Dua Puisi Untuk Negeri

1. KELAK INI MIMPI TERJADI

Memang tak mungkin terjadi:

ketika kepemilikan bukan suatu tuntutan,
saat pengaruh dan kekuasaan bukan lagi tujuan,
atau sudah menjadi lembing patah tak bertuan.

Maka biarlah kami membayangkan:

ketika tiap diri dari kami
sama rata - tak pernah berat hati berbagi
atau sudah terbuka jalan menuju kebersamaan yang dinanti.

Memang tak mungkin terjadi:

ketika cahaya citra jati diri bukan suatu godaan,
pangkat dan pakaian kebesaran bukan lagi kebanggaan,
atau sudah mulai terabaikan karena ingin meraih kesejatian.

Maka biarlah kami membayangkan:

ketika kami semua adalah diri tunggal berada di bawah cerah matahari yang satu,
dan melupakan perbedaan asal, prinsip kaku kami campakkan saat itu,
demi kedamaian untuk setiap jengkal tanah Bumi Pertiwi yang lama dirindu.

Memang ini adalah mimpi diri kami yang resah
hati kami yang gundah,
tapi kami yakin dengan segenap kemampuan: ini mimpi mampu mengejawantah!

2. DAMAI
“Kemarilah.. Jangan kau sungkan padaku..
Untuk sebuah rasa yang lama kunantikan,
dan ini tak mungkin lezat kunikmati tanpamu.”

“Sudahlah.. Buang segala ragu dan prasangkamu yang tak perlu..
Tak akan pernah terlintas dalam hati dan benakku:
menampik kehadiranmu sekasar hardikku pada gusar yang selalu mengganggu.”

“Kilau bersinar dalam adamu yang senantiasa kurindu..
Sisi kalbuku yang muram, padam dalam kejam rajam
sungguh menantikanmu, duhai cahaya kasih usirlah semua temaram.”


FIKSI | 25 October 2011 | 02:03