Gumam Dini Hari

1. TERIMA KASIH KEPADA PARA PENERJEMAH



“Ya, membuat diri untuk dipahami ternyata sulit sekali…” aku membathin.

Bayangan melesat-lesat. Sekilasan merentangkan layar cerita beberapa orang datang dan pergi dalam hidupku. Mereka ada yang jenuh, selanjutnya berlalu. Datang yang lainnya lagi, dirinya dirubung rasa keingintahuan yang besar untuk memahamiku. Tiap orang di antara mereka mencermati, menelaah dan merenungi apa makna dibalik tingkah laku yang kutunjukkan. Sesekali kulihat mereka suka menengadah beberapa lama. Aku sempat heran melihatnya. Lalu, tegas kukatakan:

“Aku bukan siapa-siapa. Mungkin karena aku bisa jadi siapa saja. Entahlah!”

Yang baru datang menghampiri terkesima?!? Benarkah? Tetapi mereka tetap saja penasaran. Tak mungkin tega aku menghardiknya. Akhirnya, ini memaksaku untuk membuat suatu kesimpulan:

“Aku harus berterima kasih kepada kalian semua, hai para penerjemah..”




2. EKSISTENSI


“Bedebah! Semua ini tidak ada!”

Teman-temanku protes, “Bagaimana bisa? Lalu, kau anggap kami ini keberadaan di antara kekosongan? Benarkah?”

“Teman-temanku semua…” aku coba meluruskan, “Kita ini ada dari sebelumnya tak ada. Kemarin seorang dari anggota klub kita begitu nyata ditengah kita semua. Sekarang ia tiada. Dan, lihatlah! Sebelumnya pohon mangga di depan rumah itu rindang dan meneduhi, disambar petir sore tadi pohon itu tumbang dan dibawa truk sampah ke TPA. Sekarang tampak tidak ada, bukan?”

Alis mata mereka hampir bertaut mendengar ucapanku. Tiga orang di antara yang hadir malah menggaruk kepala dan ujung hidungnya. Dua orang tampak manggut-manggut seperti sepasang burung dara dihamburi butiran jagung.

“Jadi kalau begitu ini semua ilusi yang seolah nyata. Delir yang dipercaya, benar demikian?” tanya dua orang temanku tadi hampir berbarengan.

“Ya, bahkan lebih dari itu. Kefanaan adalah bedebah yang menipu. Karena, esensi sebenarnya perubahan yang abadi. Itulah hukum eksistensi mondial.”




3. DIALOG IMAJINER


Nietzsche bilang, “Saat cinta dan kebencian tidak berperan, tindakan perempuan akan biasa-biasa saja.”

Lama aku memikirkan kalimat ini. Biasa-biasa saja berarti monoton, lalu menjadi membosankan. Ah, aku tak sudi perempuanku jadi biasa-biasa saja. Aku akan merubahnya jadi istimewa. Harus! Kehendakku ini begitu membludak. Sesekali mempercepat detak jantungku ── gedebak-gedebuk iramanya.

Maka kupandangi lukisan potret filsuf Jerman di dinding lekat-lekat. Hei, ia genit mengedipkan mata - berisyarat. Ini lampu hijauku untuk berdialog secara imajiner. Aku ingin bertanya padanya:

“Hei, Jerman berkumis tebal.. Apa maksudmu?”

“Engkau yang bertanya padaku?” ia lantas bertanya balik. Dihempaskannya pena ke atas meja tulis. Susah ditebak kelakuannya. Barusan tadi ia memperkenanku. Ah, sudahlah..

Aku beralih kini kulirik sebentar ke arah meja. Mataku menangkap sebait puisi telah digoreskannya di atas selembar sobekan kertas. Bait itu berbunyi:

── Ada kesucian dalam kekaguman: ini terjadi dalam diri orang yang belum menyadari bahwa suatu hari nanti dia mungkin akan dikagumi. ──

“Heh..” si Jerman berkumis mirip pisang tanduk itu menegurku, “Apa yang kau curi dari lirikanmu tadi?”

Wah, heran aku dibuatnya. Bagaimana ia bisa cepat tahu?

“Aku melirik sebait puisimu,” jawabku jujur. Aku tak mau nanti ia berubah pikiran menjawab pertanyaan utama tadi gara-gara keusilanku.

“Itu bukan salah satu bait puisiku. Itu aforismaku, goblok!” bentaknya mengejutkanku.

“Ayolah tunggu dulu.. Jangan emosian dulu… Manusia unggul sepertimu pasti selalu bisa menahan emosi…”

“Jangan mengajariku…” potongnya tiba-tiba, “Aku lebih paham tentang emosi dan menahan diri. Kehendak untuk menguasai emosi dalam analisis terakhir hanyalah kehendak dari beberapa emosi lainnya. Sadarkah kau?”

“Baik, baiklah… Lupakan saja!” sahutku cepat dan terburu-buru, “Waduh..”

Hmm sepertinya aku mesti menetralisir keadaan beberapa saat. Kubiarkan ia mengelus-elus kumis kuas tebalnya. Mudah-mudahan nanti hatinya dingin.

“Kau ingin bertanya apa tadi?”

“Wow… Dewi Fortuna!” seruku girang, melihatnya telah baik di luar perkiraanku.

“Aku mau bertanya mengapa perempuan akan tampak membosankan bila dirinya tak bertindak didorong cinta atau kebencian?”

“Karena dengan cinta yang berasal dari hatinya yang lembut, dunia akan terang walaupun mentari bosan dan merajuk menyinari duniamu.”

Satu pertanyaan telah selesai dijawabnya, aha, sedikit melegakan. Dan, memang demikianlah kiranya ketika apa yang sedang dicari akan memberitahukan tempat persembunyiannya.

Ia melanjutkan kembali penjelasannya:

“Bila seorang perempuan sedang dibakar kebencian, percayalah amarahnya akan lebih dahsyat dari kekuatan letusan gunung api yang mungkin bisa meluluh-lantakkan beribu-ribu kota Pompeii. Ia akan berubah menjadi luarbiasa, percayalah!”

Agak kecut aku mendengar penjelasannya ini. Huh, lumayan menyesakkan. Tapi, aku masih penasaran. Satu lagi pertanyaanku belum ia jawab.

“Bagaimana aku harus bersikap agar perempuanku tidak biasa-biasa saja dan selalu istimewa bagiku?”

“Kau harus mencintainya. Berikan cinta yang tulus, maka perempuanmu akan membalasnya dengan jumlah cinta yang tulus berlipat ganda. Tentu saja ia akan menjadi perempuanmu yang istimewa. Berbahagialah untuk itu.”

Sejuk sekali aku mendengar jawabannya. Serasa berjalan di atas rerumputan lembut yang basah oleh embun malam. Mungkin lebih dari itu! Seperti dibelai-belai angin sore di pantai ketika semburat cahaya mentari membingkai horison berona keemasan pertanda pintu gerbang utama malam segera akan terbuka. Aku sekarang tengah menikmati betapa lezat rasa syukurku menemukan seorang perempuan yang memang begitu istimewa bagi diriku berkat cinta kami yang meluap-luap ── perempuanku adalah tuan tanah jiwaku kini.

Tetapi, tiba-tiba suara berisik dua ekor kucing kawin membuyarkan lamunanku. Biasanya pasti kulempar dengan batu. Atau setidaknya aku akan mengeong lebih keras dari jerit kucing betina ketika kucing jantan pasangannya menegaskan eksistensi kemaskulinannya. Namun, entah apa sebabnya saat ini yang terjadi sebaliknya, aku mengulum senyum menyaksikan gairah dua mahluk Tuhan itu ── yang satu gemas menggigit tengkuk, pasangannya termiring-miring dengan jarak kepala dan badan membentuk sudut tumpul hampir sejajar dengan tanah sebagai spring bed mereka berdua.  Aku pun sejenak melayang kembali.

“Aduhai, alam dan prilaku penghuninya sungguh menjadi aksara-aksara penuntun. Kucing betina itu dengan didorong insting kecenderungan pada si jantan yang sudah menghargai arti keberadaannya membuktikan betapa langsung balasan yang ia berikan demi pelestarian diri yang eksistensial.”

Luar biasa dahsyatnya hasrat untuk memperbanyak diri. Lakukanlah, lakukanlah saat ini juga, hai mahluk Tuhan, tapi harus dengan cinta. Karena, cinta itu juga adalah kekuatan yang ingin mengistimewakan keberadaan lain sehingga akan sama-sama bercahaya dalam berkahnya. Setelah itu, biarkan diri merasakan nikmat kelestarian.

Aku jadinya begitu tergiur untuk lestari pula bersama perempuanku. Tapi, kami dua insan yang berakal-budi. Maka, aku akan melestarikan diri bersamanya nanti setelah melewati sensor tingkat uji kehalalan 100%. Dengan direstui hukum-Nya, cinta kami akan lebih cemerlang bersinar. Tunggulah sayangku, bersabarlah dulu. Aku cinta padamu.

*** I dedicate this to my special lover, 
”Oh, my dear… My life’s in your hands…”


FIKSI | 16 November 2011 | 03:31