Cerpen Gyrdirn Eliasson : Inferno

Inferno

Oleh GYRDIRN ELIASSON


KAMI baru saja pindah ke sebuah apartemen di pinggiran kota dengan segala kerepotan angkut-mengangkut barang dan kami terpaksa melakukan hal-hal yang tak akan kau pedulikan jika kau tak merasa punya kewajiban sosial. Pada hari ketujuh setelah kami pindah, istriku berkata kami harus pergi ke Ikea untuk membeli sebuah kursi berlengan yang akan serasi dengan sofa baru kami dibandingkan dengan kursi yang lama. Aku tak menyatakan keberatan walaupun aku sungguh tak melihat ada yang salah dengan kursi lama kami.

“Ingat kursi yang pernah kutunjukkan kepadamu?” ujarnya.

“Kursi yang mana?”

“Yang ada di katalog.”

“Tidak,” sahutku.

“Kau tak pernah ingat apa pun.”

“Mungkin,” sergahku.

Hari itu berlalu dengan menggantung lukisan-lukisan dan menata buku-buku di rak. Menjelang waktu minum kopi, kami akhirnya pergi untuk membeli kursi yang dimaksudkan istriku. Tercium tanda-tanda awal musim gugur di udara: dedaunan mulai luruh dari pepohonan dan cabang-cabang telanjang menampilkan bayangan samar di atas bumi dalam pendar cahaya matahari senja. Lalu lintas amat tak menyenangkan pada jam itu. Kota kecil ini selalu berusaha keras meniru kota besar. Kunyalakan radio. Bob Dylan menyanyikan sebuah lagu dari album Street Legal. Aku menyimak seraya menatap lurus ke depan dari balik kacamata gelapku.

“Kau selalu melamun saat menyetir,” kata istriku seraya mengecilkan suara radio.

“Oh, ya?” sahutku acuh tak acuh.

“Ya, selalu.”

Mobil-mobil SUV berseliweran menyalip kami, satu demi satu. Lalu sanatorium tua di Vifilsstadir muncul, dikelilingi rerumputan kuning dan gerombolan pepohonan, mengingatkanku pada sebuah gedung kosong di pedesaan, barangkali di suatu tempat di Swedia—setidaknya aku selalu teringat Margit Siderholm ketika menyetir melewati daerah ini. Selepas sanatorium, tampak sebuah bukit lonjong berbalut semak-semak yang kecokelatan di bawah sinar mentari musim gugur. Gedung Ikea menjulang di kejauhan. Tak seorang pun paham bagaimana mereka mendapat izin membangun gedung tepat di samping jalan-jalan setapak indah alamiah kawasan reservasi Heidmark, tapi di sanalah bangunan raksasa itu kini mengangkang dan jelaslah sudah terlambat untuk melakukan apa pun soal itu.

“Bikin sakit mata,” ujarku.

“Sakit mata apanya?” tanya istriku, menatapku.

“Ikea,” sahutku.

“Ah, tidak,” tukasnya. Lalu dia menambahkan, “Parkir sedekat-dekatnya dengan toko.”

Gedung itu menampilkan bayangan biru pudar di atas mobil saat aku memarkirkannya dan melangkah keluar. Kami masuk melalui pintu otomatis. Kini pintu otomatis sudah tak seru lagi: mereka semua dikendalikan secara jarak jauh. Bahkan Chaplin pun tak akan bisa membuat lawakan dengan itu. Hanya ada sedikit pelanggan di dalam toko, semuanya berkerumun di eskalator, menatap ruang hampa saat mereka naik. Sukar disimpulkan apakah tatapan mereka menyiratkan optimisme akan sebuah masa depan cerah, rasa terima kasih pada desain Swedia, atau hanya kehampaan yang tak berpengharapan. Aku dan istriku berdiri di atas undakan terpisah di atas eskalator, menatap ke arah yang berlainan.



SETIBA di bagian ruang tamu, kami berkeliling di antara kursi-kursi dan aneka sofa, tapi tak berhasil menemukan kursi yang dicari istriku. Sejujurnya, aku sama sekali tak ingat seperti apa kursi yang dimaksudnya, tapi aku tak menunjukkannya dan aku berpura-pura mencari-carinya di seantero toko. Seorang lelaki muda berkaus kuning berjalan mendekat. Istriku melambai kepadanya.

“Kursi ini,” ujarnya.

“Kursi yang mana?” tanya si pramuniaga.

“Yang ini,” katanya seraya mengeluarkan katalog dari tas tangannya, membuka halamannya, dan menunjuk kursi yang dimaksud.

“Oh, yang itu sudah habis terjual.”

“Sudah habis?”

“Ya.”

“Kalian selalu kehabisan apa saja.”

“Hm, tentu saja tidak selalu,” kataku, mencoba menengahi.

“Ya, selalu,” ujarnya keras kepala.

“Saya akan memeriksanya untuk Anda,” kata si pramuniaga. Saat berlalu, dia menoleh ke belakang kepada kami sehingga dia menabrak ujung sebuah sofa. Dia terhuyung, tapi terus berjalan.

Seperempat jam telah lewat, tapi lelaki itu tak kunjung kembali. Tak ada tanda-tanda kehadiran seseorang yang tampaknya karyawan toko ini. Kenyataannya, sedikit sekali orang yang berkunjung ke bagian sofa. Seakan-akan tempat ini tak terpakai. Sejenak aku merasa seolah-olah terperangkap dalam sebuah dongeng anak-anak karya Jens Sigsgaard.

Aku duduk di atas sebuah sofa kulit cokelat yang terasa sangat nyaman bagiku. Namun, istriku tetap berdiri tak sabar sepanjang waktu, mencari-cari di sekujur permukaan toko dengan tatapan setajam elang.

“Mereka hanya mempekerjakan orang-orang tolol di sini,” cetusnya.

“Oh, ayolah, benarkah?” tukasku.

“Ya, jelas.”

Akhirnya kami berhenti menunggu dan berjalan menyusuri toko dengan mengikuti jalur bertanda, membiarkan anak panah berpikir untuk kami. Kami tak berhenti untuk melihat apa pun di sepanjang jalan.



KAMI sampai di restoran yang menyambut kami dengan aroma bola daging cincang Swedia dan aku baru menyadari bahwa ternyata aku lapar. Aku berdiri menimbang-nimbang di depan pintu masuk, menatap ke dalam ruangan. Tak ada banyak orang di dalam: beberapa gelintir duduk menghadap meja, yang lainnya mengantre di konter, menunggu bola daging cincang, kentang, saus daging, dan selai buah beri disendokkan ke atas piring mereka.

Matahari musim gugur menyinari ruangan itu dan aku menemukan diriku menatap seorang lelaki yang sedang duduk menyendiri menghadapi sebuah meja di tepi jendela. Bahunya agak bungkuk, rambutnya kemerahan, janggutnya tipis, dan dia mengenakan mantel hitam berkerah tegak yang sabuknya terjuntai ke lantai. Dia sedang minum bir. Matanya menatap gelas seakan-akan dia tak dapat melihat hal lain atau seolah-olah gelas itu sebuah cermin yang memantulkan seluruh dunia.

Aku merasa mengenal lelaki itu, tapi tak segera mampu mengingatnya secara tepat. Lalu tiba-tiba aku menyadarinya. Dia August Strindberg.

Strindberg—yang paling takut pada neraka daripada hal-hal lain, sebuah ketakutan yang sering digambarkannya dalam berbagai tulisannya—terdampar di sini setelah kematiannya, di sebuah gerai cabang Ikea di Islandia. Inilah lelaki yang menyatakan bahwa Lund adalah neraka di atas dunia, tapi sesungguhnya hanya tahu sedikit tentang Islandia dan tak tahu apa-apa tentang Ikea yang memang belum ada pada saat dia masih hidup. Saat aku menatapnya, dia sekan-akan menyusut dan terus menyusut di balik gelasnya, dikutuk sepanjang masa. Lelaki inilah yang telah menulis di dalam catatan hariannya, “Siapa pun yang berkata bahwa hidup ini indah, berarti dia babi atau orang tolol.”

“Lihat di sebelah sana,” ujarku kepada istriku seraya menunjuk ke seberang ruangan.

“Mana?”

“Di sana, dekat jendela.”

“Siapa itu?”

“August Strindberg.”

“Dia manajer toko?” tanyanya, acuh tak acuh. Lalu dia menukas, “Seharusnya aku berbicara kepadanya tentang tokonya yang mengecewakan.”

“Bukan, dia pengarang,” jelasku. Lalu, aku buru-buru menambahkan, “Dulu.”

“Lelaki tua itu, kan?”

“Ya.”

Istriku menatapku tajam. “Kamu berpura-pura bisa melihat hantu?”

“Setidaknya aku pernah menonton Sonata Hantu, drama yang ditulisnya.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Itu memang dia,” kataku.

Istriku mencekal lengan jaketku dan menyeretku ke arah pintu otomatis.



BAYANGAN di tempat parkir makin gelap dan udara kini terasa lebih sejuk. Kami masuk ke dalam mobil dan aku menyetir perlahan. Tadinya aku hendak menyalakan radio, tapi kemudian memutuskan untuk membatalkannya.

“Aku tak akan pernah kembali ke sana,” ujar istriku seraya memasang sabuk pengaman dengan gerakan mengentak.

“Jangan pernah berkata tak akan pernah,” sahutku penuh keberanian. Benakku kembali pada Strindberg: bagaimana dia duduk di sana, tanpa harapan pengampunan, sabuk mantel hitamnya menjuntai ke lantai bagai rantai, tapi kerah tegaknya tak menyerupai sayap iblis.

Bebukitan rendah di atas jalanan tampak menyihir dalam terpaan cahaya lembut, jalanan setapaknya yang bersesimpang saling menyilang di antara pepohonan. Aku ingin berjalan-jalan di sana dengan Strindberg, membebaskannya dari neraka modern ini. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku pernah mengunjungi Lund dan dia keliru tentang tempat itu.

Tapi tidak. Aku tak pernah kembali. (*)



1. Tentang Pengarang :
Gyrdirn Eliasson adalah pengarang Islandia. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia berdasarkan terjemahan Inggris Victoria Cribb dari bahasa Islandia. Judul cerita diambil dari judul buku otobiografi August Strindberg (1849-1912), penulis Swedia.

2. Sumber Cerpen : Koran Tempo, 16 September 2012