Beberapa Puisi

Jangan Kau Memujiku


Jangan kau memujiku..
Menghamburkan kata-kata berbunga
Sedang saat ini kuncup pun masih baru
Dan hendak belajar mekar

Jangan kau memujiku..
Agar jiwa tak melayang
Mengambang, goyang tak berpegang
Tersangkut di lengkung awan gamang
Ah, bukanlah hati ingin mengabaikan
Menganggap ringan semua kata yang terujar
Semata aku selalu sadar
Ini langkah awal, baru kujejakkan

Janganlah kau memujiku..
Agar semua berjalan wajar
Agar hikmah mengalir lancar
Agar mataku terbuka lebar

(17 November 2010 | 13:15)

Aku dan Kata

Sebenarnya aku ini banyak bicara
Menghamburkan kata, menjungkirkan makna
Hingga hambar tiada berasa
Juga menyesaki tempatku berada

Suatu ketika sejawatku berkata

“Carilah dengan kau tentang kebenaran atau kejujuran!
Seribu dusta yang kau ucapkan, maka akan menghanguskannya,”

Serunya berapi-api.

Aku tahu..

Ia ingin membakar kata-kata
Yang begitu kering meranggas
Serupa dahan dan ranting meretas
Saat terpanggang kemarau mengganas

Lalu sejak saat itu..

Aku lebih suka diam
Mungkin karena diam itu emas
Bisa jadi bicara itu perak

Dan aku mulai bertanya-tanya

“Apa gunanya mencurahkan hujan kata-kata yang tawar terasa?
Apa faedahnya menebarkan kata-kata yang menyamarkan mata?”

Maka kini..

Lebih suka aku berkata dalam bentuk tindakan nyata
Dalam ayunan tiap langkah kaki,
Dan sikap membumi dengan kedua mata lebar terbuka

“Ah, kata-kata..
Dapatkah kau terlepas dari jaring dusta?”

(16 November 2010 | 19:26)

Bahasa Kalbu Riak Kotaku


Pengamen bersuara parau
Melagukan diri
Ia yang tak gentar
Dibakar matahari

Di belakangku
Duduk dua orang terpelajar
Mengisi waktu belajar berujar
: Demokrasi dan Penindasan

Dari buram jendela bus
Kulihat orang-orang terlantar
Akrab dengan sebutan ‘Rakyat Jelata’
Tentunya bukan mereka yang jelita

Hidupnya serupa ular!
Berkeliaran dan bertebaran
Di jalanan melata-lata

Mesin bus masih menderu-deru
Menyeru aku di bangku biru
Menyimak bahasa kalbu riak kotaku

(17 November 2010 | 20:18)

Prasangka


Selamat malam
Pekat kelam
Mau kemana engkau kini?
Kembali menyelimuti sepotong hati

Dalam ragu
Engkau genggam
Prasangka penjara akal budi
Padamkan terang cahaya nurani
Neraka menyala, menghanguskan jiwa
: mesra nian kita menggandengnya

(17 November 2010 | 01:06)


Ragu Membatu


: “Pecahkan kosong menjadi satu!”
: “Kosong mengurungmu dalam ketidakpastian..”
: “Bagaimana caranya?”
: “Apa?! Tidak tahu bagaimana?”
: “Dari tadi kau dipusingkan dengan pertanyaan itu.”
: “Apa yang bisa diperbuat, di sana kau berjumpa cara.”
: “Tentunya harus dimulai segera!”
: “Engkau harus berani! Tidakkah masih tersisa sedikit?”
: “Entahlah!”
: “Bah! Itulah sebabnya kau terlalu cepat menyerah!”
: “Lalu kau berikan saja pada mereka yang bukan ahlinya!”
: “Atau kau memang sengaja?!”
: “Bukan seperti itu maksudnya!”
: “Ahh, maksud itu hanya kau sendiri yang tahu!”
: “Hasil perbuatanmu di sana terletak nilai dirimu!”
: “Tahu kau, tahu apa kau?”
: “Aku belum tahu..”
: “Makanya kau mesti cari tahu!”
: “Dari tadi kau belum beranjak juga..”
: “Diam bungkam, terpaku menunggu..”
: “Dan selalu saja hanya menyimak sambil lalu..”
: “Padahal kau ingin mencari tahu!”
: “Semua hal harus kupertimbangkan dulu.. Agar tak salah langkah.
: “Hah?!”
: “Takut kau dengan salah !?”
: “Bukan, bukan takut salah cemasku!”
: “Takut salah lah cemasmu!”
: “Bukan, bukan itu!”
: “Mengapa tak kau mulai menyelesaikannya?”
: “Aku lihat sudah ada yang menanganinya..”
: “Huh! Berdalih pula!”
: “Aku tak boleh mencampuri urusan itu!”
: “Kau ini raja!”
: “Perintah yang kau katakan, tak seorang pun boleh membantah!”
: “Mereka harus lihat wibawa dan ikut titahmu!”
: “Betul itu.. Hanya aku berpikir tentang setiap keputusanku..”
: “Bijaksanakah atau membuat resah? Aku ragu?”
: “Ahh…, bilang saja kau takut salah!”
: “Ya, memang begitu adanya..”
: “Makanya kau mengalah, ya kan?”
: “Karena kau takut salah, ragu membelenggu dirimu.”
: “Keraguan memang milik orang yang takut salah!”
: “Akhirnya selalu kalah!”

(27 November 2010 | 22:35)