Dua Puisi Malam

#1
Lorong-Lorong Pertokoan

pantulan cahaya lampu reklame
lukisan dinding menyemburat
beton dingin pertokoan
berjejer di aspal hitam
kian memekatkan malam
merayap naik
begitu berhasrat
menelan bulat-bulat
kehidupan siang
yang riuh beritme
dengan mimpi bulan separuh

seekor kucing liar mengais sampah
berebut dengan tikus selokan yang menantang
gembel kecil pulas
sang bocah berkulit tubuh
debu jalanan
enggan terusik kemalangan
dibuai awan kelabu mengabut
pandangan sayup lelah mata
ketika meniti tangga surga
tak tertempuh
kian memanjang

seorang lelaki paruh baya
mengarungi remang cahaya
mengendap lesap
ke dalam lorong-lorong

hah! ia kini tak berkepala
dibuai syahwat
kepalanya hilang dibabat
erang desah pelacur murahan
penyedia lubang sewaan
agar malam suram
dimata tampak rupawan

lorong-lorong pertokoan
dingin saja melempar senyum
tak bisa menampik
tuntutan zaman yang merubah
mahluk Tuhan termulia
sudah sama persis serupa air lubang jalan menggenang
atau tak lebih rendah dari kucing liar
mengais-ngais tempat sampah
berharap jatah
dari sisa kesibukan siang
yang telah senyap dari ramai meruah


#2
Mimpi

kemarin hadir lagi hari ini
ketika hening mencekam
batas waktu
perlahan menyentuh
sayap kelam
yang tiba telalu dini
untuk tiap tiada
ada dalam
bayang
mengambang
pesona menggoda asa
ketika udara penuh awan