Imam Al Ghazali : Kepastian Rezeqi (Renungan Filosofis Ketuhanan)

Kenyataan bahwa rezeqi sesungguhnya telah ditetapkan adalah bagian dari sesuatu yang bisa diterima akal, bukan apa kata wahyu.

Ini karena Allah Subhanna wa Ta'alaa sendiri adalah Dzat yang bisa diterima akal. Apa yang menjadi konsekuensi dari Dzat Allah (akibat dari masuk akalnya tentang sebab keberadaan Dzat Allah) sesungguhnya telah menyebabkan semua yang ada ini menjadi sesuatu yang juga bisa diterima akal. Ya, adanya Allah (eksistensi Dzatnya) sesungguhnya meniscayakan adanya semua mahluk yang sementara ini. Kebijaksanaan Allah untuk membuat semua mahluk ini juga bisa diterima akal sepenuhnya dari Dzatnya sendiri.

Jika upaya Allah merasionalkan Dzatnya adalah abadi dan tidak akan berubah (kekekalan Dzat Allah), maka begitu pula dengan upaya-Nya untuk membuat rasional segala hal yang merupakan konsekuensi dari adanya Dzatnya, juga segala hal yang menjadi rasional oleh adanya Dzatnya (Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta yang mengadakan semua mahluk dan benda-benda yang sebelumnya tidak ada) itu juga abadi dan takkan berubah-ubah. Bahkan adanya semua hal itu berikut hewan serta kelestariannya (Allah Maha Pencipta dan Maha Memelihara semua ciptaan-Nya) tak dapat diragukan lagi sangat bisa diterima akal sehat, lebih-lebih mahluk jenis manusia.

Satu jenis mahluk tertentu tak akan mungkin dapat terjaga kelestarian spesies-spesiesnya bahkan sampai pada keadaan yang memungkinkannya untuk berkembang-biak kecuali dengan bertahannya mahluk itu sampai batas beberapa waktu tertentu (spesies tertentu yang mampu eksis karena memang telah ditetapkan-Nya waktu mahluk tersebut untuk tetap ada hingga Allah Yang Maha Menetapkan Segala Urusan telah memutuskan untuk menghilangkannya dengan ganti mahluk jenis lainnya yang baru. Bandingkan dengan evolusi Darwinisme yang menyatakan bahwa spesies tertentu bisa hidup dan eksis sebab adanya 'survival mentality' untuk memenangkan seleksi alam; ini mengingkari bahwa setiap yang ada ditentukan oleh Penciptanya. Dan, juga mengingkari bahwa keberadaan sesuatu / spesies tertentu terletak pada batas waktu lamanya mahluk itu untuk eksis melalui ketetapan-Nya.)

Sedang sejenis mahluk hanya dapat bertahan hidup, katakanlah sampai batas waktu tertentu, dengan adanya sesuatu yang bisa menopang hidupnya (makanan dan minuman, lingkungan yang memungkinnya untuk tetap dapat hidup). Ya, apalagi kalau bukan rezeqi. Bagi Allah, memberikan rezeqi sebagai penopang kehidupan mahluk-Nya sesungguhnya adalah sebuah 'keharusan'. Hal ini karena keberadaan-Nya telah meniscayakan adanya mereka (mahluk-mahluk ciptaan-Nya) dan adanya resiko (kebutuhan hidup mahluk-mahluk ciptaan-Nya) dari keberadaan mereka itu. Kelestarian manusia hanya bisa berjalan dengan cara menjaga kelestarian spesies dan proses perkembang-biakkannya. Selanjutnya, proses perkembang-biakkan mereka sesungguhnya dapat berjalan hanya dengan adanya kelestarian spesiesnya. Dan spesies itu dapat bertahan hidup hanya dengan adanya hal yang dapat menopang kehidupannya, yang tak lain adalah rezeqi. Pada pangkalnya, rezeqi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa berasal dari tumbuh-tumbuhan, bisa juga dari hewan, bisa berupa kue, bisa berupa daging. Yang dari tumbuhan kita mengenal buah-buahan dan manis-manisan. Karenanya, rezeqi itu menjadi sesuatu yang harus ditanggung Allah Yang Maha Berbelas Kasih dan Maha Sayang (terhadap semua mahluk ciptaan-Nya). Inilah yang setidaknya difirmankan oleh Allah sendiri dalam Surah Adh-Dhariyat : 22 - 23

** Referensi : AL - GHAZALI, HUJJATUL ISLAM : Renungan Ketuhanan dan Amalan Sehari-Hari