Paradoks Menara


Wahai.. Tinggi nian puncakmu
Hingga paling ujung kepalamu mendongak
Pongah sekali dan hanya mau bercakap-cakap dengan awan.

Wahai.. Kokoh nian tubuhmu
Berkulit beton tebal, berkerangka baja dingin
Dan jari-jari kakimu tanpa sungkan menusuk-nusuk tanah di bawah

Tahukah kau pondasimu tetap saja ada di sini
bersama-sama akar rumput
berebut tempat, mengukuhkan posisi

Sudahkah kau ingat lagi?