Dua Puisi Hari Minggu

1. bagaimana bisa?

kita belum pernah bertemu. aroma, raut muka, seluk-beluk lekuk tubuhmu alpa dalam buku rasa sentuh jemariku. apa ini?

anggaplah bila ‘kita’ hanya sebuah kata tersesat mencari jalan kembali dalam labirin mimpi. dimana bisa menemukan awal mula?

namun tiba-tiba semua berubah seketika udara dingin menerpa, gigil menyergap, menarik dari jauh kehangatan yang terpencil nyata datang mendekat. kau dan aku menyatu, lengket berangkulan. ah, cakung ─ cuaca mendukung, katamu. dan gairah merambah di sekujur badan. tentu saja menuntut ketuntasan, belenggu keintiman merantai kedua pasang kaki. bagaimana bisa berprasangka sebelumnya tak pernah berjumpa?

mari akui ─ kau dan aku punya dunia sendiri. ruang dengan jalan menanjak ke puncak di sana: ada sebuah bungalow hangat dengan sajian kemabukan dari anggur keluguan yang berlabuh dalam kesadaran yang dipenjara kelupaan. keluguan yang memabukkan! suara-suara kita adalah gemuruh ombak yang mengejar tepi pantai pulau dengan keindahan tak terperi akibat keramahan mentari dari jelmaan diri kita sendiri. bagaimana bisa tak tahu asal mula dan ‘kita’ hanya sebuah kata?

bagaimana bisa ini terjadi? mari jangan buang waktu lagi. nikmati saja segalanya mulai dari senja hari sampai pagi menawarkan sekeping senyuman ─ ungkapan jujur dari dalam jiwa kita yang tertawan impian mata terbuka rupawan.

────────────────────────────────────────────────────────────

2. aku selalu di sisimu

sesaat saja aku pergi, pasti ramai kau tangisi. seolah ada perih begitu lirih ingin kau tumpahkan melalui ratapan kesedihan ketika menyangka telah kuabaikan.

lalu kau pun lelap dalam selimut duka yang pengap, bermimpi tengah berada di sebuah pulau tak berpenghuni. putus harapan akibat merasa bahwa aku telah sengaja meninggalkan.

ketika kau terbangun di waktu pagi, kau dapati diriku di sisimu. masih lengket memelukmu, urung niatmu bangkit menjemput hari. ya, aku selalu kembali. diriku dibelenggu tulus kasihmu ─ ini aku.

sayang, mulai saat ini ada baiknya kita belajar lagi ─ melepaskan diri dari cengkeraman prasangka yang melahirkan kepedihan hingga kau dan aku diperintah agar gemar mengunyah buah mimpi berduri.