Cerpen Nasehat Sang Nelayan - Maxim Gorky

Nasehat Sang Nelayan

Oleh : Maxim Gorky



cerita pendek karya maxim gorky, cerpen nasehat sang nelayan


Jangkrik-jangkrik bernyanyi.

Hal itu seperti ribuan senar logam direntangkan dengan kencang di antara ketebalan dedaunan pohon Zaitun, angin menerbangkan dedaunan yang rapuh, mereka menyentuh senar-senar dan cahayanya. Terus menerus mengisi udara dengan suara yang memabukkan. Ini bukan musik yang sebenarnya, hal itu tampak seolah tangan-tangan tak terlihat membunyikan ratusan harpa yang tak tampak, dan seseorang menunggu dalam masa pengharapan agar lagu berhenti. Sebuah orkestra senar yang besar memainkan sebuah hymne kejayaan matahari, langit dan laut.

Angin berhembus, menggoyang pepohonan, puncak gelombangnya tampak bergerak dari pegunungan turun ke laut. Ombak berdebur menjemukan dan berirama menyerang pantai berkarang. Laut itu suatu kekuatan yang hidup, bintik-bintik putih buih tampak seperti sekawanan burung besar yang hinggap di permukaanya yang biru luas. Mereka semua mengapung ke satu arah, kemudian menghilang di kedalaman hanya untuk muncul lagi dengan satu suara yang sedikit terdengar. Dan walaupun memikat mereka dengan kemunculannya, dua perahu layar segitiga mereka muncul tinggi, timbul-tenggelam seperti dua burung abu-abu keduanya itu. Keseluruhan bidang itu seolah tak nyata seperti di suatu yang jauh, mimpi yang setengah terlupakan.

“Akan ada sebuah badai yang hebat saat terbenamnya matahari!” kata seorang nelayan, duduk di dalam bayangan karang-karang di atas pantai berkerikil.

Air pasang telah membasuh sekumpulan ganggang laut berwana coklat, kuning dan hijau di atas pantai dan mereka terkapar remuk di atas kerikil panas di bawah terik matahari, mengisi udara yang bergaram dengan kesengapan yodium yang tajam. Ombak bergulung-gulung saling mengejar menuju pantai.

Si nelayan tua seperti seekor burung dengan wajah keriputnya yang kecil, hidungnya yang melengkung dengan mata sangat tajam yang bulat dan tanpa keraguan tersembunyi di lipatan kulitnya yang gelap. Jemarinya yang monggol, kurus-kering tanpa bergerak di atas lututnya.

“Sekitar separuh dari seratus tahun lalu, Signor,” kata si laki-laki tua dalm suara yang harmonis dengan bisikan gelombang dan senandung jangkrik, “Aku ingat suatu hari yang cemerlang, ketika segala sesuatu tampak tertawa dan bernyanyi, ayahku berumur empat puluh tahun, aku enam belas dan sedang jatuh cinta, suatu yang alami untuk bocah laki-laki enam belas tahun di bawah karunia matahari milik kami.”

“Ke sini, Guido,” kata ayahku.

“Mari pergi untuk beberapa pezonni. Pezonni, Signor, adalah seekor ikan yang lezat lembut dengan sirip berwarna pink. Ia dikenal juga sebagai ikan karang karena kau menemukannya di bawah di sekitar terumbu karang. Kau menangkapnya sedang berdiri pada jangkar dengan sebuah kait pemberat. Ia seekor ikan yang cantik.”

“Dan kami tak menyiapkan apa-apa kecuali tangkapan yang berhasil. Ayahku seorang laki-laki kuat dan nelayan yang berpengalaman, tapi tak lama sebelum perjalan ini ia jatuh sakit, dadanya sakit dan jari-jarinya terserang rematik, penyakit para nelayan.”

“Ini sehembus angin yang sangat berbahaya dan jahat yang mengelus kami dari pantai, seolah mendorong kami dengan lemah lembut ke laut. Jauh di sana dan datang dengan lemparan tak disangka-sangka dan tiba-tiba kepadamu, seolah kau diberinya sebuah luka. Ia membuatmu terbang, kadang-kadang menjungkalkan ke atas dengan kau di dalam air. Hal itu terjadi demikian cepat sebelum kau punya waktu untuk memaki atau mengucapkan nama Tuhan, lalu berputar-putar tanpa pertolongan ke suatu tempat. Perampok lebih manis daripada angin seperti itu. Tetapi kemudian, orang-orang selalu lebih manis daripada benda-benda.”

“Yah, itulah sehembus angin yang menyambar kami empat kilometer dari pantai, begitu dekat, seperti kau lihat. Ia mengambil kami secara mengejutkan seperti seorang pengecut dan seorang bajingan.”

“Guido!” teriakan ayahku, mempercepat rengkuhan dayung dengan tangannya yang sakit. “Berpegangan, Guido! Cepat, jangkarnya!”

“Tetapi sementara aku sedang meraba-raba jangkar, angin menyambar dayung dari tangannya serta menghempas sebuah tiupan di dada yang melemparnya terhuyung-huyung tak sadar ke dasar perahu. Aku tak punya waktu untuk menolongnya, setiap detik mengancam membalikkan kami. Segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat; pada waktu aku mengambil dayung yang tersapu jauh dari kami, dengan cipratan mengelilingi kami dari semua sisi. Ketika angin menghantam puncak gelombang dan menyirami kami seperti pendeta, hanya saja dengan suatu energi yang besar dan bukan dalam tujuan membasuh dosa-dosa kami.”

“Ini serius, anakku!” kata ayahku, sadar kembali. Ia menatap ke arah pantai.

“Ini akan menjadi sebuah tiupan yang lama,” ia berkata.

“Ketika kau muda kau tidak dengan mudah mempercayai bahaya; aku mencoba mati-matian mendayung dan melakukan segala hal lainnya yang harus dilakukan seorang nelayan pada saat kritis, ketika angin, napas jahat para iblis, bersedia menggali seribu kuburan untukmu, dan menyanyikan requiemmu tanpa biaya”

“Tetap duduk, Guido,” kata ayahku tersenyum dan menggoyangkan air dari kepalanya. “Apa gunanya menggali di laut dengan batang korek api? Jaga kekuatanmu atau para penduduk di rumah akan menunggumu dengan sia-sia.”

“Gelombang hijau melemparkan keahlian kami seperti anak-anak melemparkan sebuah bola, mereka mendaki di setiap sisi, muncul di atas kepala kami, menderu dan mengoncang kami dengan gilanya. Kami jatuh ke dalam lubang-lubang menganga, kemudian mendaki ke ujung puncak putih yang tinggi. Pantai dengan tangkasnya cepat menjauh dan lebih jauh, tampak menari jauh dengan api unggun kami.”

“Kau harus kembali, tetapi aku tak dapat!” ayah berkata padaku. “Dengar dan aku akan memberitahu kau tentang memancing dan bekerja…”

“Ia mulai menceritakan kepadaku semua yang ia ketahui tentang kebiasaan salah satu atau beberapa ikan, dimana, kapan dan bagaimana yang terbaik menangkap mereka.”

“Tidakkah kita lebih baik berdo’a ayah?” aku menganjurkan, ketika aku lihat betapa buruknya keadaan kami; kami seperti sepasang kelinci di sekitar sekumpulan anjing pemburu putih yang memperlihatkan taring mereka kepada kami dari semua sisi.

“Tuhan melihat semuanya!” ia berkata. “Ia tahu bahwa manusia yang Ia ciptakan untuk tinggal di atas tanah sekarang binasa di laut, dan bahwa salah satu dari mereka, telah kehilangan harapan untuk selamat, harus mewariskan kepada anaknya semua pengetahuan yang ia miliki. Kerja adalah kebutuhan untuk bumi dan untuk manusia. Tuhan mengerti itu…”

“Dan ketika ia telah membagikan seluruh yang diketahui tentang keahliannya, ia memberitahuku apa yang harus diketahui seorang laki-laki untuk damai dengan sahabat-sahabatnya.”

“Ini waktu untuk mengajariku?” aku berkata. “Di daratan kau tak melakukan itu.”

“Di daratan kematian tak pernah begitu dekat.”

“Angin meraung seperti seekor binatang buas, dan gelombang menderu begitu kencang sehingga ayah berteriak padaku agar mendengarnya.“

“Selalu berlaku terhadap sesama seolah kau tak lebih salah dan tak lebih benar dari mereka, dan hal itu akan benar! Bangsawan dan nelayan, pendeta dan prajurit adalah bagian dari tubuh yang sama dan kau bagian dari tubuh itu, sama diperlukan seperti yang lainnya. Tak pernah datang kepada seorang laki-laki pikiran bahwa lebih banyak keburukan daripada kebaikan dalam dirinya. Percaya bahwa lebih banyak kebaikan padanya dan kau akan selalu menemukannya demikian. Manusia berprilaku mereka mengharapkannya juga.”

“Ia tak bicarakan ini semua pada satu waktu, tentu saja. Kata-katanya datang padaku melalui percikan dan buih yang melemparkan kami dari gelombang-gelombang, kadang terjun ke bawah, kadang mendaki tinggi. Banyak dari apa yang ia katakan dibawa pergi oleh angin sebelum mencapai aku. Banyak yang aku tidak mengerti, Signor. Bagaimana memperoleh suatu pelajaran dengan kematian membayang seseorang di wajah? Aku takut, aku tak pernah sebelumnya melihat laut dalam suatu kemarahan demikian atau merasa tak berdaya atasnya. Dan aku tak dapat mengatakan apapun  kemudian, atau setelahnya. Ketika aku mengingat-ingat waktu tersebut, dimana aku mengalami suatu sensasi yang tak pernah aku lupakan selama hidupku.”

“Aku dapat melihat ayahku, seolah itu hari kemarin, duduk di dasar perahu, lengannya yang lemah terulur berpegang teguh ke sisi dengan jari-jemarinya yang bongkok dan sakit; topinya telah basah kuyup. Gelombang mendorong kepala dan bahunya: kadang ke kanan, kadang ke kiri, depan dan belakang. Setiap kali ia melemparkan kepalanya, ia mendengus dan berteriak padaku. Kulit basah kuyup, ia tampak menyusut dan matanya lebar ketakutan. Atau barangkali karena menderita. Karena menderita, aku mengira.“

“Dengar!” ia akan berteriak. “Kau dengar aku?”

“Kadang-kadang aku akan menjawab: aku dengar kau!”

“Ingat, semua yang baik datang dari manusia.”

“Aku akan ingat!” aku membalas.

“Tak pernah ia bicara padaku yang demikian itu di darat. Ia selalu gembira dan ramah, tetapi aku merasa bahwa ia memandangku dengan kegemasan dan ketidakpercayaan, dan bahwa aku tetap seorang anak kecil baginya. Kadang-kadang hal itu menyakitkanku, karena pemuda itu mudah terluka.”

“Teriakannya menghilangkan takutku, barangkali itulah mengapa aku teringat segala sesuatunya dengan begitu gamblang.”

Si nelayan tua terdiam, matanya terarah ke laut yang berbuih. Kemudian ia tersenyum dan kembali dengan sebuah kedipan.

“Aku telah mengamati orang-orang selama beberapa tahun. Signor, aku tahu bahwa mengingat adalah sama dengan mengerti, dan semakin kau mengerti semakin jernih kau lihat, itulah kebenaran! Percayalah padaku!”

“Di sana, aku dapat mengingat wajahnya yang tersayang, seluruhnya basah dan matanya yang berbintang menatap padaku dengan payah dan penuh cinta, dalam keadaan demikian aku tahu kemudian bahwa aku tidak ditakdirkan mati hari itu. Aku takut, tetapi aku tahu aku takkan mati.”

“Akhirnya, tentu saja kami terbalik. Di sana kami berdua dalam air yang menggelegak, dengan buih menyilaukan kami. Gelombang melemparkan tubuh kami ke sana-kemari. Membentur perahu yang terbalik. Kami menggapai segala sesuatu yang ditemui dan dapat diraih. Di tangan, kami mendekap tali-temali. Kami takkan terbuang jauh dari api unggun kami. Selama kami telah sekuat tenaga bertahan, tetapi ternyata sulit menahan kepala terus di atas air. Beberapa waktu ayah dan aku terlempar lagi ke perahu yang terjungkir dan basah kuyup. Yang terburuk dari itu adalah kepalamu tenggelam. Kau tuli dan buta. Telingamu terisi dengan air, dan kau meneguk banyak air tersebut.”

“Ini berlanjut beberapa lama, sekitar tujuh jam. Sampai angin tiba-tiba berubah, bertiup dengan kuat ke arah pantai. Kami terbawa melaju ke arah daratan.”

“Bertahan!” aku berteriak dengan gembira.Ayah mengatakan sesuatu membalas, tetapi aku hanya mendengar satu kata:

“…..Karang.”

“Ia sedang memikirkan karang di pantai, tetapi batuan itu masih jauh dan aku tidak memperhatikannya. Tetapi ia lebih tahu daripada aku. Kami bertahan lama dengan tubuh kaku dan tak berdaya. Di tengah gunungan air, lengket seperti siput pada perahu yang mengunci kami tanpa hirau. Ini berjalan lama sementara tebing batu hitam pantai datang ke hadapan. Setelahnya segala sesuatu terjadi sangat cepat. Melenggak-lenggok, ia bergerak ke arah kami. Membungkuk ke air, siap menubruk di depan kami. Gelombang putih melemparkan tubuh kami ke depan sekali dua kali. Perahu kami mengerkah seperti sebuah karang di bawah tumit sepatu boot. Aku terlepas, melihat bingkai hitam batu karang setajam pisau terbang di depanku. Aku melihat kepala ayahku tinggi di atasku, kemudian direngkuh oleh cakar jahat. Ia maju selama satu atau dua jam berikutnya dengan punggung patah dan tengkorak kepala terbentur. Luka di kepalanya begitu besar sampai bagian otaknya basah karenanya. Aku dapat mengingat gumpalan abu-abu benda di dalam luka dengan urat darah mengalir menembusnya seperti marmer atau busa bercampur dengan darah.Tubuhnya sangat rusak, tetapi wajahnya bersih dan tenang. Matanya tertutup rapat.”

“Aku? Ya, aku juga babak-belur jelek sekali.Aku tak sadar ketika mereka membawaku ke pantai. Kami telah terbawa ke daratan di luar Amalfi, jauh dari rumah. Tetapi, tentu saja penduduk di sana juga nelayan dan hal demikian tidaklah mengejutkan mereka. Penduduk di sana ramah dan lemah lembut. Orang-orang yang dituntun suatu kehidupan berbahaya selalu ramah!”

“Aku takut tidak dapat menggambarkan perasaan pada pembicaraan terakhir yang diucapkan ayah kepadaku. Perasaan yang telah terbawa dalam hatiku selama lima puluh satu tahun sekarang. Kau perlu kata-kata khusus untuk itu. Bukan kata-kata, tetapi musik barangkali. Tetapi kami nelayan sesederhana ikan, kami tak dapat bicara sebaik yang harus kami lakukan! Kami merasakan dan tahu banyak, lebih daripada yang dapat kami ungkapkan.”

“Hal yang penting ialah bahwa ia, ayahku, pada jam-jam kematiannya, tahu bahwa ia tak dapat meloloskan diri, tidak takut. Ia tak lupa kepadaku, anaknya. Ia menemukan kekuatan dan waktu untuk mencurahkan kepadaku segala sesuatu yang ia pikir seharusnya aku tahu. Aku telah hidup selama enam puluh tujuh tahun, dan aku dapat berkata bahwa semua yang ia katakan padaku adalah kebenaran!”

Si orang tua membuka topi rajutnya yang dulu berwarna merah sekarang coklat. Mengeluarkan pipanya dan menekuk kepalanya yang botak, berwarna perunggu, berkata penuh empati:

“Ya, semua itu benar, Signor yang terhormat! Manusia seperti kau berharap melihatnya, menatap kepadanya dalam keramahan dan kau akan berlaku baik bagi mereka maupun dirimu sendiri. Mereka akan menjadi lebih baik, dan kau juga. Ini sederhana, bukan?”

Angin berhembus terus-menerus.Gelombang naik semakin tinggi, menjadi tajam dan putih. Kawanan burung bergegas menjauh ke suatu tempat. Dua perahu dengan tiga tiang layar telah bersiap lenyap di belakang lingkaran biru horison.

Pantai curam daratan pulau putih oleh buih. Air yang biru gelap gelisah, dan hewan-hewan jangkrik tetap dalam hiruk-pikuk mereka yang tanpa lelah, penuh gairah.




Monster, satu cerpen lagi karya Maxim Gorky. Silakan baca dan simak jalinan kisahnya yang menarik.