Guntingan Benak (I)

1. Tentang Ilusi Ketidakberdayaan yang Terencana : Sepertinya halnya keluguan, terkadang ketidakberdayaan merupakan kekuatan dan kebijaksanaan utama. Mengapa? Ya, tentu saja dengan merasa diri lemah padahal sebenarnya menunggu kesempatan yang tepat untuk mengambil alih peranan yang didambakan, seseorang akan bisa mengkabuti pengamatan sang penguasa terhadap dirinya: ia akan dipandang tak berbahaya. Ah, ini khas Brutus’ way.

2. Tentang Judi Politik: Berjudi sebenarnya baik bila sudah menguasai benar permainannya. Pemikiran inilah yang kerapkali digunakan bagi mereka yang berniat untuk mempertaruhkan keberuntungan pada suatu pentas politik. Beberapa kandidat yang mencalonkan diri bertarung untuk menjadi “raja kecil” di daerahnya, hanya satu di antara mereka yang menguasai judi tipu muslihat pembelian simpati pendukung. Sebagai seorang yang sedemikian paham bagaimana melakukannya, ia menampilkan diri seolah-olah seorang “Good Samaritan”. Sang penolong yang mengkampanyekan diri akan mengangkat orang-orang yang bersimpati padanya, memilihnya sebagai penguasa daerah yang peka terhadap kebutuhan. Melalui uang kantong pribadi dan mungkin juga patungan bersama kroni-kroninya, bertubi-tubi bantuan disalurkan. Maka, rakyat sebagai calon pendukungnya, tiba-tiba buta pikiran, perasaan mereka langsung terasa tentram. Tak pelak lagi, mereka pun memilih sang kandidat yang “tampak baik hati” itu.

3. Tentang Menganggap Remeh Penyimpangan: Pribahasa Jepang mengatakan ─ dikarenakan satu paku terlepas dari tapal kuda, maka kuda tak dapat berlari. Sebab tak dapat berlari, maka kabar penting tak dapat disampaikan. Karena kabar penting tak dapat disampaikan, maka pasukan di medan laga mengalami kekalahan.

4. Tentang Persiapan Memasuki Wilayah Kompetisi : Suatu kompetisi mengandung persaingan yang sengit. Perebutan yang dilakukan bisa jadi dengan segala cara. Maka, persiapkan segala sesuatu yang bisa digunakan menjadi pelindung. Selanjutnya, manfaatkan sumber daya yang ada sebagai kekuatan untuk masuk ke dalam kompetisi. Dan, jangan lupa tutupi kelemahan diri dengan mengubah kebiasaan yang mungkin mengantarkan pada kelalaian yang mengakibatkan kekalahan. Bukankah lebih baik membunuh kebiasaan buruk daripada binasa karena larut penyesalan?

5. Tentang Membuat Jalinan Kerja-Sama: Sebelum membuat kesepakatan jangka panjang dengan siapa pun yang tertarik pada bidang yang sama, selidikilah terlebih dahulu siapa gerangan orang tersebut. Carilah tahu motif sebenarnya yang ia miliki hingga tertarik menjalin kerja-sama. Sebaiknya jangan terpesona dengan angin surga tawarannya lebih cepat, sehingga gelap pertimbangan akal untuk menyimak arah tujuan kerja-sama yang ia tengah upayakan. Lebih baik menatap dengan mata terbuka dan penuh kehati-hatian ketika melewati sebuah sumur dalam tak berpagar yang ada di depan jalan yang mau ditempuh saat gelap, daripada mendongakkan kepala karena terpesona gemerlap bintang-bintang nun jauh di sana.

6. Tentang Ilusi Kemampuan Diri: Orang akan menciptakan penyesuaian kondisi yang diharapkan demi mendapatkan keinginannya ─ apakah itu dengan melibatkan secara intensif peran pihak lain, atau dengan berupaya semaksimal mungkin. Biasanya yang terjadi: ia akan begitu akrab dengan orang lain yang bersedia membantunya, dan untuk mendapatkan dukungan spiritual, ia rajin sekali mendekatkan diri pada-Nya. Sebab, ia juga menyadari banyak hal yang mungkin bisa terjadi diluar perhitungannya. Tuhan sering bekerja dengan tangan-Nya yang misterius ─ demikian ia membathin. Lalu, semua upayanya tak sia-sia, maka ia pun gembira bukan kepalang. Di tengah lautan kegembiraannya, ia berkata ─ ini semua berkat kemampuanku. Dimanakah orang lain yang telah membantunya. Ia sungguh tak tahu lagi dimana gerangan orang itu. Bagaimana dengan Tuhan yang pemurah melancarkan jalannya usaha untuk meraih keinginan pribadi yang didambakannya? Benaknya tak sanggup mencari tahu ─ Tuhan itu begitu misterius ─ begitulah ia kiranya.

7. Tentang Membiasakan Diri Memandang Sesuatu Hal Apa Adanya Bukan dengan Keadaan Idealnya: Mungkin seseorang akan merasa kecewa terhadap orang yang ia kenal dekat ketika orang yang dimaksud bertindak lain dari biasanya ─ jahat dan sangat buruk berprilaku. Manusia memang anak kebiasaanya. Tapi, jangan lupa manusia juga anak dari ambisinya, memaksanya bertindak dengan segala cara demi mewujudkan keinginan terdalamnya yang selama ini didambakanya. Marilah kita bicara godaan, kalau itu ancaman terbesar yang menjerumuskan seseorang berbuat buruk. Namun, marilah kita juga berbicara tentang hasrat terpendam yang dalam, kalau perbuatan buruk seseorang yang kita kenal baik, sebelumnya tak pernah kita saksikan. Siapa yang tahu isi hati seseorang? Biasakanlah diri sendiri dengan perubahan. Maklumilah bahwa peluang atau kesempatan itu juga mahluk cantik jelmaan setan.

8. Berbaik Hatilah Memberikan Kesempatan pada Orang yang Ingin Dilihat Seperti Impiannya: Terhadap orang yang terlalu banyak bicara sehingga ia tak mampu lagi mengingat apa yang telah diucapkannya dan tentu saja bingung bagaimana merealisasikan gambaran bayangan perkataanya dalam perbuatan nyata, bantulah dirinya untuk membuktikan apa yang sudah terlalu banyak ia ucapkan. Mudah-mudahan keinsyafan diri akan hadir karena dibenturkan dengan kemampuan bekerjanya yang tak memadai dan sedikit sekali dibandingkan dengan ucapannya yang tumpah ruah.

9. Alam Itu Baik Sekali dalam Hal Mencerahkan Pikiran: Mari perhatikan monyet-monyet yang berada di dahan pohon. Lihatlah! Semakin tinggi monyet-monyet nangkring di atas dahan-dahan pohon, sungguh mereka akan semakin norak memamerkan bokong teposnya. Betapa baiknya alam memberi pengetahuan pada kita tentang orang-orang yang jahat pasti akan tetap bersemangat menunjukkan kejahatannya dengan seperti monyet-monyet yang memamerkan bokong teposnya.Marilah berterima kasih pada alam sekitar kita.

10. Tentang Kejahatan Ilusi Prasangka: Selain mengakibatkan kekecewaan bagi orang tak bersalah yang sedang dicurigai, rasa tidak percaya dan prasangka buruk yang ditujukan pada orang tersebut, walaupun sebelumnya ia membantu dan belum pernah membuat kesalahan, lalu hanya karena kekhawatiran akan kerugian besar, atau pun menurunnya keuntungan yang didapat disebabkan faktor diluar perhitungan sehingga kita membebankan penyebabnya langsung terhadap bawahan hanya karena kita merasa berhak menyalahkan saja, dijamin ini akan mengakibatkan munculnya kesetiaan palsu dan sugesti untuk berkhianat orang yang dicurigai itu pada nantinya. Ah, laba-laba sering mati di tengah jaring-jaring yang sudah dipintalnya sendiri. Bagaimana dengan manusia? Kesulitan juga datang akibat dari prasangka dirinya sendiri.