Fotomu di Batu, Masih Ingin Menghangatiku

Tiap kali aku datang ke sini
Tempatmu tak pernah disentuh ramai
Selain hujan Desember berderai
Kau pun suka lembab hening suasana ini

Sejak kau setia mengikuti keputusan terakhir
Sekarang tempatmu tenang dipindahkan-Nya
Hanya saja aku belum bisa menerima buasnya takdir
Mengenangmu ─ aku datang dengan dada berombak tanya

Mengapa bisa terlalu cepat?
Tidakkah Dia tahu bahwa aku rindu setiamu yang hangat?

Kau pun selalu menghiburku
Kemarilah, sayang, rasakanlah hangat pelukanku ─ katamu
Bagaimana mungkin hatiku menolak ketulusanmu itu?
Juga kini aku berkali-kali menjengukmu ─

Di sini hanya untuk kau rengkuh dengan tatapan tulusmu
Terpancar dalam foto di pasak batu