Cerpen Sunaryono Basuki Ks : Gajah di Pelupuk Mata

GAJAH DI PELUPUK MATA

Oleh SUNARYONO BASUKI KS



Tubuh Gajah ternyata tak meraksasa, tetapi orang tuanya, Sanca, telanjur memberinya nama Gajah dengan harapan anak itu takkan ditelan oleh orang tuanya sendiri.

Tuan Sanca adalah pengusaha kaya, dan politikus terkenal. Perusahaannya ada di mana-mana. Ada hotel berbintang di Makasar, ada perusahaan konstruksi yang mengerjakan kondominium besar di Jakarta, ada pula keikutsertaan dalam proyek Lapindo Brantas.

Harapan Sanca, anaknya juga menjadi pengusaha besar, sebesar gajah, sehingga Sanca takkan menelannya. Dia rela dikalahkan oleh Gajah, apalagi dia anak satu-satunya, anak semata wayang golek. Sebab, wayang kulit tipis dan matanya tak sebulat mata wayang golek.

Walaupun Sanca bukan orang Sunda, dia sangat menyukai wayang golek, terutama yang dimainkan oleh dalang Asep Sunandar. Mula-mula tak sengaja dia saksikan dalang itu bermain di TV, kemudian dia memerintahkan stafnya untuk mengundang dalang Asep lengkap dengan timnya untuk bermain di halaman rumahnya.

Ikut menonton wayang golek, ternyata Gajah memilih jalan hidupnya untuk menjadi seniman. Memang dia berhasil masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Jayanegara. Selama menjadi mahasiswa bukannya dia aktif dalam mengelola koperasi atau toko mahasiswa, tetapi justru memimpin Unit Kegiatan Mahasiswa Teater.

Memang Gajah tamat dari Fakultas Ekonomi sesuai dengan keinginan ayahnya, dengan nilai sangat memuaskan. Ayahnya menganjurkan Gajah untuk melanjutkan studinya di School of Business Administration di University of London untuk gelar master dan kalau bisa akan tetap dibiayai sampai mencapai gelar PhD. Menerima pesan-pesan ayahnya sebelum berangkat, Gajah hanya mengatakan, "Ya, Ayah."

Dana tidak terbatas, bisa digunakan kapan saja dan untukl apa saja, tersedia dalam rekenuing banknya. Kalau perlu, tambahan dana bisa ditransfer melalui Western Union atau cabang Bank BNI di London. Di University of London Gajah menemukan lahan baru, kelompok baru, teman-teman baru dalam berkesenian. Selain bergabung dengan Islamic Society, dia juga menjadi anggota Film Society, dan tentu saja Drama Society.

Kepada ayanya selalu dilaporkan melalui telpon kegiatan belajarnya di kampus, juga Islamic Society dengan shalat Jumat bersama di Masjid Besar London, tetapi, dia sama sekali tak pernah memberi tahu ayahnya bahwa dia juga aktif dalam kegiatan teater dan film. Dalam kegiatan teater, dia tidak hanya ikut menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam pementasan, sebagai penata artistik, sebagai penata musik, dan bahkan pada pementasan The Tempest, dia ikut berperan.

Setiap kesempatan dia menonton semua pertunjukan di West End. Dia menonton Ghost karya Henrik Ibsen, The House of Bernarda Alba karya Ferderico Garcia Lorca, dan juga The Mousetrap karya Agatha Christie. Dia juga langganan tetap menonton di The Royal Shakespeare Theatre di London, terkadang bila sedang musim pertunjukan juga menginap di Strtaford -- upon-Avon untuk menonton pertunjukan-pertunjukan drama di The Royal Shakespreare Theatre di kota kelahiran dramawan besar itu.

Dalam tempo duabelas bulan dia menyelesaikan gelar masternya, karena masa studinya memang 12 bulan, berbeda dengan program serupa di Indonesia yang bisa molor sampai tiga tahun. Karena hasilnya yang baik, menurut laporan Gajah, dia juga diterima melamar untuk program Master of Philosophy leading to PhD.

Bulan September saat dia lulus, Tuan Sanca mengundangnya untuk pulang sebab dia ingin merayakan keberhasilan studi anak semata wayang golek itu. Walau wisuda masih akan berlangsung bulan Desember, toh dengan bangga Tuan Sanca mengumumkan kepada para tamunya bahwa Gajah sudah menyandang gelar MBA dari London.

"Anak kami Gajah telah berhasil dalam studinya. Kami merasa bangga dan bersyukur, sebab dia tak meniru ayahnya yang bodoh ini, hanya suka bermalas-malasan dan tidur, terutama setelah makan."

Hadirin tertawa ketika Sanca juga ketawa.
"Dia kan barusan makan PT Kambing Gemuk," seorang tamu berbisik. "Tentu saja sekarang dia tidur sebab kekenyangan."

Gajah kelihatan gagah sekali berdiri di samping Tuan Sanca. Badannya masih tetap kurus juga walau dipasok gizi bagus di Inggris. Tiap pagi minum susu, tiap makan tak lupa makan buah anggur atau jeruk atau strawberry kalau sedang musim, atau buah apel, dan pear.

Dalam pesta itu dia mengenakan kemeja batik corak modern karya pebatik terkemuka Iwan Tirta. Tetapi yang paling menarik bagi Gajah ialah terhidangnya sejumlah makanan tradisional yang sengaja dimintanya untuk kesempatan itu. Jengkol kesayangannya terhidang dan juga buah mangga arum manis yang sedang musim.

Gajah segera kembali ke London, tergesa ingin memulai studinya lagi. Di asrama yang sama, di kamar yang sama, dia disambut oleh suasana yang sama. Minggu pertama bulan Oktober udara sudah mulai dingin, dan kuliah-kuliah dimulai. Gajah merasa bersalah kepada Tuan Sanca sebab dia telah berbohong. Memang dia menempuh program Master bidang Business Administration sesuai dengan kehendak ayahnya, tetapi, sekarang dia mendaftarkan diri untuk program Master bidang Theatre Studies yang nantinya akan dia lanjutkan dengan program PhD. Dia yakin dapat menyelesaikan kedua program itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dia punya kecintaan luar biasa kepada seni terutama teater. Dia sudah menangani sejumlah pementasan bersama mahasiswa dari Malaysia dan Afrika yang mengambil program Master. Sekarang dia tahu lika-liku studi di program itu, dan resmi menjadi mahasiswa teater. Dia mulai dengan tekun belajar teori seni, sejarah dan teori teater.

Soal sejarah teater yang katanya berasal dari upacara sesuai dengan pendapat Sir James Frazer, Levi-Strauss, dan Malinosvki yang semuanya ahli anthropologi jagoan, dia tak punya masalah untuk memahaminya. Soal teater Yunani kuno dengan tiga menulis tragedi terkemuka dan penemuan mereka tentang jumlah aktor atau kemampuan suara yang terlibat juga dapat dipahaminya dengan mudah. Soalnya, dia juga paham mengenai teater Bali, ada topeng pajegan yang dipentaskan mirip saat jaman kuno di Yunani. Yang lebih modern ada topeng bondres, dengan tiga pemain tetapi memerankan banyak tokoh.

Ternyata dia bertemu kembali dengan Francis Katamba yang sudah menyelesaikan program master teaternya, dan sekarang justru kembali mau menulis disertasi tentang teater tradisional di negerinya. Setelah menyelesaikan kuliah-kuliah teori, dia yakin harus kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Bali tanpa singgah di Jakarta, bahkan tanpa melapor kepada Tuan Sanca. Kalau ayahnya tahu proyek besar yang digarapnya, pasti akan pingsan. Anak semata wayang golek akan menjadi doktor seniman atau seniman doktor. Apapula komentar anak buahnya? Tidak ada kata-kata: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Tapi, Gajah punya senjata ampuh, yakni kata-kata Gilbran, "Anakmu bukan anakmu," untuk mengelak.

Saat berada di Ubud, telpon Gajah berdering, "Papa besok akan ke London. Ada bisnis penting. Apa kita bisa bertemu? Sudah rindu."

Gajah gelagapan, tetapi, dasar dia seorang aktor, segera dia jawab, "Wah, Papa, saya sedang sibuk sekali melakukan penelitian jauh di Aberdeen, soal bisnis ikan laut utara."
"Tapi, kan kamu bisa terbang ke London. Tinggalkan saja proyek itu."
"Maaf, Papa, ini Inggris, bukan Indonesia. Appointment yang sudah dibikin tak bisa seenaknya diubah."

Tuan Sanca dapat diperdaya oleh Gajah, namun di London dia suruhan orang untuk menyelidiki anaknya sampai di asrama, dan menemukan informasi yang mengejutkan. Sudah enam bulan Gajah pulang ke Indonesia melakukan penelitian. Dan, dari penjaga asrama dia mendengar bahwa Gajah adalah mahasiswa teater, bukan mahasiswa bisnis.

"Kamu bohong sama Papa. Kamu di Indonesia, kan? Tak ada Gajah yang mahasiswa bisnis, tetapi ada Gajah mahasiswa teater. Kamu gila, ya!"

Dengan tersenyum dia menjawab, "Tidak, Pa. Aku tidak gila, sebab bila gajah gila, bisa mengamuk dan menginjak-injak ular sanca."
"Duh, Gajah. Gajah di pelupuk mata, kok aku tak tahu."

Tetapi, dia tidak pingsan sebab tahu bahwa Gajah mengambil program PhD, walaupun bidang teater. Kalau dia pulang, dia akan dibangunkan sebuah gedung pertunjukan modern dan megah, lebih megah dari Jakarta Convention Center.***


Sumber Cerpen : Surat Kabar Harian Republika, Minggu, 08 Juli 2007