Puisi Malam

Jangan Kau Ragu

cukup..

kehilangan pernah membuatku kuyup
menelan air mataku sendiri
sampai bulir-bulir terakhir
mengalirkan getir
ke dalam diri
menjelma bebatuan tajam mengkristal
sebagai bongkahan runcing menawarkan pedih pekat duka yang kekal.

cukup..

aku tak hendak sesak lagi
mulai di sini di saat ini
ku mau kau bukan semilir
sejuk merayu untuk sekedar mampir
di malam-malam gigil beku dingin
tentu aku tak ingin.

tetapkan..
sebelum kau terlepas ucapan :

“O lelaki pendamba! Teruslah meneliti awan-awan seakan tengah mencari alamat sesuatu!”

ya, aku masih mencari perempuanku yang ditelan langit
tentu kau tahu dari dulu
begitu naifkah ini bagimu?
ketika ku masih menyusuri jejak bidadariku
perlahan pupus dihapus sinar perak matahari
namun setelah hadirmu di sisiku kini semua tualang mau kuakhiri
cukup dirimu, bidadari pengganti ──
muara segala pengagungan sampai akhir hidupku nanti.

cukupkah ini kukatakan padamu?
terimalah dengan mulia jiwamu jangan lagi kau malu
atau tinggalkan diriku dan segera berlalu
secepat angin bila perlu
sungguh jangan kau ragu
sebab kau sepenuhnya tahu
isi hatiku bukan rayuan romantis sebuah lagu


PUISI | 14 November 2011 | 21:24