Foto Bernapas

FOTO BERNAPAS

FIKSI | 28 October 2011 | 01:13



Siang itu Lia baru saja tiba di rumah. Ia melempar tas sekolahnya ke atas spring bed, lalu merebahkan diri.
”Leganya… Tak kusangka sama sekali, aku bisa menjalankan tugas yang dipercayakan padaku dengan baik,” gumamnya sambil memandang langit-langit kamar.
Ingatan kemudian melayang pada peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu ketika ia ditanyai wali kelasnya, Bu Sri.
”Angelia Kesuma..” panggil guru muda yang penuh perhatian itu padanya, ”Kemari sebentar..” Lia bangkit dari duduknya. Maju ke depan kelas, menuju meja Bu Sri di pojok kanan.

Suasana yang dari tadi ramai dengan celotehan teman-teman sekelasnya, tiba-tiba menjadi hening untuk beberapa saat. Semua mata memandang searah menuju ke diri seorang dara cantik yang kini terlihat agak kurusan itu.
”Kamu sanggup, nak, jadi petugas pembaca naskah untuk upacara peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober?” begitu ia ditanya saat berhadap-hadapan di depan wali kelasnya.

Teman-temannya tampak saling berbisik-bisik. Suara Bu Sri cukup kuat tertangkap telinga-telinga yang memasati di ruangan itu.
”Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugas….”

Belum sempat ia melanjutkan, Bu Sri langsung menanggapinya:

”Tapi, kan, kamu baru sembuh setelah sakit hampir sebulan lamanya. Apa lagi kamu pulih baru semingguan ini. Terus terang Ibu juga bingung mau mempercayakan kepada siapa lagi di antara kalian untuk tugas pembacaan teks Sumpah Pemuda ini. Di dalam kelas yang Ibu pimpin ini, hanya kamu yang bisa membacakan teks yang berisi ikrar para pahlawan dengan penghayatan dan bersuara jernih. Tapi, Ibu cemas juga seandainya kamu nanti pingsan dalam upacara yang waktunya agak lama.” Panjang lebar Ibu Sri memaparkan alasan kekhawatirannya.

Lia terdiam. Ia menunduk. Pandangan matanya mengarah pada keramik lantai kelasnya. Entah datang darimana tiba-tiba ada satu perasaan berani untuk menanggung segala resiko akibat beban tugas yang dipercayakan padanya.
”Ibu…” ujarnya mantap, ”Para pahlawan dulu mau mengorbankan semua yang dimilikinya. Bahkan nyawa pun mereka pertaruhkan demi kemerdekaan dan kejayaan bangsa kita. Saya juga ingin memberikan yang terbaik dalam diri saya untuk bangsa ini, Bu..”

Kini giliran wali kelasnya yang kelu. Ibu guru muda yang penuh perhatian itu terharu mendengar anak didiknya memiliki tekad kuat untuk berbakti pada bangsanya. Mata Bu Sri tampak berkaca-kaca. Namun, ia cepat menguasai diri. Ia tak mau terlihat cengeng di hadapan muridnya yang berhati mulia di hadapannya kini.

”Ibu percaya dengan kamu, Lia… Ibu yakin bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan untuk hambanya yang tulus ikhlas seperti dirimu,” Bu Sri meraih tangan muridnya itu. Ia genggam hangat seolah tengah mengalirkan semangat luar biasa besar untuk menguatkan tekad muridnya.  

“Silakan kamu kembali ke tempat dudukmu…” 

Lia berjalan ke bangkunya. Ada tambahan kekuatan tersendiri kini dalam dirinya. Di dalam hati ia bertekad untuk berusaha sekuat mungkin tahan mengikuti upacara Sumpah Pemuda yang biasanya bisa berlangsung selama hampir satu jam-an lebih itu.

”Ah, sakitku, kau takkan mampu menghalangiku untuk sanggup mengemban tugas mulia ini,” bathinnya menguatkan diri.
Dua bulir bening mengumpul di kedua sudut mata Lia. Ia hanyut akan kenangan peristiwa manis saat Ibu Sri memotivasinya di depan kelas. Seorang wanita muda cantik yang berpengetahuan luas, bercahaya kelembutan hati yang mampu menerangi dan meneduhi jiwa para muridnya. Sebenarnya bisa saja Ibu Sri kerja dengan gaji lebih tinggi dari pendapatannya saat ini.

Ia lulusan Sarjana Pendidikan Jurusan MIPA dari Universitas terkemuka pula. Pernah mendapat penghargaan dari lembaga ilmu pengetahuan atas penelitiannya yang dirangkum dalam tugas akhir kesarjanaan, yang jelas ini membuktikan ketekunannya dalam bidang yang tengah ditekuni. Bukan sarjana pabrikan yang skripsi saja mesti ditulis oleh orang lain, entah itu dengan cara mengupah atau lebih buruk lagi dengan membeli buah pikiran orang lain. Lia menitikkan air mata haru karena bersyukur Tuhan telah begitu baik padanya menganugerahi seorang guru yang berilmu dan juga berhati mulia. Bu Sri seorang guru berdedikasi tinggi. Seorang murid tentunya akan mengambil teladan dari gurunya. Bila guru yang ia ikuti bisa tulus ikhlas mendermakan ilmunya, maka si murid pasti pula akan mengikuti sikap mulia dengan ikhlas memberikan yang terbaik bagi bangsanya.

Inilah yang membakar semangat seorang tunas bangsa Angelia Kesuma berani bercita-cita menjadi sebagai intellektual yang mau mengabdikan semua kelebihan dalam dirinya demi kemajuan Indonesia, bumi tempatnya dilahirkan ini. Ia telah terbakar patriotisme sang guru, dan ia juga sebenarnya membiarkan saja jiwa mudanya tersulut nyala api suci pengabdian Bu Sri, suri tauladannya itu.

”Hmm.. Aku harus mengabadikan kenangan indah ini,” seketika Lia bangkit dari pembaringannya. 


Berjalan ke meja belajar. Ia terlihat membuka laci meja, mengeluarkan sebuah buku diary yang merekam semua peristiwa berkesan sepanjang hidupnya.
Ketika baru saja buku catatan pribadi berornamen gambar bunga-bunga Tulip indah itu mau diambil dari dalam kotak laci, sudut mata Lia menangkap selembar foto usang yang separuh menyembul dari bagian tengah diary.

”Kapan aku menyimpan selembar foto,” agak ragu-ragu ia membuka hard cover diary, ”Foto siapa, ya, ini?”

Ia penasaran. Rasa ingin tahu menggerakkan jemari putih tangan kanannya. Lia mengambilnya. Tapi, ia mendorong pelan selembar kertas foto yang terselip di dalam bagian lembar tengah. Kadang-kadang rasa penasaran memang lebih indah bila telah menemui tempat yang sesuai untuk menyibaknya. Lia kini menahan diri. Ia melangkah menuju tempat tidurnya. Kembali lagi ke meja belajar dan memungut pulpen dari dalam laci yang terlupa dibawa.

Jantungnya berdebar-debar ingin tahu foto siapa gerangan yang telah ia simpan dalam buku diary pribadinya. Seingatnya tak pernah ia menyelipkan foto siapa pun di buku khusus yang selalu menjadi tempat curahan hatinya. 


Ia letakkan buku diary di atas bantal. Memandangi lama dengan kedua alis matanya yang rapi nyaris bertemu. Ia berpikir keras berusaha mengingat-ingat. Hasrat ingin tahunya menggerakkan tangan untuk meraih, tapi sebentar kemudian ia urungkan niatnya.

”Hahh.. Kenapa aku mempermainkan diriku sendiri dengan rasa penasaran ini?!?!”

Tangannya cepat meraih buku diary pribadinya.
Lia tersadar bahwa rasa penasaran hanya bisa terpuaskan dengan melakukan pembuktian langsung.

”Curiosity is the brightest path to trace the truth. It has suggested that we must involve ourselves in it right away.” 


Demikian wejangan Bu Sri yang mengabadi dalam poster tulisan dinding ruangan kelasnya. Lia yang juga sebagai muridnya tentu saja sangat memahami nasehat tersebut.

Ia buang keraguan yang sejenak telah mempermainkannya tadi. Dengan berani ia raih buku diary yang tergeletak di atas bantal bersarung lembut. Ia buka lembar demi lembar perlahan. Sebelum sampai pada tempat foto misterius itu bersemayam di bagian tengah. Lia ingin sedikit terhibur mengenang apa saja yang telah ia tuliskan di dalam diary. Setidaknya untuk mempersiapkan mental menemui kejutan yang menantinya.  

Pandangan matanya kini terfokus pada sederetan aksara: Ujung Oktober Nan Indah. Judul yang ia berikan untuk catatan tentang kenangan indah sewaktu Mama memberinya sebuah boneka Singa Betina yang lucu sebagai hadiah ulang tahunnya ke 15. Saat yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Mama memberi catatan kecil di atas kertas merah muda berbentuk hati bersama hadiah yang ia berikan.

To: Buah hatiku…

Singa Betina cantik yang tak pernah menyerah meraih impian. Seluruh cintaku telah ada di kalbumu, sayang.. Tegarlah untuk menghadapi rintangan dalam meraih masa depanmu.

Selamat Ulang Tahun, wahai Singa Betinaku yang cantik..

Lia tersenyum penuh arti mengenang kata-kata sang bunda. Mama memanggilnya ’Singa Betina’. Alasan Mama karena anak gadisnya punya kekuatan bertahan merawat anak-anak impiannya walaupun dalam kondisi tubuh yang sering sakit-sakitan.

”Oh, Mama… Lia akan cium Mama sepulangnya dari kantor nanti. Lia sayang Mama..” janjinya untuk sang bunda.

Sejenak kelembutan romansa kasih sayang ibunda melenakan dirinya. Lia sedikit terhanyut ke dalam aliran tenang cinta tulus seorang wanita yang telah melahirkannya. 


Walaupun demikian, rasa penasaran untuk menyibak misteri foto yang terselip di bagian tengah buku diary masih berteriak-teriak lantang: Ayolah, lihat siapa sebenarnya aku dalam lembar kertas foto itu.

Kini jemari tangannya cepat membuka lembar demi lembar buku diary. Ia terdorong untuk merobek jaring-jaring yang menjadi selubung bingkai kemisteriusan gambar di bagian lembar tengah buku rekaman pribadinya. 


Beberapa saat berselang, ia terhenyak, memandangi potret diri lusuh yang menantang ingatannya kembali.Gambar seorang lelaki berpeci dengan pin bendera merah-putih jelas terlihat di sana. Lelaki itu tak lain Mbah Surip. Suripto Joyonegoro, demikian nama lengkapnya seperti yang Mama beritahukan padanya dulu. 

Lelaki itu begitu dekat dengan dirinya. Seorang lelaki yang memiliki tempat khusus dalam ruang kalbunya yang senantiasa merindui kehadirannya kembali. Mbah Surip adalah kakeknya yang sangat ia sayangi. Sang kakek pun rupanya ingin pula menumpahkan semua kebahagian di dunia, dipersembahkan kepada cucu perempuan semata wayangnya itu.

Air mata Lia jatuh berderai. Ia raih potret diri sang kakek. Ia benamkan ingatannya pada masa-masa indah saat sang kakek masih hidup. Tak sadar ia mengusap-usap seraut wajah sederhana itu.

”Nduk… ” begitulah panggilan sayang kakeknya, 

”Mbah kemarin ngambil duit pensiun, nih…” seraya mengipas-ngipas lembaran uang si Mbah menggoda seperti biasa. ”Ntar, pas kamu pulang sekolah, biar Mbah aja yang jemput.. Kita jalan-jalan ke pasar, yuk, sayang?! Mbah beliin kamu apa saja yang kamu mau.. Tapi, bilang dulu sama Mamamu, yaa, Nduk? Nanti dia kehilangan..”

Biasanya setelah ia membuat kesepakatan dengan sang kakek, Lia masih teringat pasti ia akan mendesak Mama supaya tak menjemputnya sepulang sekolah. 

Mama hanya mengangguk sambil tersenyum. Paling Mama nanti cuma bilang:

”Bapak sama Lia nanti makan dulu sebelum acara jalan-jalannya, yaa? Kalau nggak mau capek, pulang-pergi biar aku antar pake mobilku, boleh ya, pak?”

”Woalaahh… Itu namanya merusak suasana aja… Emooh, ah, aku nanti mau pake dokar sewaan aja sama cucuku. Kamu nggak usah repot-repot jemput kami..”

Mamanya hanya menelan ludah. Lalu, Lia akan cekikikan melihatnya. Mbah Suripnya, yang mantan pejuang itu berwatak keras. Sekali ia bilang tak mau diganggu acaranya, jangan coba-coba untuk membuktikan keseriusan ucapannya. Pernah dulu sewaktu sang kakek sehabis pulang mengambil uang pensiun, ia terpleset, kaki sebelah kanannya terkilir. Hari kemarin sebelumnya, putrinya sudah bilang akan mengantar bapak kandungnya yang keras hati itu kalau mengambil gaji pensiun. 


Tapi, si bapak malah mencak-mencak merasa kalau putrinya telah menyangka dirinya tak berguna lagi. Seminggu penuh putrinya tak ia tegur. Sang anak pun kelimpungan dibuatnya. Bapaknya tak mau menyenggol hidangan apa pun yang disediakan di meja. Ia lebih memilih ke Warteg yang tak jauh dari kompleks rumah mereka. Itulah yang membuat Mama kapok berdebat sama Mbah Surip yang Lia sayangi.

Ketika bel pulang berdering nyaring, Lia pun buru-buru keluar kelas. Hampir saja ia lupa mencium tangan gurunya. Bayangan jalan-jalan sama sang kakek begitu menggoda. Malah suaranya yang memanggil-manggil lebih lantang terdengar daripada raungan bel pulang. Di gerbang sekolah biasanya mobil-mobil para wali murid memarkir kendaraannya agak jauh dari sebuah kereta kuda yang gagah-berani melintangi. Mbah Surip mencegah mereka menghalangi cucu kesayangannya untuk langsung naik ke dokar sewaan. Biasanya pak Kusir akan senyum-senyum menahan geli akan kelakuan lelaki tua veteran pejuang itu.

”Tuan Putriku sudah pulang… Silakan Tuan Putri naik ke atas Kereta Kencana ini…” begitulah gaya teatrikal Mbah Surip ketika melihat Lia telah muncul di Plaza Sekolah. Lia akan tertawa lepas melihat gayanya ini. 


Lalu, tak lama kemudian setelah ia duduk berhadapan dengan si cucu kesayangan, acara jalan-jalan mereka pun dimulai. Pak Kusir pun mulai melecut kudanya.
”Kenapa pin bendera merah-putih itu selalu nempel di peci Mbah?” lugu Lia bertanya. Membuka jalan kisah indah perjalanan mereka. Siang terik dengan sinar matahari yang garang tak terasa saja. Dokar berjalan santai. Seakan tak ingin memendekkan keping demi keping mosaik lukisan cerita yang menanti untuk dibuka.

”Ada kisahnya ini, Nduk…” jari telunjuk Mbah Surip menempel pada benda kecil di pecinya.

”Ceritain, dong, Mbah…”

”Hmm, darimana, yaa, Mbah mesti mulainya?”

”Dari paling seru aja, Mbah…” saran Lia manja, tapi setengah menuntut.

”Iya, ya,” sahut si kakek manut, ”Mbah akan mulai cerita pas saat-saat yang serunya aja.”

Berhenti sejenak si kakek seperti memanggil ulang memori-memori pilihannya yang terpendam. Lalu, iya memandangi wajah imut cucunya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu.

”Beneran kamu mau dengerin Mbah cerita, Nduk?”

”Aku udah nungguin dari tadi, kok..” rajuk Lia merasa diragukan keseriusannya untuk menyimak kisah lama sang kakek.

”Ya, sudah.. Mbah akan mulai cerita.. Kamu dengerin baek-baek..”

Wajah Lia sumringah seketika. Ia tahu Mbah Surip kesayangannya ini tak mungkin menolak apa pun yang ia minta.

”Waktu itu Mbah masih gagah, lho, Nduk..”

”Wuihhh… Gaya Mbah…”

”Beneran toh.. Lihat nih, masih ganteng, kan?” sambil mengusap rambutnya lelaki yang tanggal 28 Oktober 2000 nanti genap berusia 72 tahun, memamerkan penampilannya. Pak Kusir dokar melempar senyumnya pada tiang listrik yang berpapasan di pinggir jalan.
”Umur Mbah waktu itu 18 tahun.. Mbah diundang para pemuda dari Perkumpulan Pemuda Jawa untuk ikut mengikrarkan janji menggalang persatuan demi memperkuat perjuangan meraih kemerdekaan.”

Rona wajah cucunya berubah serius kini, ”Terus, terus…, Mbah…”

”Yo, wiss.. Mbah ikut… Pergi dari Jogja numpang kereta api ke Jakarta. Kami waktu itu dibagi dalam dua rombongan. Kelompok pertama yang pergi termasuk Mbah Suripmu ini..”
”Siiihhh… Jadi Mbah termasuk orang pilihan dari para semua pemuda Jawa untuk ikut ke Jakarta, ya, Mbah?” Lia pindah duduknya. Ia sekarang menempel dengan lelaki uzur yang rupanya pejuang itu.

”Ya, pastilah… Kalo nggak, mana bisa diutus ke

"Jakarta…” Mbah Surip menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia hembuskan kuat-kuat seolah-olah ingin melepas sesak menghimpit dalam dadanya.

”Saat di perjalanan itu, Nduk… Woalaahhh…. Kamu untung kamu nggak ngalaminya…”

”Ya, pastilah, Mbah… Aku kan nggak lahir zaman itu…”

”Anak pinter…” Mbah Surip tersenyum, ”Kami diberondongi tentara Belanda yang sengaja menghalangi perjalanan para pemuda Jong Java untuk bersatu dengan semua pemuda dari daerah-daerah lain.”

”Mbah, nggak takut waktu itu?”

”Waktu itu, Nduk… Nyawa pun rela para pemuda Jawa korbankan demi persatuan bangsa Indonesia… Kenapa mesti takut? Toh, semua orang kan pasti mati juga.. Tapi, mati dalam berjuang untuk membela tanah air, itu kan lebih mulia, bener toh?”

Lia masih belum paham dengan betapa peliknya arti patriotisme yang sedang sang kakek sampaikan padanya. Siswa kelas 3 SD itu tampak bengong. Namun, ruh semangat perjuangan dan rela berkorban demi nusa bangsa, rupanya terselip tak sengaja mengendap dalam ruang jiwanya yang polos.
”Dulu itu, Nduk…” lanjut Mbah Surip lagi, ”Nyawa boleh melayang demi tanah tumpah darah yang satu. Semua pemuda punya semangat itu. Selembar nyawa bukan hal yang berarti kalo hidup masih dalam penjajahan. Nggak kayak sekarang ini, orang malah saling gontok-gontokan, korupsi, bikin susah rakyat kecil demi menyelamatkan selembar nyawa busuknya, toh?” Tambah dalam dan berbelat-belit si kakek bercerita.

”Semua pemuda di seluruh pelosok Nusantara sadar, mereka dulu sadar kalo berjuang masih sendiri-sendiri, penjajah akan mudah mematahkannya. Makanya, Mbah sama pemuda Jong Java bertekad melawan dan bersatu dalam perjuangan. Desingan peluru kami tantang. Banyak juga temen Mbah yang gugur…”

Kalimat terakhir yang Mbah Surip ucapkan itu terdengar agak tersendat. Suatu kenangan pahit kehilangan rekan-rekan seperjuangan yang telah mendahului, rupanya telah menyumbat suaranya berkisah. Mata Lia tampak berkaca-kaca. Kakeknya menunduk, menatapi lantai kayu dokar.

”Terus, Mbah sampe nggak ke Jakarta?”

”Ya, sampe, Nduk.. Tapi, Mbah nggak bisa hadir ikut mengikrarkan Sumpah Pemuda.. Mbah dilarikan ke Posko Kesehatan Para Pejuang… Paha kanan Mbah ditembus peluru Belanda. Mbah pingsan selama perjalanan. Tahu-tahu sudah terbaring dengan luka tembak di kaki Mbah..”

”Terus.. Mbah tahu nggak kabar teman-teman Mbah yang lainnya lagi?”

”Ada beberapa teman seperjuangan Mbah yang ikut membaca janji persatuan para pemuda itu, toh.. Nduk…”

”Mbah seneng dengernya?”

”Woaaalaahh, Nduk…. Mbah Suripmu ini mendadak sehat pas denger Sumpah Pemuda itu jadi dicetuskan.. Bangganya Mbahmu ini saat itu…”

”Sumpah Pemuda…” tiba-tiba Mbah Surip berkata lantang.

”Kami Putra-Putri Indonesia…

Mengaku… Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Air Indonesia…

Kami Putra-Putri Indonesia…

Mengaku… Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia…
Kami Putra-Putri Indonesia…

Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”

Bulir air mata Mbah Surip tampak mengumpul di ujung kedua matanya. Setelah ia mengucapkan janji persatuan para pemuda itu. Ya, ini bukan sekedar janji yang tak terbukti. Seperti kebanyakan janji yang diucapkan para pemimpin dan wakil rakyat sebelum mereka terpilih. Janji kosong yang membuai rakyatnya sendiri dalam kenelangsaan.
Lia sesunggukkan di kamarnya. Potret diri Mbah Surip yang telah berpulang ke pangkuan-Nya itu menembus ruang benaknya untuk mengenang betapa tulus pengorbanan sang kakek untuk nusa dan bangsa. Dalam keharuannya yang begitu mendalam, Lia yang kini adalah gadis remaja yang cantik hati itu berjanji akan tetap berjuang untuk kemajuan dan meninggikan harkat martabat bangsanya, Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.