Bastiat : Esei dari Goenawan Mohamad

Bastiat
Oleh : Goenawan Mohamad
Senin, 04 Juli 2011

Seorang "neo-liberal" adalah orang yang jengkel kepada "Negara". Tapi ada seorang pendahulunya yang tak jengkel, malah kocak: Frédéric Bastiat, orang Prancis di abad ke-19. Ia mempersamakan Negara dengan tokoh Figaro yang harus mendengarkan tuntutan dari delapan penjuru angin:

"Aturlah buruh dan pekerjaan mereka!"

"Habisi egoisme!"

"Lawan kekurangajaran dan tirani modal!"

"Bikin eksperimen dengan tahi sapi dan telur!"

"Bentangkan jalan kereta api di pedusunan!"

"Tanam pohon di pegunungan!"

"Jadikan Aljazair koloni kita!"

"Setarakan laba usaha industri!"

"Pinjamkan uang tanpa bunga kepada yang perlu!"

"Perbaiki keturunan kuda tunggangan!"

"Hidupkan seni, latih musisi dan penari!"

"Temukan kebenaran dan ketok kepala kami agar berpikir!"

Kutipan saya tak lengkap, tapi cukup banyak, dan Sang Negara akan mendengarkan semuanya dengan agak gelagapan. Ia pun akan mengimbau: "Sabar, tuan, sabar! Akan saya penuhi permintaan tuan semua, tapi saya perlu dana, dong. Saya perlu memungut pajak, dan tentu saja, seperti tuan kehendaki, tak akan membebani."

Tapi seketika itu juga akan terdengar teriakan menyahut: "Ah, kok gampangan! Apa tak malu! Siapa saja dapat melakukan apa saja dengan dana. Kalau cuma begitu, kamu tak layak disebut ’Negara’! Ayo, jangan bikin pajak baru! Malah hapuskan pajak lama!"

Harus diakui, ada nada simpati terhadap Negara dalam esai Bastiat itu—dan mungkin itu yang membedakannya dengan mereka yang disebut "neo-liberal" atau siapa saja yang dianggap penganut pemikiran ekonomi Milton Friedman. Bastiat melihat kontradiksi dalam tuntutan delapan-penjuru-angin yang saya kutip di atas. Jika ia pun datang dengan rumusannya tentang "Negara" ia tak serta-merta menafikannya.

Negara, tulis Bastiat, adalah "sosok yang misterius, dan yang pasti sosok yang paling banyak menerima permintaan, yang paling tersiksa, paling sibuk, paling dinasihati, paling disalahkan, paling dituntut, dan paling diprovokasi di seluruh dunia".

Tapi Bastiat tak berhenti di sana. Ia melihat lebih jauh untuk memahami kenapa "Negara" diperlukan. Manusia, menurut Bastiat, adalah makhluk yang menampik kepedihan dan penderitaan. Tapi manusia juga dihukum akan menderita kekurangan jika ia tak bekerja buat hidup. Maka ia menemukan cara: menikmati hasil kerja orang lain.

Perbudakan bermula dari sifat itu. Tapi juga perang, perampasan, penipuan, dan hal-hal lain yang mengerikan tapi cocok dengan akal manusia untuk mengatasi dilemanya. Dengan kata lain: tak aneh. "Kita harus membenci dan melawan penindas," tulis Bastiat, "tapi kita tak bisa mengatakan mereka absurd, edan, dan tak masuk akal."

Apalagi dalam perkembangannya, si penindas tak lagi berhubungan langsung dengan si tertindas. Dewasa ini antara penindas dan korbannya ada "perantara", yaitu Negara. Dari sini Bastiat memberikan definisinya yang orisinal: "Negara adalah satu entitas imajiner yang dipakai tiap orang untuk hidup dengan ongkos (dépens) orang lain."

Definisi ini menohok tajam. Umumnya orang tak ingin mengakui secara terbuka bahwa, seperti kata Bastiat, ia hidup dengan memanfaatkan kerja orang lain. Orang lebih suka menunjuk ke Negara dan menyuruh, "Hai kamu, yang bisa mengambil dengan adil dan terhormat, ambillah dari masyarakat dan bagikan kepada kami!"

Mengaitkan Negara dengan hubungan eksploitatif—yang tak selamanya tampak—adalah juga yang tersirat dalam pikiran Marx. Saya tak yakin bapak sosialisme modern itu terilhami oleh Bastiat (1801-1850), yang meninggal hampir dua dasawarsa sebelum terbit Das Kapital. Tapi Marx juga melihat Negara bukan sebagai sebuah bangunan suci, melainkan sebagai instrumen represi dari satu kelas terhadap kelas lain.

Hanya Bastiat sedikit lebih jeli: ia tak melihat Negara sebagai "sistem" atau "instrumen" semata-mata. Negara, dalam prakteknya, terdiri atas "para menteri kabinet, birokrat, orang-orang yang, pendek kata, seperti umumnya orang, menyimpan dalam hati mereka hasrat untuk memperbesar kekayaan dan pengaruh, dan dengan bersemangat menangkap kesempatan untuk itu".

Yang menarik tentulah pandangan yang sejajar tentang Negara itu: di satu sisi Marx, di sisi lain Bastiat yang punya gema dalam pemikiran kubu sebelah "kanan": Hayek dan Friedman. Tak mengherankan: baik Marx maupun Bastiat bertolak dari pengalaman dalam ruang dan waktu. Marx menampik Hegel yang memandang Negara sebagai penubuhan dari ide; ia merumuskan Negara dari apa yang berlangsung dalam sejarah. Bastiat demikian pula: ia seorang pencatat, bukan teoretikus, bukan filosof. Schumpeter menganggapnya "wartawan ekonomi yang paling cemerlang yang pernah hidup".

Maka ia menemui fakta dan mencemooh "ilusi ganjil" tentang Negara. Di atas saya kutip ia menyebut Negara sebagai "entitas imajiner". Saya kira Bastiat melihat Negara sebagai proses politik, bukan satu bangunan yang mandek di atas pergulatan politik di mana ia berdiri. Sebab itu ia punya keterbatasannya sendiri: Negara tak terbentuk untuk bisa memuaskan semua orang di semua sudut sekaligus. Tiap politik punya utopia dan punya kalkulasi—dan di antara itulah hadir Negara.

Bastiat memang seorang "liberal" dalam pengertian politik Eropa—dan ia berbicara dengan nada yang ringan. Ia masih mengakui Negara sebagai "kekuatan polisi bersama" dengan cukup optimisme: baginya, kekuatan itu bisa dipakai bukan untuk merampok dan menindas, melainkan untuk "menjamin tiap orang haknya sendiri dan membuat keadilan dan keamanan menang".

Memang hanya seorang yang dogmatis yang bisa melihat Negara tanpa ambiguitas.

Goenawan Mohamad
Sumber dari SINI