Esei dari Budayawan Arswendo Atmowiloto : Korupsi Bukan Cobaan

Seorang istri yang suaminya ditahan karena korupsi, menjawab pertanyaan wartawan, “Kami sedang dalam cobaan Tuhan, tolong bantu kami dengan do’a.”

Saya tidak begitu yakin, tindak pidana korupsi adalah cobaan dari Tuhan. Kecuali kalau seseorang berbaik jujur, dipidana karena tindak korupsi, padahal sebenarnya tidak melakukan korupsi. Nah, itu bisa digolongkan sebagai cobaan. Artinya, tidak melakukan kesalahan apa-apa, tetapi terkena bencana.

Seperti kalau kita parkir baik-baik di tempat parkir, tahu-tahu sewaktu hujan turun, pohon tumbang menimpa mobil kita. Itu bisa masuk kategori cobaan. Di sini tidak ada hubungan langsung sebab akibat antara parkir yang aman dengan pohon yang tumbang. Dalam kehidupan keseharian, hal semacam itu bisa terjadi. Kita hidup baik dan benar dan menjaga kesehatan, tahu-tahu divonis terkena kanker.

Korupsi yang sering disamakan dengan penyakit kanker ─ perumpamaan ini hanya benar dalam hal keganasan ─ sebenarnya termasuk godaan. Artinya, si pelaku tergoda memasuki wilayah buruk, padahal sebenarnya bisa menghindar, dan menerima resiko karena terbongkar. Ada hubungan sebab - akibat secara langsung. Godaan yang sama dalam kaitan sebab – akibat langsung, adalah berjudi, selingkuh, ngebut. Pelaku sudah tahu akibat dari main judi, main perempuan, bisa juga main lelaki, atau main – main dengan kendaraan berkecepatan tinggi. Pelaku tetap melakukan, apa pun alasannya, bisa dibikin-bikin, bisa karena yakin. Kalau kemudian berakhir tidak menyenangkan: kalah berjudi, selingkuh ketahuan, atau terjadi tabrakan, itu merupakan konsekuensi logis.

Kadang kita tercengang, atau berang, sedikitnya kurang senang, ketika seseorang yang kita kenal dengan baik dan terkesan baik dan benar, ternyata tak bisa menahan godaan. Rasanya, ada yang terluka dengan rasa percaya, sebagaimana menemukan ulat di buah yang sedang dikunyah, atau ada kecoa yang berjalan di mulut kita. Kesadaran batin kita terguncang, ada suatu gambaran indah terbuang, atau bahkan hilang.

Melihat kenyataan ini saya hanya bisa menasehati diri. Untuk tidak melakukan korupsi secara sadar, dan juga membentengi diri tidak membiarkan diri masuk ke dalam godaan kolektif secara tidak langsung tidakan koruptif. Godaan kolektif sering sangat efektif. Berjudi, selingkuh, atau ngebut menjadi atraktif kalau dilakukan bersama.

Makanya, berusahalah menahan diri. Sebisanya. Semampunya.

Barangkali menasehati diri harus sering saya ulang, agar selalu ada dalam memori. Soalnya kadang kita berhubungan dengan rasa keadilan, dan terasa timpang. Misalnya, kehidupan para koruptor yang berada di dalam penjara.

Pengalaman membuktikan bahwa dalam penjara sekalipun, para koruptor atau penyelundup, pemalsu kartu kredit, bandar judi selalu memperoleh kamar yang lebih mewah dan perlakuan yang wah. Karena banyak harta yang tersisa.

Barangkali, kalau saya boleh memberi nasihat untuk koruptor: cobalah sekarang seterbuka mungkin. Mengakui, menjelaskan, menelanjangi diri dengan menceritakan detail godaan yang menyebabkan terjerembab ke dalam korupsi. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya, berapa hasil yang berhasil diambil. Terutama juga berapa yang bakal dikembalikan.

Dengan begini, ia sedikit banyak menebus dosa dan memberi kemungkinan berkurangnya hal yang sama bisa terjadi pada orang lain. Para penyelidik pun lebih cerdik menghadapi siasat serta liku-liku tindak korupsi.

Ada saat kita terpeleset karena kebegoan kita, tapi juga selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali, juga dijadikan pelajaran bagi orang lain.

***

Penulis Arswendo Atmowiloto ─ Budayawan Tinggal di Jakarta
Majalah Intisari pada Kolom Cermin, Halaman: 164-165
Edisi No. 164, Juli 2005