Puisi 9 November 2011

BAHASA CINTA
 

Metafora dan kiasan

mungkin mengabuti makna dengan tampilan menawan.

Maksud dan isi bisa jadi terantai ditawan

demi sebuah penampilan yang menyemburkan citra gemerlap

agar mata dan jiwa luput menangkap karena terlelap.

Ungkapan metaforis dan berkias itu haram bagi kita, tak terpakai

kau dan aku kini berbicara dengan segenap ketulusan cinta yang berkata.

Kita tak bermetafora ketika ada kehangatan yang ingin dirasa,

kita biarkan mengalir syahdu, terhanyut diri dalam gelombang samudra malam-malam romansa.

Kau dan aku tak lagi memakai perumpamaan

ketika ada keinginan untuk memberikan tempat teristimewa

dalam taman hati kita yang tentram dan semerbak

akibat wangi bunga-bunga cinta yang bersemi merebak.

Bahasa kita adalah cinta :

ketulusan saling berbagi walau secuil kesenangan,

tak terlalu besar namun terasa cukup dengan tulusnya perhatian

kau dan aku yang tak ingin sedikit pun saling berjauhan

Bahasa cinta kita tak berhiperbola mengembung

melambung-lambung,

melemparkan angan melayang di atas langit melengkung.

Bahasa cinta kau dan aku begitu lugas

tiada tertutupi selimut berbagai majas.

Buktinya apa?

Ketika kuingin meluapkan rasa sayangku padamu

mendaratkan kecupan tepat di kedua kelopak mata elangmu,

sayang, kau tutup matamu dan meresapinya begitu syahdu.

Tahukah kau?

Bahasa cinta kau dan aku seperti hangat mentari

cahaya yang dinantikan hijau kuncup tunas dedaunan bermahkota embun di atasnya menari.

Bahasa cinta kita tampak cemerlang putih

berkat kehangatan pelukan cahaya kasih

Bahasa cinta kau dan aku lepas dari majas

berekspresi begitu apa adanya, tak tersumbat ringan lepas

Hingga aku tak ‘kan pernah menampik kehangatan cintamu

kian hari kian mengembang

selebar rentang kedua tangan

saling menyambut dalam pelukan.

Wahai, engkau dara bermata elang

bawa saja aku melayang di kedalaman makna aksara-aksara bahasa cintamu.



*** Puisi ini teristimewa untuk perempuanku bermata elang,

terima kasih telah mengajarkanku akan pentingnya ungkapan tulus cinta

tanpa harus dikabuti metafora gombal yang nakal untuk merayu-rayu.

PUISI | 09 November 2011 | 02:01