puisi 2 November 2011

HOMO HOMINI LUPUS

kami saling menatap
pandangan mengarah pada dada
o, entahlah, hasrat berbagi
begitu meluap, indah mendekap
hati terasa haru biru

kawanku!
berikan saja sepotong deramu
hanya padaku. ya, semata untukku

kini hari cemerlang berkilau
sebening embun pagi memukau
kabut kelabu menyelimuti, terhalau
riuh burung pagi bercericau

"hanya saat itu saja ketika kami saling berbagi
dalam hati lapang  yang tak ingin membuat rugi!"

ketika jalan terpilih ingin dijelajahi
matahari lelah setelah seharian menyinari
semburat merah tembaga senja meruang
mata yang terang sekarang terhalang

tiba-tiba belukar memagar
setapak mendaki ke puncak pun tersamar
dan gelap yang menyergap
suasana di luar dan dalam diri kami pun telah kalap

"masihkah terang matamu memandang, kawanku?
lalu untuk apa sebilah belati itu?"

"hanya untuk berjaga-jaga!" jawabmu.
"kita sedang menempuh jalan beronak."

"bersabarlah. sarungkan dulu belatimu.
rasakanlah udara menggigit ini. mari saling menyusupkan jemari."

"yakinlah, kelam ini indah dengan cahaya purnama.
hilangkan gusarmu yang membelenggu."

tapi resah makin membuncah
kalah. kami pun akhirnya berpisah
berlari saling mendahului ke puncak di atas sana
penuh luka di sekujur tubuh tak dirasa demi sebuah istana 

dan kini masih saja dalam luka jiwa merana
kukenang masa kita yang penuh warna

"kawan, seandainya kita bisa menahan diri?"