Dua Puisi Ku

1. Apa Kabarmu, Wahai Engkau Penyair?

Apa kabarmu, wahai engkau penyair?
Masihkah engkau melukis dunia dengan keindahan dan kebijaksanaan,
membantu kebenaran membangun Istana Mewah dengan kubahnya yang meneduhi?

Ambillah ini dengan hati riang, ayolah..
Mentari yang paling terang bersinar juga sendirian,
sebab engkau yang kesepian juga belum menghilang.

Apa kabarmu, wahai engkau penyair?
Masihkah engkau berdiam di gua suci pengasinganmu?
Ini lidah-lidah api yang ingin kupersembahkan untukmu agar dapat menyalakan imajinasimu.
Dan kuberharap semoga dunia mengurangi godaan indrawinya.

Apa kabarmu, wahai engkau penyair?
Terima kasih untuk senantiasa menyemai benih-benih kebenaran.



2. Paradoks Kemajuan

Ketika anak lelakinya sedang terkesima keajaiban ilmu,
seorang ayah menasehatinya:

“Misalkan saja, anakku..

Kecerdasan menciptakan jalan panjang nan terang.
Ia merentang, membuat kaum cendikiawan terilhami
meletakkan garis-garis berwarna perak di awan terkelam.
Mentari khayal yang baru sedang menyinari!

Wahai! Betapa ini impian yang nyata!
Tiap orang berlomba menajamkan mata pisau akal.
bertujuan menghembuskan topan untuk menyingkirkan
neraka yang tepat terjatuh ke Bumi.

Ini kegagalan, Oh, bukan..
Ini hanya kreativitas!
Oh, sayang, kau tak salah tampaknya,
juga kau pun belumlah berubah begitu jenaka!

Bagaimana bisa?

Untuk menganggap kemajuan
sebagai hal yang bermasalah
laksana neraka yang terjatuh atau pun surga isapan jempol
Galaukah kau dengan daya tarik ini?

Kedunguan atau pun kecerdasan selalu beresiko.
Tentu kita berada di dalam keduanya!”


FIKSI | 11 October 2011 | 01:16