini! Hanya satu pertanda yang mensinyalir bahwa mereka berdua sama-sama punya dunia rekayasa hasil daya cipta imajinasi setelah mendapat pengalaman langsung dari pengetahuan indrawinya.

”Apa kabar, Pak?” sapa Ontet ramah. Ia tahu si Bapak satu guru satu ilmu dengannya. Maka, jangan coba-coba saling ganggu dengan berkhayal yang tidak-tidak mengenai dirinya! Dikhawatirkan si Billy the Kid Wannabe ini bakal tahu!

Si Bapak menunjukkan sikap indifferent. Ia cuek, tak berminat menanggapi. Memalingkan wajah, ia menoleh ke arah lain! Dingin! Bukankah apa pun yang tak bermanfaat bagi diri sendiri tentu tak perlu ditanggapi? Si Bapak penganut kuat paham pragmatisme dan individualisme! Ia merasa tegur sapa Ontet tak memberikan faedah sama sekali baginya. Itu hanya SKSD – Sok Kenal Sok Dekat belaka! Begitulah gagasan prediktif menjumuti benaknya.

Ontet yang mendapati sikap acuh si Bapak lantas berpikir, ”Idih… Amit-amit si Bapak.. Songong banget! Ditegur ramah, dia cuek! Pasti waktu kecilnya pernah jatuh dari buaian, otak kecilnya ’geger’, lupa dibawa ke dukun urut, akhirnya gini jadinya!” Ontet mendumel, hatinya dongkol.

Sementara itu mikrolet melaju kencang. Sopir merasa tak ada penumpangnya yang minta diturunkan saat itu. Ontet cemas melihat keadaan ini. Ia takut kebablasan diturunkan jauh dari tempat tujuannya.

“Stop, Bang.. Stop di depan rumah besar itu..” perintahnya pada sopir angkot. Mikrolet angkutan umum itu pun memperlambat lajunya, dan berhenti.

Setelah turun dari angkot, Ontet buru-buru menyerahkan ongkos, “Nih, Bang, ongkosnya.. Makasih..”

“Woi..woi..Bang.. Tunggu dulu.. Ongkosnya kurang, nih?” tagih si sopir angkot setengah berteriak.

“Kurang gimana? Kan emang segitu ongkosnya?!?” Ontet mendebat sengit.

“Yang benar aja, Bang.. Mana ada ongkos angkos seribu sekarang?!”

“Apanya yang nggak ada? Ada aja lah.. Aku kan duduk di angkotmu cuma setengah jam. Berarti ongkosnya juga setengah harga! Kalau aku numpang di angkotmu selama satu jam penuh, ongkos yang kubayar juga ‘full’. Makanya kubayar seribu!” Ontet makin ngeyel.

Akhirnya sopir angkot itu mengalah, sambil bersungut-sungut ia jalankan kembali angkotnya, “Payah dengan orang ngeyel, ada aja alasannya, huh!”

Para penumpang lain yang belum turun geleng-geleng kepala.

***

Lama juga ia menunggu seseorang membukakan pintu pagar untuknya. Tapi, Ontet sabar sekali terlihat, ia berdiri dengan tangan kiri dan telunjuknya menekan bel yang melekat di bawah lampu bulat beton pagar besi rumah kakaknya. Imajinasinya mengembang karena terkondisi begitu. Ia membayangkan tengah duduk di dalam Restoran Padang Goyang Lidah yang terkenal, berhadap-hadapan dengan segala hidangan lezat. Di atas meja tersaji rendang, gulai babat, pindang patin, udang lobster lengkap dengan lalapan sayur dan lalapan pete rebus, jengkol muda dan kabau nan hitam imut itu. Uap nasi hangat mengepul berkolaborasi dengan aroma lezat berbagai lauk-pauk. Di dalam kenyataan imajinernya, juga ada segelas besar es teh dingin, dinding luar gelasnya berkeringat akibat pengaruh pengembunan bongkahan kecil es batu di dalam gelas. Wah, Ontet benar-benar selayaknya seorang tauke kini. Baru saja ia hendak memanggil pelayan restoran untuk minta berberapa bungkus kerupuk kulit kerbau renyah, tiba-tiba lamunannya buyar. Wak Meong, pembantu rumah tangga kakaknya menghampiri dan menegurnya.

“Sudah lama, Nak Ontet nunggunya?” tanya Wak Meong ramah.

“Belum lama, Wak… Kira-kira lima menit setelah pelayan tadi menaruh es teh pesananku,” masih belum sadar ia dari khayalannya.

Dahi Wak Meong berkerut mendengarnya. Ia tak melihat siapa pun lagi selain adik dari tuannya itu.

“Pelayan? Pelayan dari mana, Nak Ontet?” tanyanya heran.

Ontet kelabakan ditanya begitu. Kesadarannya baru kembali normal, ia seperti terbangun dari mimpinya yang nikmat. Lagi-lagi ia kepergok tengah mengkhayal kemana-mana. Beberapa saat yang lalu ia terbang dalam alam surga imajinernya. Tapi, Ontet cepat menguasai diri. Ia tak ingin Wak Meong menganggap dirinya aneh.

“Ya, sudahlah, Wak.. Kak Bambang ada di rumah, Wak?” alihnya kemudian.

“Ada, Nak.. Tadi Wak lihat Nak Bambang habis wudhu’an. Paling dia lagi shalat Dhuha sekarang. Masuk dulu lah..” ajak Wak Meong namun matanya melirik aneh pada Ontet.

Ontet melangkah masuk pekarangan luas rumah sang kakak yang laksana Taj - Mahal India. Sebuah kolam ikan Mas Koi membujur dengan enam buah air mancur yang membentuk deretan kubah kecil. Di samping kiri-kanan kolam dihiasi border bunga-bunga krisan yang menawan dan dilapisi asoka beragam warna dan euphorbia pada bagian terluar. Setapak yang dibuat dari bebatuan alam diatur susunannya sehingga membentuk mosaik indah.

Hijau dan menawan dengan desain taman ala istana Sultan. Sebuah gazebo dengan gaya minimalis taman Jepang berdiri di tengah, dikelilingi koleksi bonsai-bonsai Santigi yang terawat. Udara sejuk mengisi landscape istimewa itu. Empat pasang pohon Palem Putri berhadap-hadapan menjadi semacam patok jalan menuju pintu masuk utama rumah. Tepat di depan dua pilar bergaya Eropa Gothic terletak dua buah pot besar antik berpoles cat suasa. Di dalamnya anggun nan eksotis Anthurium Gelombang Cinta menjadi pertanda si pemilik rumah adalah juga kolektor berseni tanaman berkelas. Namun, ada satu yang kontras ketika mata diarahkan pada beton pilar. Kerajinan tangan dari bahan tembaga yang disepuh cat keemasan membungkus buah bertipe polong-polongan yang tak asing lagi: pete, menempel vertikal dari ukuran terkecil hingga sebesar lengan. Kekontrasan ini makin dipertegas ketika pandangan beralih ke meja luar. Setiap jambangan bunga berisi rangkaian bakal buah pete yang berbentuk pentungan mungil. Yaa, Bambang memang tak mau melupakan jasa besar dari tanaman dikotil famili fabaceae itu. Bahkan ia kini telah membuat prasasti kecil di bagian ujung kolam. Di sana tertulis sebuah ode indah sebagai tanda balas jasanya terhadap pete.


ODE KEPADA PARKIA SPECIOSA HASSK

Sebuah nama Latin bercahaya berkat
Oh, engkaulah Sang Juru Selamat;
Mengobati dari dera sakit
Menggigit dalam saluran titit,
Menghalau selaksa duka rumit
Kemiskinan yang bikin sembelit.
Sungguh, Parkia Speciosa Hassk, engkaulah penyelamatku,
Semerbak wangimu adalah kebangkitanku
Maka tak terhingga terima kasih ini kupersembahkan untukmu..

Pada situasi lainnya lagi, berada dalam kenyamanan suasana pekarangan rumah, membuat Ontet ingin memejamkan mata sejenak. Ia lantas menjatuhkan diri di kursi empuk beranda luar. Ajakan Wak Meong untuk masuk tadi, ia tanggapi malas-malasan.

“Wak, masuk aja dulu. Sekalian tolong panggilkan Kak Bambang kalau dia sudah selesai shalat Dhuha. Aku mau santai sebentar di luar sini.”

“Iya, Nak Ontet..” sahutnya pendek, berjalan memutar ke samping menuju kamar pembantu yang dibangun khusus untuknya. Wak Meong teringat tugas utamanya pula. Mengkeramasi kucing-kucing peliharaannya yang berjumlah puluhan ekor. Ia pun bergegas!

Udara sejuk semakin mendukung keinginan Ontet melanjutkan mimpi-mimpi tertundanya. Suasana tenang yang seakan-akan tak terusik kebisingan lalu-lalang kendaraan di jalan luar. Hanya musik dari gemerisik dedaunan Palem Putri dirayu semilir menerpa yang meraja. Tentu saja sangat mampu menerbangkan Ontet menuju labirin dunia serba-mungkinnya kembali.

Tiba-tiba dua orang penari perut jelita datang menghampiri dengan empat orang pemain musik. Dari samping Gazebo muncul pula para pelayan membawa baki berbagai hidangan raja yang lezat. Mereka juga menuju ke arah Ontet yang kini duduk nyaman di atas singgasananya nan megah. Ia kini telah berubah menjadi Sultan muda yang tampan. Tanpa ia sadari sama sekali, tangannya melepas sarung bantal kursi berumbai untuk dijadikan mahkota. Alas meja berbordir motif bunga-bungaan berwarna keemasan kini menjadi jubah kebesarannya. Bukankah setiap panggung pasti membutuhkan kostum sesuai bagi pemainnya? Ontet paham hal ini!

Mereka kemudian berbaris rapi menghaturkan hormat. Membungkuk berbarengan dan kemudian berpencar sesuai dengan posisi tugas melayaninya masing-masing. Penari-penari perut mulai unjuk kebolehannya, meliak-liuk mengikuti irama musik dari gendang dan gitar Arab yang mengalun dinamis. Ontet terpana. Biji matanya hampir keluar memandangi keindahan tubuh dua penari itu. Belum habis rasa terkejutnya, seorang juru minum mendekat. Dengan gemulai ia menyodorkannya secawan anggur. Dan, tentu saja parasnya bercahaya bidadari. Ontet tak tahan untuk mendaratkan beberapa kecupan gemas untuk si cantik yang turun dari surga ini. Juru minum itu pun semburat merah wajahnya. Beruntunglah ia kali ini. Sebab, biasanya selalu ada bekas tertoreh bila bibir Ontet mengecup. Entah akibat tulah hukum fisika gravitasi bumi yang menyebabkan bagian bawah bibirnya menggantung bebas dan mengembung tak karuan, atau mungkin karena ketebalan antara bibirnya yang tak berimbang menghasilkan friksi kuat pada permukaan. Maka saat kecupannya mendarat di sembarang tempat pasti ditemukan goresan! Tapi, pada pipi sang juru minum itu hanya berakibat semburat. Beruntunglah ia karena Dewi Fortuna telah menyelamatkan dirinya tepat waktu!

***

Sewaktu Ontet asyik dimabuk realitas fiktif dari khayalan hasrat infantilnya, Wak Meong tampak sedang sibuk pula dengan kucing-kucingnya. Seekor kucing belang tiga melendot manja dalam gendongannya.

”Suthok Chuang Malaha Thia Kuang.. Ganteng banget kamu, yah?!” ia kecup bibir mungil kucing jantan itu, ”Mandi, yuk, sayang?” Si belang tiga dari famili felidae, felis silvestris catus pun mendengus pelan.

“Ayo, dong, sayang.. Jangan emoh gitu, ah..” bujuk Wak Meong lagi. Hewan yang bernenek-moyang Miasis pada masa Eosen itu tampak cemberut saja. Ia tahu kalau mandi adalah ritual yang paling dibencinya, kecuali bila setelah itu ia dijanjikan semangkuk susu hangat dengan nasi dan ikan sarden kaleng kegemarannya. Tuannya pun paham perangai buah hatinya.

”Suthok, nanti setelah mandi, kamu Mama buatkan semangkuk susu Dancow hangat, ”rayu Wak Meong pula, ”Mama kan selalu tepatin janji sama kamu.. Tapi, mandi dulu, yaa, sayang.. Kan udah dua minggu kamu belum keramas.. Malu dong ama Christina Aguillera, si bulu putih cantik incaranmu?!?”

Suthok si belang tiga pun melompat turun. Berjalan menjinjit menuju pancuran ledeng di samping paviliun. Wak Meong bergegas menyusul dengan gaya jalan berjinjit pula. Bahagia mengalir dalam pembuluh-pembuluh darahnya! Bahagia yang bersumber pada curahan kasih sayangnya yang rumit, tidak proporsional sebagaimana-mestinya. Bahagia yang berasal dari konsentrasi menyeluruh aktivitasnya untuk mengurusi segala kebutuhan 23 ekor kucing.

Kembali pada diri Ontet. Wah.., wah.., wah..! Ia kini tampak berjoget ala padang pasir. Bagaimana tidak? Ia mesti mengimbangi liukan dua orang penari perut yang mengajaknya ’ngibing’ itu! Alangkah hebohnya goyangan mereka! Sesekali seorang dari penari itu melipat badannya dalam sudut kurang dari 100° ke arah belakang demi menyesuaikan hentakan gendang bernada stakato dan nada dinamis dari petikan senar gitar. Ini pula yang membuat Ontet seperti kerasukan ruh malaikat cantik yang pandai bergoyang. Dan ketika penari perut itu merapat ke arah tubuh buntal Ontet, maka tak pelak lagi Sang Sultan Jadi-Jadian itu keblinger. Tambah jadi ia meliuk-liuk mirip anak beruang es kutub Utara berguling-guling, bermain salju! Memendekkan badan, bangkit pelan-pelan, lalu dipendek-pendekkannya lagi. Menakjubkan! Hebat bukan buatan godaan delir khayalinya!

Dari dalam rumah Bambang berjalan dengan menenteng surat kabar lokal harian. Melangkah diikuti putri bungsunya yang baru berumur ± 5 tahun, Sophie Parkia Hassk. Ia bermaksud mengantar si bungsu ke Sekolah Taman Kanak-Kanaknya. Ia melirik Rolex yang melekat di pergelangan tangan kiri; hari hampir menunjukkan pukul 10 saat itu. Ophie, begitu panggilan manja buat si bungsu, tinggal berdua dengan sang ayahanda. Kakak satu-satunya yang berbeda umur 15 tahun di atasnya sedang kuliah di sebuah Universitas Swasta di Jakarta. Hari ini si bungsu giliran masuk siang sekitar pukul 10.45. Masih ada waktu sekitar 40-an menit lagi pikirnya.

Bambang membuka pintu utama. Sementara di beranda luar tepat depan pintu yang mau dibuka, sang adik masih riang bergoyang, joget ala padang pasir lengkap dengan segala atribut kebesarannya. Mulutnya komat-kamit, lalu dimonyong-monyongkan tak karuan.

Pintu telah dibuka. Ophie keluar duluan. Seketika ia memekik melihat seorang bertubuh gempal pendek, bertopi sarung bantal kursi dan berselimut taplak meja bordiran emas. Berjoget hot meliak-liuk! Perut gendutnya menampilkan udel bodong, muncul dari kemeja yang tak karuan lagi bentuknya.

”Aaaakuuuuuttttt…. Papaaaaaa….!!!!” jerit si bungsu histeris, ”Ada olang gilaaa…”

Parasnya tak berdarah, putih semua di kulit muka bayinya. Bambang yang melihat si bungsu kesayangan tengah ketakutan langsung menggendongnya. Ia kemudian melangkah keluar hati-hati. Was-was juga dirinya. Jangan-jangan orang gila yang disebut Ophie bawa senjata! Ia pun waspada. Tangan kirinya meraih sapu dari samping pintu.

”Heh… Siapa kamu!!!” bentak Bambang keras, bersiap mau menyabetkan sapu yang dipegang. Tetapi, orang yang dibentaknya tak mengindahkan. Kini ia benar-benar ingin menggebuki orang gila yang matanya tertutup sarung bantal kursi itu. Ia masuk kembali ke dalam rumah, menurunkan Ophie dan keluar lagi setelah mengunci pintu utamanya.
”Wuuutt… ” sabetan sapu lantai mengarah pada kepala orang gila.

Bunyi sapu berbenturan dengan tengkorak kepala terdengar seiring patahan kayunya, ”Blarrghh.. Dreeenntriiinggg…” ujung patahan kayu menjatuhkan hiasan pete dari tembaga ke atas keramik lantai. Sontak si orang gila yang tak lain adalah Ontet mendadak tersadar. Terhuyung-huyung, kemudian terjerembab di bawah pilar sebelah kanan beranda rumah. Sarung bantal kursi yang tadi menjadi mahkota jadi-jadiannya terlepas. Ia meringis, menahan sakit bukan kepalang di kepala sebelah kanannya.

Bambang yang tadi kalap mulai bisa menguasai diri kembali. Ia arahkan pandangannya lekat-lekat pada lelaki yang terjerembab kesakitan di lantai. Ia kucek-kucek matanya, dan jelaslah terlihat lelaki itu adik kandungnya sendiri. Ia berjalan mendekat untuk memastikan.

”Ontet… Ontet… Kamukah yang kulihat ini?!”

”Iyyy…yaaa…, Kak.. Ini aku, Ontet… Aduuuuhhh…” sahutnya tersendat dan masih meringis-ringis. Bambang membantu adiknya berdiri. Ia papah dan dudukkan ke kursi beranda.

”Kenapa kamu tadi bertingkah aneh, Ntet?!” tanya Bambang tak habis heran, ”Kamu sudah menakuti keponakanmu, Ophie..”

Ontet yang kesakitan tak menjawab. Ia kembali mengaduh-aduh, memegang kepalanya yang disabet pakai kayu sapu tadi. Kulit kepalanya robek sebuku jari. Darah mengalir turun ke daun telinga kanannya. Melihat ini sang sang Kakak merasa bersalah. Tak sampai hati mendapati saudara sedarahnya terluka karena kekhilafannya.

”Ayo, ke rumah sakit dulu.. Kepalamu harus diobati..” Ontet menurut. Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan miring hampir jatuh bila tak ditangkap kakaknya.

”Wakkk… Wakkkk… Wakkk…. Meongggggg….Meeeeooooonggg…” teriak Bambang seketika, merasa butuh bantuan. Namun, bala bantuan yang datang ternyata sepuluh ekor kucingnya Wak Meong.

”Ngeooonggggg… Ngeeeooonggg… Ngeeeeooonnggg…” kebisingan tiba-tiba mengepung beranda rumah. Kucing-kucing itu merasa dipanggil sebagaimana biasa tuannya hendak memberi makan. Mereka berisik sekali!

”Kurang ajar…!!” Bambang berang. Disambitnya sapu patah yang diambil dari lantai. Kucing-kucing itu pun berhamburan pergi.

Tiba-tiba Wak Meong muncul dengan wajah cemas, ”Aaa..ada apa, Nak Ba…mbang???”

Perempuan sebatangkara 60-an tahun itu gemetaran. Tambah cemas dirinya ketika melihat Ontet berdarah-darah pada wajah. ”Ada apa dengan adik Nak Bambang??”

”Sudah jangan banyak tanya dulu, Wak..!! Aku butuh bantuanmu sekarang! Kemarilah!” Wak Meong tak bersuara. Ia mendekat ke majikannya.

”Dengarkan baik-baik.. Aku mau ke rumah sakit, mengobati adikku ini. Tolong jaga Ophie di dalam, yaa, Wak?!? pinta Bambang kemudian. Wak Meong patuh.

”Iya, Nak..” sahutnya pendek sambil melangkah mau masuk ke dalam rumah. Malang baginya, ia menabrak pintu yang terkunci.

”Makanya, Wak.. Tanya dulu, kek, pintunya kukunci tadi! Nih, kuncinya..” Bambang menyodorkan kunci rumah.

Sambil meraih kunci dari majikannya, Wak Meong nyeletuk, ”Kata Nak Bambang tadi jangan banyak tanya dulu.. Yaa, Wak nurut aja!”
”Sudah…Sudah… Masuklah cepat! Urusin Ophie dulu sana!”

Wak Meong membuka pintu dan masuk ke ruang tamu yang amat luas. Dicari-carinya si bungsu Ophie.

”Ophie.. Ophieeee… Ophieeee…” suaranya memantul kembali. Tapi, Ophie belum ia temukan. Lamat-lamat Wak Meong mendengar suara isak tersendat-sendat. Ia telusuri terus sampai pada sumber suara yang ternyata ada di bawah meja jati di tengah-tengah ruangan. Si bungsu yang telah ditinggal sang ibunda ketika melahirkannya, tampak sesunggukan menahan tangis yang terdengar mengisak.

”Ophie.. Ini Wak Meong, sayang.. Sini, yukk.. Anak pintar.. Keluar dari sana, sayang…” bujuk Wak Meong.

Si bungsu Ophie akhirnya mau keluar dari kolong meja. Mendekati pembantunya dan langsung digendong. Ia masih tersedu-sedan.

”Wak, olang gila itu macih ada, yaa?” bisiknya masih ketakutan.

”Itu bukan orang gila, sayang. Itu pamanmu, Nak Ontet..” jawab Wak Meong menenangkan, ”Coba kita lihat keluar..” Demi mendengar ini, Ophie membenamkan wajahnya. Ia tak sanggup menemui sang paman kandung yang katanya ’orang gila’ itu. Tapi, Wak Meong tetap berjalan keluar.

Sesaat kemudian, si bungsu berteriak kembali, ”Olang giiillaaaaa…. Pelllgggiiii…”

”Cup…Cup…Cup… Sayang, tak apa, Nak… Itu paman Ontetmu…” Wak Meong berusaha menenangkan Ophie.

”Aduuh, Wak… Kok, dibawa keluar pula?!?” keluh Bambang yang belum pergi, “Tak apa, Nak.. Papa ada di sini. Ia dekati si bungsu yang mendekap erat Wak Meong, ”Ini Papa, Nak.. Ophie, sayang… Lihatlah! Ini Papamu, Phie…” Si bungsu memberanikan diri, ia mengangkat wajahnya. Bambang tersenyum, buah hatinya langsung ia raih. Digendong dalam pelukannya.

”Ophie… Ini paman Ontet, sayang… Bukan orang gila, Nak…” ada nada protes sedikit terdengar dalam ucapan yang keluar dari mulut Ontet.

”Jangan banyak bunyi, Ntet!” sergah Bambang seketika, ia khawatir Ophie histeris lagi. Ontet menahan lidahnya berkata-kata.

”Ophie.. Papa mau mengobati pamanmu ke rumah sakit. Ophie tinggal di rumah dengan Wak Meong dulu, yaa, Nak?”

”Tapiii…” suara si bungsu tersendat, ”Tadi kan Ophie mau cekolah, Pa?!”

”Anak pintar kesayangan Papa.. Nanti setelah dari rumah sakit, Papa pulang lagi.. Buat jemput dan antar Ophie ke sekolah, sayang..”

Si bungsu hanya diam. Bambang melirik ke arah Wak Meong agar mengambil Ophie dari gendongannya.

”Papa Cuma sebentar, sayang.. Nanti pasti pulang lagi,” Si bungsu Ophie hanya menatap sendu, ”Ayo, dong, jangan cemberut gitu, anak pintar?”

”Papamu sebentar, kok, sayang..” ujar Wak Meong meyakinkan Si bungsu pula.

Bambang melihat sekali lagi pada buah hatinya. Kemudian ia mendekati Ontet yang memegangi kepala , berupaya menahan kucuran darah dari luka robeknya. Mereka berdua lalu menuju Opel Blazer Hitam yang terparkir di depan kamar paviliun Wak Meong. Beberapa saat berselang terlihat mobil itu mengarah ke gerbang pagar rumah. Wak Meong menurunkan Ophie. Buru-buru membukakan pintu pagar.

***

Setelah kira-kira ± 30 menit berada dalam perjalanan, Opel Blazer milik Bambang sekarang berhenti tepat di depan Intensive Care Unit rumah sakit swasta terdekat. Ia bergegas turun dan masuk menuju ke meja perawat jaga di dalam. Ontet yang duduk di jok sebelah sopir masih memegangi kepalanya. Punggung tangan kanannya terlihat ada rembesan darah membeku. Stamina tubuhnya menurun; mungkin karena shock dan darah kepala yang mengucur cukup banyak dari sejak ia terluka tadi.

Bambang dan dua orang perawat laki-laki yang membawa kereta tandu pasien keluar dari ruangan ICU. Mereka terburu-buru ke arah pintu mobil bagian depan. Ketika pintu mobil dibuka, Bambang dan perawat jaga sibuk menurunkan dan membaringkan Ontet di atas kereta tandu. Bergegas membawa masuk ke dalam.

”Tolong kapas, perban dan pembersih lukanya!” pinta seorang dari perawat kepada rekan dinasnya. Mereka sibuk membasuh luka robek pasien yang hampir pingsan itu.

”Bapak… Bapak, jangan mejamin matanya, yaa.. Sadar, yaa, Pak?”

”Untung cepat dibawa, Pak..” ujar si Perawat itu menoleh ke arah Bambang, ”Memangnya kena apa, Pak? Sampai luka robek begini?”

”Eh.., Oh… Itu tadi kena timpa genteng rumahnya yang jatuh..” Bambang gelagapan berbohong, ”Dia tadi lagi menyapu halaman rumahnya, tiba-tiba angin kencang datang. Beberapa genteng rumahnya runtuh dan mengenai kepalanya.”

”Kalau boleh tahu… Bapak ini siapanya?” tanya perawat lagi. Tetapi, alis matanya hampir menyatu ketika menemukan serpihan kecil kayu masih menempel di luka robek.

”Saya kakak kandungnya.. Tadi kebetulan mampir. Pas saya masuk ke pekarangan, saya lihat dia terkapar di tanah…” lancar sekali Bambang mengarang cerita.

”Oh, gitu…” sahut perawat pula, ”Kami harus menjahit lukanya, Pak…”

”Jahit aja…” ujar Ontet lemah hampir tak terdengar.

”Disuntik dulu, yaa, Pak.. Tahan, ya?”

Perawat membius lokal kepala Ontet. Setengah menit kemudian, ia mulai memasukkan benang hitam ke lubang sebuah jarum berbentuk melengkung seperti bulan sabit. Teliti ia sekali bekerja. Menjahit luka menganga dengan panjang sekitar 3 senti demi merapatkannya kembali. Kemudian, setelah urusan jahit-menjahit kulit kepala itu kelar, ia memolesi kepala Ontet dengan cairan kuning yang meresap dalam perban bantalan luka. Membalutnya dengan perban penutup dan menguncinya dengan merekatkan empat potong barisan plester. Lengan si pasien juga dipasangi infus berisi pengganti cairan tubuh yang hilang dan suplemen pemulih tenaga.

“Istirahat dulu, yaa, Pak…” kata si perawat itu, dan kemudian mendekati Bambang.

“Boleh saya bicara dengan bapak?” ajaknya pada keluarga si pasien. Mereka lalu keluar ruangan ICU. Mengarah ke tempat duduk di luar pintu masuk.

“Saya menemukan ini, Pak…” perawat menunjukkan serpihan kayu sapu pada Bambang, “Bapak bilang tadi, saudara bapak tertimpa genteng jatuh karena tiupan angin, benar begitu, Pak?”

Bambang terhenyak diinterogasi perawat yang menjahit luka robek adiknya itu. Ia tak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu. Otaknya beku, pikirannya tersumbat.

“Baiklah… Saya hanya bertugas memberikan pertolongan medis saja, Pak…” ujar si perawat diplomatis, “Namun bila ada hal-hal yang tak diinginkan, saya harap bapak bersedia memberikan keterangan yang jujur dan bertanggung-jawab penuh. Bagaimana, Pak? Bisa?” tekannya pada Bambang.

“Iya..ya..ya… Saya bisa…” jawab Bambang gugup. Perawat itu lantas meninggalkannya masuk kembali ke ruangan ICU. Ia tampak memeriksa ulang keadaan pasiennya. Setelah selesai, ia beralih ke tempat tidur samping dimana seorang pasien lainnya yang patah kaki akibat kecelakaan terbaring menunggu kedatangan anggota keluarga yang telah dihubungi.

Bambang merasa bimbang kini. Ia masih memikirkan maksud kata-kata ‘bertanggung-jawab penuh’ yang ditekankan melalui intonasi ucapan perawat tadi. Terbayang olehnya kalau-kalau ia dituduh menganiaya adiknya sendiri. Dibawa ke kantor polisi, dan diselkan di sana. Ia teringat si bungsu Ophie dan bisnis petenya yang lagi menanjak. Hancurkah semua yang ia bangun dan rintis sedari awal karena masalah ini? Apakah hidupnya yang baru mulai terasa manis lagi sejak kematian istri tercintanya lima tahun lalu sekarang mesti berakhir tragis? Ia terkenang masa-masa sulitnya dulu ketika ia berjualan masih mencari laba ribuan rupiah. Jangankan untuk hidup mewah dan berlebihan seperti saat ini, dulu ia mesti benar-benar mengekang keinginannya untuk apa pun yang cenderung memboroskan uang. Hidup pas-pasan, jungkir-balik bekerja mulai dari pukul 3 dini hari sampai petang menjelang. Bayangan ini silih berganti dengan prasangka resiko dibui akibat kekhilafannya pada Ontet sejam lewat yang lalu. Lesatan demi lesatan peristiwa masa silamnya bak kilat sambar-menyambar dengan gelegar guntur paranoia yang akan meledakkan kemapanan hidup yang susah payah diraihnya. Bambang dikejar-kejar ketakutannya sendiri. Dirinya gelisah! Jiwanya dihimpit resah! Benarlah makna yang terkandung dalam kalimat bijak: ’Kecintaanmu terhadap sesuatu, membuatmu buta dan tuli.’ Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan adiknya si biang kerok yang sedang terbaring lemah. Namun, hatinya tak tega. Dalam kepungan konflik batiniah, ia beranjak dari duduknya. Masuk kembali menemui perawat jaga tadi.

”Boleh saya minta izin pergi sebentar?”

”Bapak mau kemana??” nada perawat itu curiga, ”Bukankah yang sedang terbaring lemah itu adik kandung bapak?”

”Iya, saya tahu.. Tapi anak saya juga sedang sakit di rumah. Saya mau membawanya ke sini untuk sekalian berobat. Boleh saya pergi sebentar??” nada suara Bambang kini terdengar memohon pengertian.

”Kami bisa memberikan izin untuk itu.. Tapi, tinggalkan kartu pengenal dan alamat rumah bapak agar kami dengan cepat bisa menghubungi. Supaya bila terjadi ’sesuatu yang tak diinginkan,’ bapak segera tahu..” perawat itu tegas berkata tapi mengerti kebutuhan lawan bicaranya.

”Baiklah.. Saya tinggalkan kartu nama dan KTP saya ini..” Bambang membuka dompetnya dan menyodorkan dua lembar kartu identitas dirinya.

”Tolong jangan lama, yaa, Pak?”

”Saya hanya sebentar. Saya pasti segera kembali ke sini. Anda jangan khawatir.. Itu adik saya yang terbaring, mana mungkin saya lepas tanggung-jawab..”

”Baiklah kalau benar begitu janji bapak.. Silakan jemput anak bapak di rumah..”

”Terima kasih atas pengertiannya..” ujar Bambang sopan dibuat-buat.

Perawat itu membalasnya dengan seulas senyum penuh arti, mengiring kepergian Bambang nan bimbang hingga masuk ke dalam mobilnya. Seulas senyum yang membangkitkan syak dan tanya: Akankah ia kembali ke sini lagi? Benarkah janji yang diucapkannya? Tegakah ia meninggalkan adik kandungnya yang ’sakit’ itu?

***

Sepeninggalan kakaknya Ontet mulai berangsur pulih. Tentu saja cepat pulihnya. Orang seperti Ontet memiliki daya tahan tubuh fisik yang kuat; sebab, sakit sebenarnya bukan terletak di sana melainkan jauh dan begitu jauh tempatnya yaitu dasar jiwanya. Tatapan matanya mengarah pada langit-langit ruangan ICU. Oh, bukan hanya di sana! Ia menatap lebih jauh lagi. Langit-langit itu bukan materi yang mampu menghalanginya untuk menerobos suatu dunia lain. Dunia berkenyataan imajiner serba-mungkin ciptaan khayal deliriumnya. Individu seperti Ontet ini memberikan suatu kepercayaan pada ilusi yang sama besar dengan kepercayaan yang diberikannya pada nalar logika. Maka, peristiwa dan kejadian yang bagi orang normal adalah hal yang tak masuk akal, bagi Ontet itu semua benar-benar tengah berlangsung dan nyata terjadi. Ia selalu tertarik untuk melibatkan dirinya lebih intens!

Kini ia melihat sebuah lubang besar menganga pada langit-langit ruangan. Sambil berbaring ia tatap lubang itu dengan seksama. Ia menyaksikan bagaimana pelan-pelan di sisi pinggiran lubang telah menyala api yang kian membesar. Api mulai membakar plafon dengan cepat. Merambat turun dan menyambar benda-benda terdekat yang melekat di tembok. Nyala api yang kian membesar itu tengah mengejar kain gordyn jendela ruangan.

”Api… Api…. Api…. Toloonnngggg…” Ontet panik, menjerit tiba-tiba mengagetkan semua orang yang ada di ruangan ICU. Para perawat jaga dan pasien yang bersebelahan tempat tidur tersentak dengan teriakannya.

Dalam penglihatan Ontet, api kini telah pula menjangkau tempat tidurnya. Ia bangkit mendadak. Dicabut paksa infus yang terpasang di lengannya. Tiang infus terlempar ke samping dan mengenai pasien di sebelah ketika ia meloncat ketakutan dari pembaringan. Ia bergegas, berlari menyelamatkan diri. Para perawat bertindak cepat. Mereka berusaha mencegah pasien yang mengamuk tiba-tiba itu. Tapi, mereka kalah kuat dengan tindakan aggresif Ontet yang menerobosnya, berlari seperti dikejar hantu menuju pintu keluar ruangan. Ia terus berlari dan berlari tanpa melihat kiri-kanannya lagi.

Ia masih berlari hingga sampai luar pagar rumah sakit dan hendak menyeberangi jalan di tengah lalu-lalang kendaraan yang sedang ramai siang itu. Ketika baru beberapa langkah kakinya menyeberang, sebuah Opel Blazer Hitam menabraknya dengan keras.

”Braaaakkkhhh…” Ontet terpental beberapa meter. Ia terlempar jauh. Inersia laju mobil yang menabraknya menciptakan momentum benturan keras tubuh gemuknya mengakibatkan bagian depan mobil yang penyok. Kepalanya membentur keras beton cor-coran pembatas trotoar jalan. Ia terkapar mengenaskan. Kepalanya rengkah. Cairan otaknya bercampur darah segar mengalir dari tengkorak kepala Ontet yang pecah menodai batu trotoar.

Bambang shock melihat kejadian ini. Ia terpaku, duduk diam membeku di jok mobilnya. Orang-orang yang menyaksikan kecelakaan maut ini berkerumun mendekat. Mereka berteriak-teriak menunjuk ke arahnya. Beberapa saat ia dicekam kepanikan. Ia mulai mengumpul-ngumpulkan kesadarannya yang terbang sejenak tadi. Membuka pintu mobil, ia memberanikan diri keluar. Berjalan limbung menuju korban yang tergeletak di pinggir trotoar.

Ketika sampai di tempat korbannya, ia seketika menjerit histeris karena mengenali tubuh dengan kepla pecah yang sudah tak bernyawa lagi itu.

”Ontetttttttt…. Onteetttttt… Adikkuuuu… Ontetttt….”

Orang-orang yang mengelilinginya tak bersuara. Suara mereka hilang ditelan jerit kepedihan dari sesal mendalam yang diteriakkan Bambang dengan serak dan terisak-isak.

Yaa, Bambang memang kembali lagi ke rumah sakit, namun kedatangannya bukan bersama anaknya yang mau sekalian diajak berobat. Kedatangannya bersama tangan dingin maut yang mengakhiri hidup saudara kandungnya sendiri. Ia adalah malaikat maut yang menuntaskan petualangan tak waras adiknya yang menderita gangguan jiwa yang telat disadari orang-orang terdekat semasa hidupnya. Ontet menutup lembar terakhir kehidupan dunia serba-mungkinnya dengan tetap mengalami penderitaan nan tak tertanggungkan. Nasib sial kali ini telah bersekongkol dengan takdir yang pedih!



4. Sedekah


“Usaha bangkrut.. Modal terakhir dilarikan orang.. Hutang menumpuk..” keluhnya dengan wajah sendu, matanya sayu tak memancarkan gairah.

Masalah, yaa, masalah sepertinya sedang ramah sekali menyapanya. Masalah kemudian datang mendekati tanpa sanggup untuk diprediksi, tiba-tiba hadir di tengah kehidupan pribadi seseorang, ia mungkin saja sedang menikmati karunia yang didapat. Juga masalah sedang menari-nari riang di dalam kehidupan temanku ini, terpampang jelas di wajahnya yang berekspresi memelas! Dan, kalau aku meluangkan waktu cukup lama menatapnya, aku mungkin bisa belajar cara membaca sebuah obituari dengan penghayatan penuh. Atau, bisa jadi ada metode pengekspresian baru yang kudapat cuma-cuma sehubungan dengan pembacaan puisi bernuansa elegi.

“Kau lalai!” cetusku tanpa basa-basi, menolak rasa iba yang merayuku untuk ikut-ikutan bermelankolia.

Ia menatapku dengan kosong, “Lalai..?!? Ya, aku memang lalai! Aku terlalu percaya dengan kelihaianku berbisinis. Aku tak pernah menyisihkan uang yang kudapat untuk jalan ibadah.”

Wajahnya kini terbalut sesal. Kusut rautnya.

“Baru kau sadar rupanya! Coba kau bersedekah, dan mensyukuri apa yang kau dapat, pasti tak mungkin Tuhan mengambil nikmat-Nya mendadak begini cepat!”

“Sssse..b..bbbe..nar..nya apa sedekah itu membuat ru..gi?” tanyanya tergagap-gagap.

“Justru sebaliknya, kawan.. Sedekah itu membersihkan uang hasil usahamu. Memberi berkat dari tiap lakumu berbisnis!” terangku padanya.

“Percayalah..” kataku lagi berusaha meyakinkannya, “Tuhan tak pernah tidur. Dia melihat apa yang kita lakukan setiap saat. Bahkan Dia tahu rencana-rencana culas yang mungkin pernah dan akan kita terapkan demi meraih keuntungan besar!”

Ia manggut-manggut. Sementara ia asyik mencerna apa yang kukatakan barusan, seorang perempuan peminta-minta menghampiri kami.

“Sedekah, Nak, seikhlasnya…”

Kami saling pandang jadinya. Baru beberapa menit sebelumnya kami berwacana tentang mulianya bersedekah. Sekarang Tuhan menguji kami!

“Ini, Bu…” temanku memberi beberapa lembar uang kertas pecahan dua ribuan pada pengemis itu.

“Makasih, ya, Nak…” ujar Ibu itu, dan mendo’akan “Semoga Allah memberikan kemurahan rezeki dan kemudahan segala urusan…”

Mataku lama menatap wajah perempuan tua itu. Demikian juga dengan temanku, masih tertegun dan terus menatap punggungnya sewaktu ia menyeberang jalan.

Memang tangan yang berada di atas itu lebih mulia dibanding dengan tangan menampung bantuan yang berada di bawah. Namun entah kenapa? Kami seperti melihat bahwa ibu itu lebih mulia daripada kami dengan do’a-do’anya yang kami dengar. Bukankah do’a hamba yang tertindas selalu makbul dan seperti kilat melesat menuju Arsyi?

“Semoga saja..” gumamku dalam hati.

“Ya, sudah.. Aku mau pulang dulu, lain waktu aku main ke sini lagi..” sambil menepuk akrab bahu temanku, aku berpamitan.

***

Dua hari kemudian, HP ku berdering nyaring, membangunkanku dari tidur siang nikmat yang baru terlaksana seperempat jam.

“Assalammu’alaikum… Ada apa, Wan?”

“Subhanallah… Can.. Do’a ibu tua itu manjur rupanya… Uang modal terakhirku untuk usaha kembali! Tadi pagi istriku menemukan bungkusan dalam plastik yang diantar seorang anak kecil.” serunya bersemangat di seberang telepon, “Di dalamnya juga ada sepucuk surat dari orang yang melarikan uangku dulu.”

“Hmm.. baguslah..” sahutku malas-malasan, setengah sadar karena dibangunkan dengan tiba-tiba, “Terus apa isi suratnya?”

“Di surat itu dia bilang hatinya gelisah tak tenang. Tiap saat selalu tergambar wajahku di matanya. Intinya dia merasa bersalah, bro..”

“Syukurlah akhirnya ada penyelesaian buat masalahmu… Sekarang yang penting, kau harus bangkit lagi berbisnis usaha perabotanmu, dan jangan lupa bersedekah. OK, bro.. Aku senang mendengarnya, aku mau lanjut menjemput mimpiku yang jalannya kau potong separuh dengan panggilan teleponmu..”

“Ok.. Can… Hahahaha… Sorry udah ngegangguin istirahatmu.. Assalamu’alaikum..” salamnya menutup pembicaraan.

“Wa’alaikumussalam Warrahmatullah Wabarakatuh..” jawabku memperpanjang salamnya.

Kuletakkan HP ku. Aku duduk di tempat di tidur. Selera untuk melanjutkan tidur lagi hilang seketika. Aku termenung memikirkan betapa mudah Tuhan membalikkan segala sesuatunya. Kesulitan yang awalnya menjerat batang leher seorang hamba-Nya, mendadak hilang. Tentu dengan satu syarat diri hamba itu mesti ingat pada-Nya! Bukankah ketika diri seorang insan mencoba mendekati Rabbi dengan berjalan, niscaya ia mendapatkan Tuhannya yang menghampiri dengan berlari?

Benar sekali! Tak ditemukan keraguan! Setelah kesulitan-kesulitan itu akan datang kemudahan-kemudahan. Segalanya tercipta dalam pasangannya.

“Subhannallah..” aku membathin, “Sungguh Engkau tak pernah tidur, Tuhanku.. Segalanya menjadi mudah ketika diserahkan pada-Mu.”


5. Pecinta Malam

Sayatan biola tembang lawas Roxanne Veil Vanessa Mae makin menenggelamkan lelaki itu, meluncur ke tubuh malam. Jiwa melayang, didorong kemampatan udara beku, terburu menuju langit yang tenang dalam kelam. Bintang-bintang tak tinggal diam, merayu dengan tarian cahaya gemerlap, telah berhasil merambangkan kesadarannya hingga gravitasi seakan-akan tak mampu menariknya ke bumi. Bulan bulat mengapung sempurna. Sesekali dilintasi dua-tiga baris awan kelabu. Debur ombak Pantai Kuta susul - menyusul, irama harmoni yang berbaur dengan pesona ungu tua horison seakan membingkai lukisan impressif hasrat ingin mengada dirinya.

“Malam yang indah semoga abadilah dalam tenang misterimu,” bisiknya dalam hati, “Sungguh malam tak selamanya kelam, malam terkadang temaram lewat pantulan sinar bulan, malam juga membawa ketenangan setelah lewati petang, malam juga selalu dinanti saat penat datang. Aku cinta padamu, wahai malam.”

Jujur hatinya berkata. Keagungan malam makin meninggi ketika ia menjadi momentum curahan hati. Malam seperti ruang yang tak pernah sesak menampung semua keluh-kesah. Berkenan menjadi teman setia yang diam menyimak, tanpa berniat mengkritisi setiap khilaf mahluk bumi.

Juga bagi lelaki itu yang selalu membutuhkan malam, keping waktu yang dapat menjadi sandaran bagi rapuh tubuhnya yang jauh dari rumah. Malam pun begitu bermurah hati, selalu memahami sederhana kehendaknya. Malam mengerti batas kemampuan lelaki itu. Lalu, melalui kepak-kepak kelam yang luas, ia berkenan menjadi penopang baginya.

“Aduhai malam.. Inginku tak banyak. Bila esok masih dapat rapuh tubuh ini mengejar rezeki dari pencipta-Mu, bantulah aku mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatan semangatku.”

Ia mengadu, hendak ia curahkan semua gundahnya. Malam pun ingin menenangkan diri lelaki itu. Malam merasakan bening kejujuran yang terungkap melalui curahan hatinya. Ia tersentuh, menanggapi penuh pengertian.

Wahai engkau, anak Adam.. Dengarlah..

“Siapa yang memanggilku ini? Ah, mungkin hanya perasanku saja!” ia membatin heran, mendengar sayup suara memanggil dirinya.

Wahai engkau anak Adam.. Dengarlah suaraku dengan hatimu. Akulah malam yang memanggilmu..

Lama lelaki itu mencari-cari sumber suara yang memanggilnya. Ia menoleh ke samping kiri-kanan, tak seorang pun ia temukan ada di dekatnya.

“Jangan-jangan…” belum selesai gumamnya lagi, kembali terdengar panggilan tadi.

Wahai anak Adam, mengapa engkau seperti asing dengan diriku? Lihatlah ke atas langit kelamku.. Dengarkan aku dengan nuranimu..

Malam kembali memanggil-manggil lelaki itu. Ia kini mengeraskan suaranya. Meyakinkan bahwa ia adalah wujud pekat memadat yang tenang selalu akrab dengan kekasih hatinya. Setia menemani dalam keterbatasan materi hayat mengenali diri. Malam tahu apabila ia mendapati keterasingan yang berasal dari keterbatasan indrawi sang kekasih, ia tak sungkan menggandeng tangan, memberi tuntunan.

Lelaki itu pun sadar bahwa malamlah yang memanggilnya sedari tadi. Ia dongakkan kepalanya ke langit. Tangan- tangan malam keluar dari ujung-ujung sayapnya yang hitam. Menyambut lelaki yang masih berusaha membebaskan diri dari rasa ketakjubannya kini.

Ulurkan tanganmu. Sentuhlah jemari sejukku ini, wahai anak Adam yang gundah gulana..

Lelaki itu baru bisa bangkit dari ketidaksadaran. Setelah ia selidiki keadaan sekitar, tak seorang manusia yang berada di dekatnya. Ia pandangi sekelilingnya sekali lagi. Hanya ada segelas teh hangat dan sebungkus Sampoerna Mild berdekatan dengannya. Segera ia tahu bahwa malamlah yang sejak tadi menyayup dalam panggilannya. Walaupun demikian, masih saja ketakjuban membelenggu dirinya. Ia berontak memutuskan rantai logika akal budi yang merangsang pikiran mencari-cari sebab dari keistimewaan peristiwa yang tak biasa ini. Akal budinya seperti menumpul, tak mampu menembus dinding pembatas fenomena metafisika yang ia alami. Memang ada suatu wilayah yang tak dapat dijelajahi gerak menerobos akal. Tapi, lelaki itu hanya insan biasa, ia masih tergoda ke-maha agungan dari kewibawaan akal. Rasionalitas hanya dapat meretas gejala yang nampak. Beruntunglah kiranya lelaki itu. Malam tak sungkan memberi tuntunan agar ia mampu menjejakkan kakinya di atas permadani bertabur bintang-gemintang yang gemerlap, hingga ia datang mendekat pada kehadiran tak terduga misteri agung karya seni indah dari Sang Maha Pencipta.

Beberapa saat berselang, lelaki itu tersendat-sendat bertanya, memberanikan diri setelah memperoleh kekuatan dari keyakinan yang timbul akan hakikat eksistensi. Ia sekarang menggunakan jernih penglihatan mata batiniahnya, menemukan keberadaan dari keping waktu kelam yang memanggil-manggil dirinya.

“Benarkah engkau, malam, yang memanggilku? Apa aku tidak salah mendengar? Bagaimana engkau bisa berlaku seperti manusia, berbicara dalam bahasa manusia, menyampaikan keinginanmu berbincang denganku”

Benar, aku lah yang memanggilmu dari tadi itu. Aku malam yang selama ini telah menjadi teman berbincangmu. Wahai anak Adam, mengapa kau tanyakan kemampuanku memahami dirimu? Bahasa apa pun dapat kumengerti, karena semua bahasa yang digunakan manusia adalah perlambang dari yang dilambangkannya. Manusia berbicara denganku melalui bahasa yang ia ciptakan untuk menyampaikan isi hatinya. Dan aku selalu bersedia menampung segala ungkapan yang terujar itu.

Lelaki itu terdiam mendengar penjelasan malam. Ia seperti hendak menafsirkan kata demi kata dalam tiap ungkapan malam. Lalu ia jadi malu sendiri. Ia teringat bahwa dirinya pernah menghujat malam ketika hujan deras menambah-nambahi kemisteriusan sang ruang pekat itu. Bahkan dulu ia pernah begitu marah hingga mengeluarkan kata-kata umpatan sebab ia pikir malam takkan mengerti permaksudannya.

Wahai, anak Adam.. Lupakanlah masa lalumu yang keliru. Aku sampai saat ini masih mau berbincang denganmu, tidakkah kau sadari dirku tak menaruh dendam pada semua perlakuan burukmu dulu? Dendam adalah kebathilan yang bersemayam dalam mata batin manusia yang terhijab. Dendam tak bermukim, atau mungkin dapat ditemukan di dalam semua unsur alam semesta. Ketika manusia merusak bumi - tempat hidup sementaranya menjelang Hari Perhitungan - percayalah padaku, bumi hanya sanggup terisak dan larut dalam sedu-sedannya saja. Namun, bumi tak menaruh dendam pada manusia yang berbuat sangat jahat terhadapnya. Bumi patuh pada takdir yang digariskan Sang Pencipta. Bumi yang tersedu itu harus rela menjadi hamparan bagi manusia walaupun bumi dijadikan arena pelampiasan hawa nafsu serakah manusia itu sendiri. Demikian pula kiranya dengan diriku sebagai masa bagi mahluk bumi mengistirahatkan tubuh setelah lelah menyergap seharian mengejar karunia Tuhan. Aku tak menentang takdirku. Aku tahu Tuhan tak menciptakan apa pun di semesta ini tanpa tujuan yang jelas. Tuhan jelas bukan Sang Maha Iseng yang melempar dadu ketika Dia mengkaryakan sesuatu. Juga ketika Tuhan menakdirkan diriku dalam rupa yang kelam disertai hawa dingin menusuk, mengkuliti daging tubuh semua mahluk hidup. Aku menerimanya. Sejak itu aku berusaha menjalankan kewajibanku sebagai ibadah atas rasa syukurku pada Tuhan.

Sehubungan dengan manusia, ketahuilah denganmu, wahai anak Adam, aku tak pernah bisa menumpuk dendam ketika aku dicemooh sebagai rupa waktu yang tak berseri, seram menyimpan kedalaman misteri yang begitu rapi tersembunyi. Bahkan aku tak mengindahkan keluh-kesah tiap bintang yang sinarnya telah disamarkan oleh silau lampu-lampu blitz diskotik. Padahal mereka setia menghiasi tubuh dengan gemerlap cahaya kerlap-kerlipnya.

Sejenak galir sihir keheningan hadir. Lelaki itu terpaku merenungi pengakuan jujur malam padanya. Lagi-lagi ia dikepung rasa rendah diri. Ia sebagai manusia telah begitu lalai mensyukuri berjuta nikmat yang telah bertubi-tubi ia dapati. Ia tak mampu menjadi seperti malam yang patuh dalam rasa syukur ketika mengetahui takdir dirinya sendiri. Ucapan bijaksana sang malam telah mengena, masuk merasuki hati dan jiwanya yang ingin berbenah.

“Aduhai malam betapa tinggi budimu, betapa putih cemerlang ketulusan hatimu.. Aku malu padamu, malam.. Aku telah tak pantas berada dekatmu.. Begitu banyak perbuatan tak layak telah mengotori jiwaku. Bahkan hatiku yang selalu berkeluh-kesah padamu hampir mengalahkan pekat warna tubuhmu. Bantulah aku wahai rupa waktu yang gulita namun benderang dalam budi pekertimu yang indah itu.. “

Bantuan apa pun akan ikhlas kuberikan untukmu, wahai anak Adam.. Apa yang mesti kubantu? Katakanlah padaku, jangan kau sungkan mengungkapkannya..

Mengalir kesejukan menuju jiwa haus lelaki itu, mendengar kesediaan malam membantunya berbenah diri. Dirinya terlihat seperti seorang pengelana yang lemah karena dahaga di tengah padang pasir memanggang, tiba-tiba mendapat sumber air bening penyambung nyawanya. Mendapati malam yang begitu ramah dan berkenan membantunya, lelaki itu pun tak sungkan mengungkapkan keinginannya kini.

“Wahai malam yang halus pekertimu, tunjukkanlah padaku arti dari eksistensi diriku selama hidup di dunia fana ini. Aku mohon padamu, kelam yang tenang..” pinta lelaki itu terus terang.

Aku akan menerangkan padamu, anak Adam.. Arti tiap keberadaan mahluk ciptaan-Nya di muka bumi. Tapi, janganlah kau siksa dirimu sendiri terlebih dahulu..

Lelaki itu bingung mencermati kata-kata malam yang ia dengar. Dahinya berkerut dengan bulu rambut alis di kedua matanya yang nyaris bertemu.

“Aku menyiksa dirku sendiri? Bagaimana bisa? Apa maksud malam dengan perkataannya ini?” batinnya resah.

Seolah-olah mengetahui isi hati lelaki itu, malam kembali berkata.

Anak Adam, dengarlah.. Sedari tadi kau tafakur, khusyuk menyimak tiap kata-kataku. Kau lupa dengan dirimu sendiri. segelas teh yang dua jam lalu telah kau seduh, mubazir terabaikan dirubung semut. Aku lihat juga bibirmu rindu untuk berjumpa sebatang Sampoerna Mild kesukaanya. Selain itu, tembang Roxanne Veil kesukaanmu diam tak melantunkan sayatan biolanya yang syahdu. Itulah maksud perkataanku agar kau tak menyiksa diri sendiri dulu sebelum mendengar petunjukku tentang arti keberadaan diri. Seruputlah tehmu itu. Isaplah dulu rokokmu, putarlah tembang-tembang favoritmu lagi. Aku berharap apabila engkau tak lalai dengan kebutuhan jasmani dan rohanimu, wahai anak Adam, percayalah padaku bahwa dirimu akan meresapi semua tuntunanku.

Lelaki itu pun tersenyum. Ia lihat sekelilingnya sekali lagi. Malam benar sekali. Ia lalai dengan dirinya sendiri. Ia pun mengangkat gelas putih porselin yang berisi teh manis celupnya yang dingin, meneguknya. Lalu ia cabut sebatang rokok, menyalakan dan merasakan betapa genitnya asap-asap nikotin menari-nari di rongga mulut, terus gemulai meluncur masuk ke dalam gelambir paru-parunya. Kemudian ia hembuskan perlahan dalam bentuk unik crop circle seperti wujud kreativitas iseng kaum intellektual beberapa waktu lalu. Malam pun senang melihat lelaki itu memposisikan dirinya secara wajar kembali.

“Aku siap menerima petunjukmu, wahai malam..” lelaki itu tampak penuh semangat.

Demikianlah kiranya setiap insan ketika telah mengira mampu melengkapi apa yang dibutuhkannya, ia nampak tergesa-gesa melakukan tindakan lainnya lagi. Namun, malam yang begitu jeli dan berniat menuntun diri lelaki itu untuk berbenah, kembali mengingatkannya.

Tunggulah dulu.. Pandangilah kembali dirimu sendiri, wahai anak Adam.. Aku masih melihat kau belum siap menerima petunjukku. Engkau belum memenuhi kebutuhanmu sendiri selengkapnya. Aku berkata demikian karena aku tahu kau juga menyukai musik, alunan merdu yang mampu menenangkan jiwamu itu. Musik juga kebutuhanmu. Aku tahu itu, wahai anak Adam.. Aku dulu pernah menyaksikan kau begitu hanyut dengan tembang-tembang lawas dari grup musik legendaris The Police. Mengapa tak kau putar lagu favoritmu ‘Every Breath You Take’ itu? Selain sayatan biola dari musik instrumental Vanessa Mae, aku tahu kau menyukai lagu yang kusebut tadi, bukan?

Malam memang penuh kebijaksanaan dalam keheningannya yang tenang. Karya seni tertinggi buah tangan dari Yang Maha Mulia Dalam Segala Nilai Estetika. Sebagai wujud yang tak dicerahi matahari, malam sangat mengagumkan dengan purnama yang sinarnya berasal dari kerjasama bulan dan matahari. Sunatullah menggariskan bahwa malam akan tetap indah dengan pantulan cahaya matahari yang diserap rembulan. Keteraturan gerak kosmik yang patuh menciptakan keselarasannya. Malam sangat mensyukuri akan hal ini. Untuk itulah ia akan mengajari lelaki itu tentang makna hakiki dari sebuah eksistensi diri. Ia sengaja mengingatkan lelaki itu agar senantiasa mengerti kebutuhan jiwa dan rohaninya selalu. Karena malam sangat paham bahwa seorang manusia bila telah sempurna memberi kebutuhan utama dirinya sendiri menurut batas-batas kewajaran, maka ia selanjutnya akan mulai melangkah ringan tanpa beban menuju pencarian fitrah dirinya yang suci. Tentulah hal ini setelah dirinya tak disergap rasa jenuh beribadah terus-menerus, bersimpuh di hadapan Sang Khalik. Lihatlah wajah malam yang ramah tersenyum ketika lelaki itu memutar lagu The Police yang begitu digemarinya. Malam sumringah saat telah terdengar lantunan romantis lirik-lirik disertai beat dinamis mampu menarik kepala lelaki itu terangguk-angguk, mengimbangi ceria nada-nada lagu lawas legendaris tersebut. Malam pun tak sungkan bernyanyi bersama lelaki itu kini.

Every breath you take and every move you make
Every bond you break
Every step you take, I’ll be watching you
Every single day and every word you say
Every game you play
Every night you stay, I’ll be watching you

Oh, can you see you belong to me?

Suasana begitu cair jadinya. Lelaki itu dan malam benar-benar telah menjadi sepasang kekasih yang begitu setia dalam hal apa pun. Malam tahu ia adalah milik lelaki itu yang senantiasa ingin ditemaninya. lelaki itu pun juga sangat menyadari bahwa diri dan hatinya telah terpaut pada malam yang tak pernah ingkar akan tiap janjinya. Sembari menikmati alunan musik lawas, kembali lelaki itu melanjutkan obrolannya dengan malam. Ia tak lupa akan keinginannya tadi, meminta petuah bijak sang malam, kekasih setianya itu, tentang arti hidup di dunia yang rapuh dalam kemateriannya.

“Wahai malam, kekasih setiaku, sekarang tunjukkanlah padaku arti hidup ini.. Diriku telah tenang, dan dapat menyimakmu dengan hati lapang.”

Malam pun mulai mengarahkan diri lelaki itu.

Wahai anak Adam, yang selalu ada di hatiku, baiklah.. aku akan memberi petunjuk tentang arti eksistensi diri yang sesungguhnya. Ketahuilah.. Bahwa sesungguhnya semua keberadaan di muka bumi ditundukkan atas perintah-Nya untukmu beserta anak cucumu kelak. Engkau adalah ‘Khalifah Di Permukaan Bumi’ atas takdir dari Tuhanmu. Camkanlah itu. Tiap keberadaan mahluk di bumi sebenarnya diciptakan Yang Maha Pemurah untuk dianugerahkan bagimu. Tumbuhan sebagai produsen nomor satu dalam rantai makanan pun telah menyadari bahwa dirinya ada demi kelangsungan hidupmu. Hujan yang dicurahkan Tuhan, yang mana dengan bulir-bulir beningnya itu, telah memahami pula akan tujuan akhir penciptaan. Lautan luas biru yang juga menyimpan makanan untukmu, juga takluk tunduk atas perintah Tuhan agar mengabdi demi kepentinganmu. Lalu apa yang menyebabkanmu tampak begitu resah?

“Entahlah malam, kekasih tercintaku.. Aku tak mengerti apa yang menggelisahkan jiwaku. Tapi, aku seperti mendengar bisikan lirih dari hati kecilku. Suara perlahan dan lemah hingga tak dapat kusimak dengan jelas.”

Lelaki itu menjatuhkan kepalanya. Ia tertunduk, menatap pasir-pasir putih di sekitar kakinya. Malam tak tega menyaksikan itu. Lalu berkata lembut penuh kasih sayang padanya.

Wahai anak Adam, kekasih yang kusayangi.. Engkau sebenarnya telah diberi Tuhanmu hidayah dalam desah nuranimu itu.. Tiap suara nurani adalah pintu menuju petunjuk Tuhanmu, ketahuilah kekasihku.. Suara nurani itu memberi petunjuk bahwa setiap insan hidup di dunia ini semata untuk beribadah dalam khusyuk berhadapan dengan Sang Maha Pencipta Yang Abadi. Mengapa insan harus tunduk di hadapan-Nya, tahukah engkau, wahai anak Adam?

“Sungguh.. Aku tak memiliki sedikit pun pengetahuan tentang itu, wahai malam kekasih setiaku.. Tunjukkanlah padaku, agar aku tak selalu berada dalam pemahaman keliru yang membelenggu,” pinta lelaki dengan wajah memelasnya yang lugu.

Wahai anak Adam, kekasihku yang ingin berbenah diri, ketahuilah materi dan energi adalah dua wajah kosmos - pembentuk semesta alam - dwi tunggal ini tak berdaya bila terpisah jauh dengan tempat-tempatnya yang berbeda. Begitu pula dengan manusia. Raga adalah tubuh materi, bergerak karena ruh pinjaman dari Tuhan. Bila Tuhanmu mengambil yang memang bukan hakmu itu, apa lah lagi guna tubuhmu itu? Dibalik itu semua tersirat makna bahwa engkau adalah ciptaan-Nya yang harus bersyukur atas setiap karunia yang diterima. Tubuhmu yang sebenarnya terdiri dua bagian itu - tubuh materi kasar dan tubuh ruh halus - diciptakan-Nya untuk semata-mata beribadah selama hayat bersemayam di dalam badanmu, wahai anak Adam.. Itulah makna sesungguhnya dari eksistensi dirimu di muka bumi ini.

Angin berhembus menggoyangkan dedaunan di sekitar tempat lelaki itu. Bulan dan bintang-bintang tertegun, memendarkan cahayanya seolah ingin pula turut memahami penjelasan malam. Lelaki itu akhirnya sesunggukkan, terharu akan mengetahui betapa Yang Maha Mulia telah begitu besar melimpahi dirinya dengan berbagai karunia. Hingga di Bali pun, tempat yang mana telah begitu jauh ia menjejakkan kaki, mengejar kehidupan demi penemuan makna hakiki di dalamnya. Tuhan, melalui malam bagian keping waktu yang Dia ciptakan, juga tak pernah lupa akan dirinya. Sungguh manusia takkan mampu bila disuruh menghitung sudah berapa banyak karunia dan rahmat dari Yang Maha Pemurah telah ia nikmati.


6. Cerpen : IMPAS

Suatu sore Gandul berada di sebuah Toko Pakaian. Pada seorang pelayan toko, ia menanyakan harga sebuah kemeja.

“Yang berlengan pendek ini, berapa harganya, Mbak?”

”Untuk Mas harganya murah aja.. Cuma 75 ribu, kok,” tawar pelayan toko itu sambil tersenyum ramah.

Gandul manggut-manggut. Seperti tak tertarik dengan tawaran harga dari si pelayan toko, matanya malah mengarah pada sebuah kemeja lain yang menempel pada dinding promosi di hadapannya.

”Kalau yang biru muda bermotif kotak itu, harganya berapa?” tanyanya lagi.

”Yang ini cuma 125 ribu. Bahannya halus, lho, Mas.. Warnanya tidak mudah luntur,” terang pelayan toko dengan sabar.

”Mas, tidak rugi beli kemeja ini. Toh, cuma nambah 50 ribu, Mas sudah dapat kemeja berkualitas.”

”Hmm, baiklah..” gumam Gandul pelan, ”Tapi, bisa dicoba dulu semua kemeja ini?”

”Silakan, Mas... Dicoba dulu kedua kemeja ini. Kamar pasnya ada di pojok kanan,” tunjuk si pelayan toko.

Segera saja Gandul membawa dua kemeja pilihannya tadi ke kamar pas.

Lima belas menit kemudian, ia tampak keluar dari bilik, dan menghampiri pelayan toko itu lagi.

”Ukurannya tidak pas. Yang biru bermotif ini terlalu longgar, Mbak,” terang Gandul.

”Coba kemeja yang ini, Mas..” anjur si pelayan toko padanya.

“Harganya berapa dulu, Mbak?” Gandul melirik pada kemeja yang disodorkan pelayan toko.

“Coba saja dulu, Mas, soal harga nanti saja,” agak kesal si pelayan menanggapi dan sedikit memaksa.

“Tapi saya mau tahu berapa dulu harganya,” debat Gandul tak mau penasaran.

“Harganya sama dengan kemeja yang sedang Mas pakai sekarang!” jawab si pelayan toko mangkel.
“Baiklah.. Kalau begitu saya coba dulu,” diambilnya kemeja yang di etalase. Ia menuju kamar pas lagi.

Cepat sekali Gandul muncul keluar kembali. Kemeja yang dibawanya tadi kini melekat di badannya.

”Saya sudah menaksir. Mbak juga tadi bilang bahwa kemeja yang saya pakai berharga sama dengan kemeja ini,” ujar Gandul merasa hatinya senang karena bergaya dengan kemeja baru tanpa harus membeli.

Lalu lanjutnya kemudian, ”Ambil saja kemeja saya ini dan silakan jual lagi di sini,” katanya sambil melangkah keluar toko pakaian. Si pelayan toko cuma melongo saja melihatnya. Telapak tangannya memukul dahinya sendiri.



7. Tentang Berpendapat


“Segala yang mungkin dikatakan dan ditafsirkan orang mustahil dibatasi.” ── Fyodor Dostoyevsky

Setiap peristiwa yang terjadi tentu memancing orang untuk menanggapi. Bentuk tanggapan ini biasanya mulai dari ekspresi langsung kekaguman, keheranan, ketakutan, kebahagiaan, kesedihan dan lainnya. Ungkapannya bisa jadi dalam bentuk pendapat atau pun penafsiran sehingga mengalirlah kata-kata keluar tanpa dapat ditahan lagi, diujarkan demi menyatakan suatu sikap responsif terhadap apa yang tengah terjadi.

Saya mempunyai pengalaman langsung mengenai hal ini yang sedikit menggelitik hati saya sampai sekarang. Berikut ini saya ceritakan kembali:


Catatan dari Diary Tertanggal 10 Desember 2004

Ada sebuah kisah lucu yang juga menggambarkan kebiasaan orang-orang di kotaku kini - Bandar Lampung. Saat itu, aku tengah berada di perjalanan di dalam angkot jurusan Tanjung Karang - Ratulangi. Rencananya aku mau mengambil buku yang kemarin kutitipkan di rumah temanku ─ di belakang Kampusku STBA Yunisla.

Di dalam angkot yang mengantarku ke tempat tujuan, aku duduk berhadapan dengan seorang bapak separuh baya. Dari pembawaannya yang lelah, aku kira ia baru saja mau pulang setelah bekerja seharian, dan ia tentu saja ingin segera sampai di rumah untuk beristirahat.

Angkot yang kami tumpangi berjalan merayap. Maklum waktu sore jalur yang kami tempuh selalu padat, dan lagi pak sopir sendiri rupanya tak mau pula menyia-nyiakan kesempatan untuk berkali-kali berhenti menangguk penumpang yang bertebaran di pinggir jalan.

“Huhh,” desah pelan si bapak di hadapanku.

Aku pun sebenarnya kesal juga melihat keadaan ini. Si sopir sepertinya sengaja memperlambat jalan angkot demi menambah penumpangnya celingak-celinguk ke arah pinggir jalan.

Lagi-lagi angkot berhenti di ketika melihat seorang ibu di di trotoar jalan.

“Langi, Langi…, bu?!” tawarnya pada calon penumpang itu.

Aku dan dua penumpang lain di dalam mobil kembali resah, karena biasanya si sopir akan bersedia berlama-lama membujuk calon penumpang yang ditemui. Lagi pula, si ibu yang ditanyai sopir tampak ragu antara mau naik dan tidak, serta terkesan bingung.

Sopir angkot kami pun kembali menanyakannya, “Emang mau kemana, bu?! Naiklah dulu, bu.. Ntar gak ada angkot lagi pas maghrib. Udah naik aja dulu, bu..”

Ibu yang tampak sederhana itu hanya memasang wajah ragu. Ia tampak antara ingin menumpang dan tidak. Bahkan si ibu kini seperti orang linglung yang sedang dirubung sekelumit masalah yang membelit dirinya. Sikap ini memancing reaksi bapak yang duduk berhadapan denganku yang sejak tadi sudah resah dan kesal karena terlalu lama mobil angkot berhenti, juga si sopir malah sengaja meladeni calon penumpangnya yang ragu-ragu itu. Si bapak pun mengeluarkan komentarnya yang cukup kritis dan nyinyir.

“Udah, pir… Ibu itu mah gak akan naek.. Lihat aja mukanya mirip orang kehilangan semangat hidup. Dia baru kena cere’ ama lakinya, tuh..”

Spontan meledak tawa penumpang dan sopir angkot kami mendengarnya. Aku pun tak bisa menahan rasa geli akibat perkataan si bapak di hadapanku ini. Aku tak bisa menyalahkan komentar si bapak mengenai ibu yang berdiri ragu-ragu di pinggir jalan itu. Sambil melajukan kembali kendaraannya, si sopir sekarang tampak geleng-geleng kepala dan sesekali masih terdengar tawanya.

Dari peristiwa ini, aku menarik pelajaran berharga bahwa apa pun yang aneh dan ganjil tentu sangat menarik perhatian siapa pun untuk berpendapat. Selain itu, ketika seseorang mencoba memberikan pendapatnya, ternyata itu dipengaruhi oleh suasana hati dan kepentingannya sendiri. Si bapak itu contohnya. Dia merasa si ibu yang tampak ragu-ragu dan membuat lama berhentinya angkot kami sehingga memperlambat waktunya tiba di rumah sebagai bagian yang menghalangi perjalanannya pulang.

Memang benar bahwa kepentingan pribadi yang mendesak dan telah membuat resah senantiasa membuat orang mengeluarkan kata-kata yang asal bunyi saja. Bahkan tidak hanya berpendapat, malah bisa juga menstimulus diri untuk membuat penafsiran semaunya terhadap keadaan objek teramati di kenyataan. Hal ini tak akan mungkin bisa ditahan-tahan lagi. Karena, aku melihat dengan jelas bagaimana realitas yang dihadapi menuntut reaksi untuk ditanggapi sebagai wujud interaksi aktif yang dilakukan individu demi memahami realitas itu sendiri.