Aku Berpikir, Karena Itu Aku Ada?

Aku Bertindak, Karena Itu Aku Ada


“Aku berpikir, karena itu aku ada”, Cogito ergo sum, kata filsuf Rene Descartes.

Lama saya memikirkan pernyataan ini. Mudah-mudahan dengan waktu lama yang dibutuhkan untuk memikirkannya, diri saya cukup lama pula ‘mengada’. Tetapi, apa yang terjadi? Sebaliknya, setiap persoalan yang menuntut untuk dipikirkan dengan seksama dan butuh waktu lama memecahkan ‘hal yang bertolak belakang dengan keinginan’ sehingga menjadi sebuah permasalahan, keberadaan saya menjadi ‘hilang’. Apa sebab? Misalnya, tugas-tugas yang dibebani pekerjaan menuntut ‘ketuntasan’ untuk diselesaikan secepatnya, saya malah tak punya waktu untuk berpikir. Ketika saya mencoba memikirkannya, saya cenderung tak mengerjakan sedikit pun tahap-tahap penyelesaian bertumpuk-tumpuk tugas yang dibebani.  Jadi, saya sendiri lebih cenderung ingin mengatakan, “Aku bertindak, karena itu aku ada.” Dampak dari slogan yang saya karang-karang sendiri tadi, malah bisa membuat saya ‘mengejawantah, karena kalau kelamaan saya berpikir maka yang terjadi adalah ‘penundaan’ untuk menyelesaikan pekerjaan.

Berbicara tentang kalimat filosofis ─ Aku berpikir, karena itu aku ada ─ hal ini berbicara tentang ‘eksistensi’, mempersoalkan tentang kesadaran penuh akan keberadaan seseorang. Secara sugestif, kalimat ini menganjurkan pada tiap individu dengan segala kemampuan kepribadian utamanya yaitu berpikir, untuk memulai apa pun yang ingin dilakukan melalui tahap awalnya ‘mendayagunakan pikiran’. Terjadi suatu pengagungan terhadap peranan akal-budi ── superior rasionalitas. Aku berpikir, karena itu aku ada seolah-olah semacam penegasan bahwa manusia itu ber-eksistensi dengan pikiran baru bertindak. Tidakkah ini bertentangan dengan manusia juga mahluk ber-insting. Ambil sebagai contoh, saya sendiri sewaktu perut terasa keroncongan, sungguh malas sekali berlama-lama untuk berpikir. Saya tanpa pikiran bisa refleks mengambil piring, mengisi nasi dan lauk-pauk yang ada, mengambil sebotol air dingin dari kulkas, semua tanpa pikiran dan dilakukan langsung saja didorong oleh ‘rasa lapar’ sebagai naluri saya yang mahluk hidup. Contoh lain, tadi sewaktu mau berangkat kerja, saya melihat seorang yang hampir diserempet pengendara motor, orang itu gesit sekali melompat ke samping dan berhasil menghindari bahaya yang akan menghampirinya. Ia refleks dan lancar sekali mengeluarkan kata-kata mutiaranya:

“Dasar beruk dapat mainan.. Pagi-pagi ngebut gak karuan.. Monyet dikasih motor gitu lah!”

Ada dua hal yang saya cermati sehubungan dengan peristiwa ini. Pertama, naluri untuk menghindari bahaya dan mempertahankan keberadaan diri terlaksana tanpa sedikit pun sempat memikirkannya. Kedua, bila berbahasa adalah cara untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan memberdayakan ‘linguistic intelligence’ kecerdasan berbahasa tentu hal ini membutuhkan pikiran, tapi tadi pagi saya nyata sekali melihat ekspresi bahasa yang tanpa kegiatan berpikir lancar terujar karena didorong emosi individual. Perhatikan lagi kata-kata mutiara orang yang hampir diserempet itu. Saya juga teringat peristiwa ketika melihat seekor induk ayam sibuk sekali berkotek-kotek memberitahu anak-anaknya saat seekor kucing datang melintas. Insting yang dimiliki induk ayam itu mengkomunikasikan melalui bunyi-bunyi tertentu untuk mempertahankan keberadaan anak-anaknya. Apakah ini mendayagunakan ‘pikiran’?

Baiklah, seandainya telah ditetapkan bahwa manusia adalah ‘mahluk berakal’, maka ciri khas untuk ‘mengada’ adalah dengan berpikir ─ Aku berpikir, karena itu aku ada, saya mendapatkan sebuah pertentangan di dalamnya. Karena ada banyak hal yang bisa dikerjakan tanpa proses berpikir. Mulai dari menghindari bahaya yang datang tiba-tiba, mencari makanan karena perut lapar, menggaruk-garuk ketika kulit digigit nyamuk, menggigil karena kedinginan, atau merasa “gheerrr” saat klimaks wujud dari naluri berkembang-biak. Ini semua tanpa pikiran dan terlaksana melalui tindakan langsung.

Oleh karena itu, saya lebih menyukai untuk berkata “Aku bertindak, karena itu aku ada”. Sebab ketika saya terlalu banyak berpikir, saya khawatir nanti jadinya berkhayal terlalu lama dan tak sepotong pun ada yang bisa saya selesaikan. Berpikir itu baik. Tapi, kalau berlarut-larut main dalam alam pikiran, habis juga waktu disitanya. Sedangkan, ada hal-hal yang mesti dikerjakan segera dan menuntut penyelesaian tepat waktu. Benar bahwa ada tanda-tanda kekuasaan Tuhan saat manusia berpikir. Sebab, salah satu kekuasaan Tuhan adalah ‘mencipta’ yang juga Dia karuniakan kepada manusia melalui ‘daya kreatif’ tujuannya untuk memanusiawikan seorang hamba-Nya dan mengembalikan dirinya pada fitrah insani. Dalam konteks ini, berpikir dikategorikan sebagai tindakan kreatif yang mengarah pada kegiatan nyata ─ berkarya.

Ketika berbicara eksistensi yang ditandai dengan aktivitas berpikir, saya tak ingin mendapat pengalaman tragis. Gara-gara saya berpikir terlalu lama, akhirnya saya terpisah dengan keadaan sebenarnya yang faktual di luar diri sendiri. Akibatnya, saya menjadi lalai untuk menanggapi dengan respon yang cepat.

Sebuah pepatah Yahudi berkata begini:

“Manusia berpikir, Tuhan tertawa.”

Bagaimana bisa Tuhan mencemooh mahluk-Nya yang paling mulia karena saat manusia berpikir, Dia malah terbahak-bahak? Tentu ini diakibatkan oleh semakin lama manusia berpikir maka semakin terpisah dirinya dengan fakta-fakta yang ada di sekitarnya. Ia berpikir berarti menafsirkan dengan menciptakan fakta-fakta tersendiri atas responnya terhadap realita. Akhirnya, ia cenderung terkurung dengan alam pikirannya sendiri. Padahal, Tuhan tak menganjurkan manusia berpikir yang tidak-tidak. Sebab, ini bertentangan dengan tujuan pemberian akal-budi pada manusia yakni untuk memikirkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Sang Penciptanya. Dalam pengertian ini, saya ingin menyajikan bahwa selayaknya seorang individu membumikan hikmah yang sebelumnya tersangkut di lengkung langit. Mendayagunakan rasionalitas untuk mengejawantahkan diri sendiri sebagai ‘Wakil Tuhan’ dimuka bumi. Tidakkah lebih baik memperhatikan betapa dalam sumur yang mengancam di depan mata dan mencoba menghindari diri agar tak terjungkal ke dalamnya saat malam hari, daripada tertarik pada kegiatan meneropong bintang-bintang nun jauh di sana yang mengakibatkan lalai terperosok masuk ke sumur?