Cerpen Koran Suara Merdeka : Surat dari Chekhov

Surat dari Chekhov, cerita pendek yang dimuat di Surat Kabar Suara Merdeka pada tanggal 23 September 2012 ini cukup menarik. Pengarangnya adalah Gatot Zakaria Manta


Tema pokok cerpen ini cukup unik yakni tentang sikap fanatik kepada seorang tokoh kesusasteraan besar, Anton Chekhov, yang ditunjukkan melalui prilaku yang tak masuk akal - bunuh diri untuk memperingati hari kematian sang idola. Untuk lebih jelas bagaimana jalan ceritanya, silakan baca sendiri.



Surat dari Chekhov

Oleh GATOT ZAKARIA MANTA


MARUTA mengurungkan niatnya berkunjung ke Moskow dan mengunjungi makam Chekhov ketika pada dini hari tanggal 27 Januari, dia mendapati sebuah amplop cokelat besar tergeletak di depan pintu rumahnya. Hampir roboh karena mabuk, matanya lamat-lamat menangkap deretan huruf yang tertulis di bagian depan: Dari Anton Chekov [1], tertulis dalam bahasa Inggris, alih-alih bahasa Rusia. Dia mendadak tertawa, surat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Lalu dengan sempoyongan sembari mengepit amplop itu di ketiak, Maruta pergi ke kamarnya. Dikeluarkannya pakaian- pakaian yang telah tertata di koper sambil berjingkrak dan berjoget. Sementara amplop itu dia taruh di atas lemari, masih tersegel, bersanding dengan kitab suci. Namun dia tertidur sebelum selesai membereskan semuanya.

Esoknya Maruta bangun tidur sangat terlambat, hampir tengah hari, namun dengan pikiran yang lebih jernih. Dia menimang-nimang amplop itu dan beberapa kali membauinya. Cukup berat dan baunya aneh, beda dari biasanya. Dia kira sedang membaui aroma pohon frambos sekarang. Maruta membuka dan mengeluarkan isinya di ranjang: selembar surat, sebuah stetoskop, seikat jerami, sebuah peluru berdiameter besar, dan sepotong tangan mainan berjatuhan ke atas seprai yang kekuningan. Dia mengambil surat yang juga tertulis dalam bahasa Inggris dan membacanya. Kalimat pertamanya membuat Maruta tersentak: Bunuh dirilah dengan salah satunya!

Kalimat-kalimat selanjutnya sedikit membuat Maruta menyesal membongkar koper dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke Moskow. Di surat tertulis agar dia melakukan rencana bunuh dirinya paling lambat tanggal 28 Januari di Biara Novodevichy, di depan makam Chekhov sendiri. Tapi sekarang, setelah beberapa jam terlewat dari jadwal keberangkatannya yang semestinya, mustahil bagi Maruta untuk tiba tepat waktu besok di Rusia. Apalagi dia masih harus memikirkan cara bunuh diri yang baik—kalau tak bisa dibilang mengagumkan.

Dia menduga bahwa surat ini seharusnya sampai seminggu atau paling tidak tiga hari yang lalu. Jasa pengiriman pasti kesulitan menemukan rumahnya yang kini berada di sebuah desa kecil, tepat di sebelah sebuah sawah tak terurus yang pada akhirnya juga dibelinya semata-mata agar punya alasan untuk melarang beberapa anak dan remaja bermain bola setiap sorenya. Maruta memang benci keramaian, lebih-lebih anak kecil. Itu juga salah satu alasan dia tak mempunyai anak hingga sekarang, meski telah menikah lebih dari lima tahun.


***


GAGASAN untuk pindah ke sebuah desa kecil dan meninggalkan sebuah apartemen dan istrinya di kota, datang enam bulan yang lalu, beberapa saat setelah dia membaca surat yang sama—dari Chekhov. Jelas tertulis dalam surat yang kini dia simpan dengan aman di dalam kotak sepatu di bawah ranjang: Pindahlah ke desa kecil seperti aku. Kau akan menemukan kedamaian. Dan karena keyakinannya yang begitu kuat bahwa setiap kata-kata Chekhov adalah petunjuk, Maruta mengikuti saran surat itu. Dia tak menghiraukan kemarahan istrinya yang tiba-tiba datang pada titik puncaknya setelah hampir lima tahun perempuan itu tak pernah berkata keras.

“Kenapa kau ingin melakukan hal yang tak waras seperti itu?” teriak istrinya saat itu, sebuah danau terbentuk dan meluap dalam waktu yang bersamaan di matanya.

“Aku hanya menginginkan kedamaian, Sayang. Tak lebih,” jawab Maruta tenang, seolah apa yang baru disampaikannya hanya sebuah gurauan yang sering menyelingi sajian teh di sore hari.

“Kedamaian? Kedamaian katamu? Persetan dengan kedamaian!”

“Jangan begitu, Sayang. Chekhov berniat baik dengan memberi tahu aku saran itu.”

“Chekhov? Astaga! Kau sudah gila! Orang mati itu lagi? Tak cukupkah kau bilang kalau dia memengaruhi gaya menulismu? Apa yang terjadi denganmu, Mas? Kau jadi aneh setelah pulang dari Rusia.”

“Kedamaian memang sering kali dirasakan aneh bagi yang melihat, Sayang. Seperti melihat kucing dan anjing yang tidur satu ranjang.”

Kemudian istrinya, wanita langsing dan berbulu mata lentik itu, melanjutkan pendakian puncak-puncak kemarahannya dengan kalimat-kalimat panjang dan nyaring yang sulit diingat, kecuali sebaris kalimat yang Maruta ingat hanya karena istrinya mengutip kata-kata Chekhov—sekadar untuk mengingatkan dirinya, “Kedamaian dan ketenteraman seseorang tidak berada di luar, tapi di dalam dirinya sendiri!” [2]

Namun Maruta bergeming. Dengan atau tanpa istrinya, dia sudah bertekad pergi. Dibelinya sebuah rumah di desa yang sepi, jauh dari kota tempat tinggalnya yang lama. Istrinya masih diketahuinya tinggal di apartemen itu. Mungkin dia malu untuk kembali ke rumah orang tuanya. Sementara untuk keluar dan mencari tempat tinggal lain, dia tak memiliki penghasilan kecuali dari uang yang masih dikirimkan Maruta setiap bulannya.

Bulan-bulan awal kepindahannya ke desa, Maruta segera mensyukuri keputusannya dan acap kali memuji pengarang Rusia itu di setiap kesempatan. Rumahnya terletak di ujung desa, membuatnya jarang bergaul kecuali saat pertemuan rutin yang biasa digelar di balai desa. Namun dia cukup terampil merayu Rumi, seorang janda pemilik warung tak jauh dari rumahnya, agar bersedia menjual bir kepadanya. Perempuan pendek berisi itu memang tak melayani sembarang orang untuk membeli minuman keras yang dia sembunyikan di biliknya. Pendeknya, Maruta merasakan kebebasan dan ketenteraman yang luar biasa, yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Pikirannya terang, sementara mata, telinga, hidung—segenap inderanya—seolah menjadi mesin penangkap inspirasi yang baik. Baru dua bulan di desa, dia telah menyelesaikan sebuah novel setebal 400 halaman.

Namun surat-surat dari Chekhov tak pernah datang selama Maruta tinggal di desa tersebut. Hingga suatu ketika, istrinya datang dengan tergopoh-gopoh suatu hari di bulan Mei. Melemparkan kepadanya sebuah surat dan sebuah bungkusan besar berwarna cokelat—terlihat baru saja dibuka. Istrinya seperti baru saja melihat sesuatu yang menakutkan, berbicara dengan gemetar, “Sebenarnya apa yang kau temui di Rusia? Seseorang mengirimimu senapan. ‘Cobalah senapan Chekhov!’ begitu tulisnya.”

Maruta tersenyum. Dia tak mungkin menjawab pertanyaan itu. Menceritakan orang-orang istimewa yang ditemuinya di Moskow akan menyalahi kode etik.


***


SENAPAN Chekhov itu kini terpajang di dinding kamar tidur Maruta. Dia pun tak khawatir surat-surat akan tersesat ke alamat lamanya. Dia telah mengirimkan pesan ke salah satu temannya—juga pencinta Chekhov—alamatnya yang baru. Hasilnya memang sedikit mengesalkan, suratnya kali ini datang terlambat. Tapi dia tidak punya pilihan lagi, istrinya menggugat cerai bulan lalu dan hingga sekarang masih dalam proses.

Maruta menyesal telah mabuk semalam. Dia mengutuk Rumi, perempuan penjaga warung itu berdandan sangat mencolok semalam dan mengundang berahi. Maruta yang telah berada di rumah dan meminum bir, tiba-tiba teringat lagi padanya dan memutuskan untuk kembali lagi ke warung tengah malam. Dia mengendap-endap dan menyelinap ke bilik, menunggu. Saat perempuan itu masuk hendak istirahat, Maruta segera menyergap dan menindihnya. Rumi diam saja—dia telah hafal kelakuan Maruta sejak tiba di desa dan berhasil merayunya—dan hanya berpesan agar pelan-pelan, jangan sampai ketahuan adik dan adik iparnya yang masih melayani para remaja mabuk di depan.

Setelah mustahil bagi Maruta tiba di Rusia tepat waktu, yang bisa dilakukannya kini hanya membuat rencana bunuh diri yang bisa dilakukan di rumahnya sendiri. Teman-temannya yang lain, yang dia bayangkan mulai berkumpul di Moskow, pasti membuat rencana-rencana bunuh diri yang mengagumkan demi merayakan kematian Chekhov. Dia tak ingin kalah.

Namun apa yang bisa dilakukan dengan sebuah stetoskop, seikat jerami, sebuah peluru berdiameter besar, dan sepotong tangan mainan untuk membunuh dirinya? Maruta menjangkau senapan dan melemparkannya sekalian ke ranjang. Dia bisa saja memasukkan peluru ke senapan dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri. Dengan diameter sebesar itu, kepalanya pasti pecah berantakan. Tapi itu cara bunuh diri yang biasa. Bisa dipastikan teman-temannya—yang juga mendapat barang-barang yang sama—pasti memikirkan cara bunuh diri ini. Dia tak ingin cara mati seperti itu.


***


BIARA Novodevichy ditutup, mungkin untuk menghindari kejadian tahun lalu dimana beberapa orang nekat memecahkan nisan dan marmer kemudian mengeduk sejumput tanah, tepat saat perayaan kelahiran Anton Chekhov. Karenanya, orang-orang itu memindahkan pertemuan mereka ke sebuah bar sepi di kota Moskow. Bar kecil itu mendadak penuh ketika mereka semua masuk. Kursi-kursi ditata sedemikian rupa. Melingkar. Kemudian mereka duduk. Berbincang-bincang, umumnya menggunakan bahasa Inggris.

Beberapa orang silih berganti maju ke depan, memperagakan adegan-adegan kematian yang telah mereka rencanakan. Ada yang mencekik diri dengan stetoskop, menyumbat tenggorokan dengan jerami, dan banyak di antaranya menembak diri sendiri entah di jantung atau di kepala. Pelayan bar mengernyitkan kening, mengira mereka adalah bagian dari sebuah kelompok teater.

“For Chekhov!” kata seseorang sambil mengangkat gelas, dan segera diikuti yang lain.

Seseorang yang lain, membawa ponsel, berkata nyaring ketika peraga terakhir—yang memerankan kematiannya dengan mencekik lehernya sendiri—bangkit dari lantai dan kembali ke tempat duduknya. “Ada sebuah pesan dari teman kita di Indonesia, tentang kematiannya,” katanya, “dia tak bisa datang karena surat yang terlambat tiba.”

“Bacakan! Bacakan! Bacakan!” seru semua orang, sambil menepuk-nepuk pin bertulis: Chekhov (1860-2012).

Orang yang membawa ponsel berdeham, kemudian berkata, “Sungguh menyenangkan jika kematianku, bisa diikuti oleh kematian orang lain sebanyak-banyaknya. Aku bisa menggunakan stetoskop untuk mencekik orang sebanyak-banyaknya, mungkin Rumi—gundikku, editorku, seorang penulis yang membajak karyaku, dan beberapa orang yang menyebalkan dalam hidupku. Sementara senapan itu bisa aku gunakan untuk membunuh istriku. Cukuplah dia kupukul dengan gagangnya. Dia lemah. Akan mati seketika. Lantas ketika tiba giliranku untuk membunuh diriku sendiri, aku akan membungkus kepalaku dengan sebuah amplop cokelat besar dan mengikatnya dengan jerami. Bukan apa-apa, aku hanya tak mau isi kepalaku berceceran kemana-mana ketika aku menembakkan senapan tepat di dahiku. Itu kematian yang cepat, bukan? Tak akan ada teriakan dan jerit ketakutan. Meski begitu, aku telah berjaga-jaga dengan membungkam mulutku dengan sepotong tangan itu. Kematian, bagaimanapun juga, harus dirayakan dengan sebaik-baiknya.”

Hening sejenak. Kemudian terdengar riuh tepuk tangan. Kursi-kursi bergoncang, sebuah stoples nyaris menggelinding karena guncangan yang melanda meja di tengah lingkaran. Untung seseorang menangkapnya dan menegakkannya kembali, lebih ke tengah. Sikapnya sangat hati-hati dan takzim pada stoples berisi tanah itu. Sebelum melepaskan tangannya, dia masih sempat menggosok tulisan yang tertulis di badan stoples: Anton Chekhov. (*)


Lamongan, 1 September 2012


Catatan:

[1] Anton Chekhov, salah satu sastrawan besar Rusia yang juga seorang dokter. Karya-karyanya sering berisi peristiwa-peristiwa tragis dengan latar kehidupan di kota-kota kecil atau pedesaan.

[2] Dikutip dan diartikan dari cerpen Ward No.6 karya Anton Chekhov.


Tentang Pengarang : Gatot Zakaria Manta, lahir di Lamongan, 30 Maret 1990. Sekarang tinggal di Semarang.

Sumber Cerpen : Dimuat di Surat Kabar Suara Merdeka, 23 September 2012

Ilustrator Cerpen : Putut Wahyu Widodo