Sejarah

Lelaki yang berdiri membatu
Tugu monumen dingin sendu
Terendap rupa-rupa peristiwa yang lengkap
Tersimpan dalam tatap matanya yang sayu

Pernah ada suatu masa penuh daya
Ketika itu suasana seperti fajar yang beranjak,
Mengoyak sisa-sisa sayap kelam yang enggan berpindah
Dan malam kematian bukanlah ancaman.

Jaya dan hangat berkas sinar!

Ada waktu yang luput turut serta bepergian,
Hingga sendirian berdiri di tengah kota, jadi tiang beton dingin menunggu
Kehadiran luka yang mungkin semakin meraja bagi dirinya yang kesepian,
Bersama tatapan sendu menyusun tiap pecahan masa lalu.

Di tangannya selembar catatan.
Daftar jumlah air mata yang terurai
Dilengkapi tujuan tiap bulir itu berderai:

"Beberapa bulir mata menjelma butiran kemilau embun bening mahkota rerumputan genit sehabis cemas diancam hujan petir malam hari!"

Lelaki itu tersenyum.
Lidah hatinya mengecap-ngecap sisa hidangan maha lezat
Ia pulang ke rumahnya yang hangat
Dimana cinta dibagikan begitu saja
Kepada tiap jiwa yang bersahaja.

Tapi, mengapa kini senyum itu terasa kecut?
Ketika kedua bola matanya yang lelah melihat,
Dengan tatapan sekalut kelam hari yang berguruh:

"Beberapa bulir air mata seharga kontrak tanah pekuburan, rumah terakhir tulang yang memutih. Bulir-bulir yang menjadi lautan berbadai, mengombang-ambingkan perahu harapan terpecah diseret hingga tepi pantai pulau tak dikenal."

Lelaki itu terkoyak pisau tajam sang luka.
Ia juga pulang ke rumah,
Namun tersesat oleh semak meninggi
Mengurung diri dalam tumpahan rinai hujan yang merah.

Lelaki yang berdiri membatu
Tugu monumen dingin sendu
Terendap rupa-rupa peristiwa yang lengkap
Tersimpan dalam tatap matanya yang sayu

Ia yang memegang selembar catatan
Berisi pesan tentang sejarah
Bahwa ada bulir-bulir air mata bahagia,
Dan selalu saja berselingan dengan derai air mata duka.