Empat Puisi Malam

1. Benarkah?

hidup,
benarkah pesona menawan?

mati,
benarkah rahasia abadi?

alam,
benarkah sederet kata mewarta?

manusia,
benarkah segunung hasrat purba?

─ mengapa
─ ada apa
─ bagaimana bisa
─ siapa jadi mengada
─ kemana tujuan yang ada
─ kapan akhirnya mengada
─ pernahkah bertanya
─ atau merangkum jawaban dalam kira-kira

:

hidup adalah paduan warna dalam lukisan tak berbingkai sepuhan agung
mati adalah sisa selimut malam yang masih hadir untuk menanti ceria pagi
alam adalah do’a-do’a penuntun yang dipanjatkan oleh para pengembara dirundung resah
manusia adalah kuasa yang menyala-nyala dalam dada setelah kepatuhan nyata di depan mata

…, dan Tuhan

siapakah Dia
yang bersemayam dalam istana langit-Nya
di atas singgasana
jauh di atas sana?

aku ──
── apakah semburan lava membara
menggelegak dari dalam gunung berapi yang terusik lelapnya?

kebenaran ──
── apakah sebentuk mahkota permata?
ketika tiada lagi upacara kebesaran
bagi penobatan sang raja bertahta
karena singgasana telah basah
oleh pekat amis darah.

benarkah ini semua?


2. Epigram : Setelah Usai Badai

Setelah usai badai
akankah ini gelombang
dalam ketenangan menuntun damai
ke pantai berhujan hatimu yang masih berderai?

“Kesombongan kita paling tahan terhadap rasa sakit saat harga diri terluka.”
── Nietzsche ──


3. Segurat Kisah Prasasti Batu Hitam dan Desau Ilalang

dengar, dengarkanlah kisah berkabar
suara dari balik lembah dingin yang berselimut kabut
desah yang tak mampu dihalau tajam berkas demi berkas mentari bersinar
masih menyimpan rayuan semilir ketika embun malam
terlambat hadir untuk mengusir resah kian membuncah tak dapat diredam
di sini melekat erat
tubuh yang berhayat.

ini kabar tentang cerita dari padang gersang
saat sebelum hujan datang
kemarau garang liar memanggang
lirih desau ilalang
berdendang:

sejuk pagi luput tereguk
habis terkikis ── berganti udara berserbuk
dan itu tubuh lusuh
lelah bersimbah gemuruh
menunggu pada satu titik waktu
untuk penantian yang belum dirumuskan
oleh pergantian musim yang lamban berjalan
memaksa duduk menekuk
── mengabadikan kisahnya dalam
guratan puisi pada wajah kusam

prasasti batu hitam.


4. Mati

:

siapa yang mengejar-ngejar?
lihatlah! ia kini begitu gegas

oh, itu waktu yang berlari
mau apa ia kini? mengapa terburu-buru?

berhenti, mari dengarkan
ada yang hendak ia sampaikan.

“….. aku waktu telah lelah memberitahu,
engkau dan dunia kau kejar saling menjauh
tapi semakin mendekat ke arahku.”

boleh kami tahu gerangan apa sampai begitu?
setidaknya untuk membuka mata lebar melihatmu

“…. apa kalian hidup dalam kesungguhan hidup?
lihatlah, kalian telah tertipu.
kalian hidup dalam lukisan angan-angan menawan.”

bagaimana bisa kami menipu diri?
semuanya nyata di hadapan kami.

“….. oh, baiklah kalau begitu.
dengar dan simak kata-kataku,
agar kalian terang dan lepas dari kurungan ruang pengap ilusi.”

“…… manusia dan hasrat eksistensi abadi
sungguh lukisan angan-angan berpadu
dalam semburat warna-warna pucat kefanaan
mengapa kalian tertarik pada yang palsu menipu ini?
tidakkah kalian segerombolan bocah terperangah?
ketakjuban pada pantulan kemewahan dunia bayangan memenjara nuranimu
luput menyadari sumber cahayamu ── fitrah diri
bagaimana bisa kalian berpikir bayangan bisa mengalahkan cahaya?
ketika baru saja mulai tahu
diri kalian seperti mengambang tanpa bobot tak berpijak
perhentian yang kini mengejar cepat tanpa meninggalkan jejak
semakin merapat, keluar tangan dari dalam mencengkeram tubuh dagingmu
masuk ke dalam tanah, mengendap lama sampai bumi digulung kembali
apa kalian tahu beda hidupmu di sini dan mati?”